Inovasi Gerai Dinar : Tes Kadar Emas Melalui Handphone…!
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 44210

Kami di GeraiDinar memiliki visi yang sangat jelas tentang penggunaan emas secara umum dan Dinar secara khusus – sebagai alat tukar yang adil sepanjang zaman. Emas tidak seharusnya disimpan, tetapi berputar secara cepat untuk mendistribusikan kemakmuran bagi umat manusia di seluruh alam.
Untuk sampai kesana, diperlukan langkah-langkah konkrit dan nyata yang bisa melibatkan seluas mungkin masyarakat. Pengetahuan tentang emas/Dinar baik yang terkait dengan pasarnya, kegunaannya, aturan penggunaannya yang syar’i sampai dengan cara-cara pengetesan keasliannya – harus menjadi pengetahuan yang sifatnya umum – milik publik , bukan hanya milik para pedagang atau para ahli emas.
Bayangkan apa yang terjadi sekarang ketika anggota masyarakat membeli emas di pasar; kebanyakan orang tidak tahu tentang kadar emas yang dibelinya, dengan demikian juga tidak tahu berapa harga yang wajar untuk emas tersebut – yang sesuai kadarnya.
Untuk inilah kami tidak henti-hentinya berusaha memperkenalkan cara atau alat yang dapat semudah mungkin digunakan oleh masyarakat yang awam sekalipun, untuk dapat mengetahui dengan cukup akurat – kadar emas yang dibelinya sehingga juga tahu harga yang wajar untuk emas tersebut. Insyallah melalui alat ini, perdagangan emas yang adil berdasarkan dengan kesetaraan pengetahuan antara penjual dan pembeli akan bisa terwujud.
Setelah dalam dua tulisan sebelumnya tentang Tes Keaslian Dinar dan Cara Mudah Uji Kadar Emas , melalui tulisan ini kami perkenalkan inovasi Gerai Dinar terbaru berupa Kalkulator Emas yang dapat menghitung kadar karat emas secara sangat akurat.
Demo Penggunaan Kalkulator Emas
- Details
- Category: Dinar/Emas
- Hits: 7023

Melalui serangkaian artikel tanggal 1 Nov ; 3 Nov dan 5 November 2009, saya telah memperkenalkan cara yang mudah untuk melakukan tes keaslian Dinar dan kemurnian emas.
Karena masih ada juga yang kurang jelas bagaimana melakukannya sendiri di rumah, maka pada kesempatan ini saya sampaikan demo animasi untuk memperjelas artikel-artikel tersebut diatas.
Dengan adanya cara mudah untuk mengetes keaslian Dinar dan kemurnian emas ini, diharapkan ada kesetaraan informasi antara penjual dan pembeli emas/Dinar. Lebih lanjut diharapkan melalui kesetaraan informasi ini pula perdagangan yang adil dapat tercapai, serta masyarakat pengguna emas/Dinar dapat lebih comfortable dengan emas dan Dinarnya.
Selamat menikmati demo ini dengan klik gambar disamping….
Pelajaran Dari Krisis Dubai & Century…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 6732

Akhir pekan lalu bersamaan dengan umat Islam di seluruh dunia merayakan Iedhul Adha dan masyarakat Amerika merayakan Thanksgiving Day – masyarakat financial diresahkan oleh kabar Technical Default-nya Dubai World semacam BUMN-nya Dubai.
Mengapa kegagalan sebuah ‘BUMN’ investasi semacam Dubai World (tidak ada hubungannya dengan Dinar World yang kita miliki !) bisa membuat pasar seluruh dunia panik ?, size atau ukuran yang jadi masalah. Dubai World memiliki potensi gagal bayar terhadap hutang yang nilainya mencapai US$ 60 Milyar – atau hampir sama besar dengan cadangan devisa negara kita !.
Bayangkan bila Dubai World benar-benar tidak bisa membayar hutangnya pada bank-bank besar dunia ? seluruh perbankan dunia bisa jadi kena getahnya – karena system financial dunia yang terkait satu sama lain.
Mirip dengan kisruh bank Century di Indonesia – yang dengan alasan Dampak Sistemik-nya ; bank sentral United Arab Emirates di hari Ahad kemarin memutuskan untuk menolong Dubai World dengan fasilitas darurat khusus sehingga ketika semua pasar modal dan pasar uang seluruh dunia buka hari Senin kemarin – krisis Dubai World nampak sudah terselesaikan.
Waktunya Dinar Mendorong Investasi Sektor Riil Yang Adil…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 10031

Banyak orang beranggapan bahwa Dinar atau emas adalah bukan alat investasi; alasannya adalah membeli Dinar atau emas tidak membuat Dinar atau emas tersebut bisa tumbuh atau bertambah dengan sendirinya.
Pendapat ini benar adanya bila sudut pandang atau satuan (unit of account) yang kita pakai adalah Dinar atau emas itu sendiri. Kalau saya membeli 1 Dinar dan saya simpan saja - Dinar ini tetap satu Dinar sampai kapan-pun, maka dengan hitungan Dinar - dia bukan investasi.
Sebaliknya bila satuan yang kita pakai adalah Rupiah atau mata uang kertas lainnya; 1 Dinar yang saya beli akhir 2006 harganya hanya Rp 750,000,- ; sekarang harganya telah mencapai Rp 1,5 juta. Maka dengan satuan Rupiah, bagaimana mungkin nilai yang tumbuh seratus persen dalam 3 tahun tersebut tidak bisa dikatakan sebagai investasi ?. Lha wong deposito yang tumbuh seperlimanya dari Dinar ini saja dalam tiga tahun terakhir sudah bisa dikatakan sebagai instrumen investasi kok ?.
Meskipun dengan satuan Rupiah kenaikan nilai Dinar begitu tinggi dalam beberapa tahun terakhir ; bukan ini tujuan utama pengadaan Dinar di masyarakat. Dinar bukan hanya untuk disimpan, tetapi Dinar harus dapat menggerakkan sektor riil yang sesungguhnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi ?, perhatikan grafik diatas untuk solusinya.
Bila Anda ingin memodali saudara Anda untuk usaha dalam waktu yang lama, dapatkah Anda lakukan dengan Adil menggunakan uang kertas Rupiah misalnya ?.
Swasembada Daging Nasional Dari Kambing, Mengapa Tidak…?
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 13251
Dalam tulisan saya tanggal 17 Maret 2009 lalu dengan judul Dicari : Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10 % saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini ?, Wa Allahu A’lam – Departemen pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.
Dalam tulisan saya tanggal 17 Maret 2009 lalu dengan judul Dicari : Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10 % saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini ?, Wa Allahu A’lam – Departemen pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.
Ketergantungan kita pada daging impor selama ini, bisa jadi karena persepsi yang terbangun selama ini di masyarakat adalah bahwa daging sapi-lah yang paling aman. Karena pertumbuhan peternakan sapi membutuhkan modal yang besar, dan tingkat kelahiran anak sapi yang relatif rendah – membuat upaya mengejar kebutuhan daging secara nasional ini menjadi berat.
Sebenarnya ada sumber daging lain yang tidak kalah menariknya dari daging sapi, yaitu daging kambing. Hanya daging kambing ini selama ini sering dipersepsikan sebagai daging yang berbahaya bagi kesehatan, seperti koleterol tinggi dan lain sebagainya sehingga banyak dihindari.
Hal inilah yang harus diluruskan oleh pihak-pihak yang terkait di negeri ini, dengan riset yang memadai, penyuluhan ke masyarakat dlsb. Di Amerika misalnya, United State Department of Agriculture (USDA) telah mempublikasikan kajiannya sepertti dalam table diatas.
Dari table diatas kita tahu bahwa dari kajian mereka ini, ternyata stiap berat yang sama daging kambing mengandung lebih sedikit lemak, lemak jenuh dan kolesterol dibandingkan dengan daging sapi dan bahkan lebih rendah juga dari daging ayam !.
Apakah daging kambing, sapi dan ayam di Indonesia berbeda dari yang di Amerika ?, perlu diteliti lebih detil – tetapi dugaan saya sendiri mestinya tidak jauh berbeda. Asumsinya data dari USDA tersebut memang benar; bukankah ini peluang besar bagi negeri ini untuk bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan dagingnya dari dalam negeri sendiri ?.
Kambing lebih mudah diproduksi secara masal, karena untuk beternak kambing tidak dibutuhkan modal yang besar. Kemudian kecepatan pertumbuhannya yang mencapai 3/2 ( tiga kali beranak dalam dua tahun) insyallah akan semakin memudahkan pencapaian pemenuhan kebutuhan daging nasional ini.
Efek ekonominya akan luar biasa bagi bangsa ini; pertama kita tidak akan lagi menghambur-hamburkan devisa setiap tahunnya untuk mengimpor kebutuhan daging nasional; kedua akan ada penyebaran kesejahteraan yang meluas ke masyarakat – asal mau saja – masyarakat kita pasti bisa pelihara kambing !.
Lagi pula memelihara (menggembala) kambing ini juga profesi para nabi sebelum mereka menjadi nabi; pasti banyak pesan yang terkandung didalamnya – yang barangkali belum semuanya bisa kita pahami, tetapi sedikit-demi sedikit pesan tersebut terkuak bila kita terjun kedalamnya.
Bagi masyarakat yang ingin belajar perkambingan ini, kami menyediakan fasilitas di lokasi Pesantren Wirausaha kami yang juga secara berkelakar kita sebut sebagai Center of Kambingnomics – di Jonggol, Bogor. Belajar perkambingan di tempat ini adalah gratis dan Anda bisa membawa anak-anak sambil berlibur…; bagi yang datang dari luar kota tersedia penginapan – hanya harus kontak kami sebelumnya agar tidak bentrok dengan jadwal rombongan lain yang kemungkinan menggunakan fasilitas yang sama.
Semoga dengan langkah kecil ini, kita bisa berkontribusi dalam mengerem kebutuhan impor daging nasional sekaligus juga menyebar luaskan kemakmuran ke masyarakat – Hal jazaa ul’ ihsaani illal ihsaan.