Financial Freedom : Sudahkah Kita Merdeka…?
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 7031

Hari ini adalah tanggal 17 agustus 2009, 64 tahun sejak Indonesia merdeka. Seluruh negeri hiruk pikuk dengan perbagai peringatan, rumah-rumah dan kantor-kantor berhias, anak-anak ceria dengan berbagai lomba. Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah benar-benar merdeka ?, oke kemerdekaan ini terlalu luas maknanya kalau kita mau tulis semua, maka yang relevan dengan tema sentral situs ini adalah keuangan – maka pertanyaannya saya persempit : sudahkah kita merdeka dari sisi financial ?.
Pertama yang akan saya jadikan tolok ukur kemerdekaan adalah definisi kemerdekaan yang terlontar dari seorang prajurit Islam – Rub’i bin Amir - ketika berhadapan dengan panglima Persia – Rustum : " Sungguh Allah mengutus kami, agar kami memerdekakan manusia dari mengabdikan diri pada sesama manusia kepada mengabdikan diri kepada Allah, dari kezaliman agama (diluar Islam) kepada keadilan Islam dan dari kesempitan dunia kepada keluasan dunia dan akhirat."
Hanya diri kita sendiri yang tahu, ketika kita bekerja untuk menafkahi diri kita dan keluarga – apakah kita terpaksa ‘mengabdi’-kan diri pada tempat kerja kita – atau kita tetap teguh hanya mengabdikan diri kepada Allah semata. Insyaallah kita hanya mengabdikan diri kepada Allah semata bila segala perintah dan laranganNya kita patuhi, sebaliknya kita me’-ngabdi-’kan diri pada pekerjaan kita bila yang kita ikuti adalah perintah dan larangan tempat kita bekerja.
Bila keduanya berjalan seiring, ini yang kita harapkan semua. Namun tes-nya justru terjadi ketika keduanya tidak berjalan seiring – mana yang kita pilih itulah focus pengadian kita. Berikut adalah tes sederhana yang bisa Kita pakai untuk muhasabah kepada siapa kita mengabdi :
Demi Masa, Sesungguhnya Manusia Itu Benar-Benar Berada Dalam Kerugian…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 9839

Dua puluh empat tahun setelah saya di wisuda, hari ini saya mengantarkan putri sulung saya wisuda. Waktu terasa berjalan begitu cepat sehingga dua puluh empat tahun berlalu begitu saja.
Di tengah hiruk pikuk suasana wisuda Universitas Gajah Mada yang hari ini berhasil mewisuda lebih dari 1500 orang, di tengah suasana gembira orang tua-orang tua yang terharu melihat buah hatinya berhasil memperoleh gelar sarjana, tidak tahu mengapa keharuan saya membuat saya merenungkan peringatan dalam surat Al-Ashr.
Sama dengan para sarjana baru yang diwisuda tadi pagi; dahulu saya bersama ribuan wisudawan yang lain – di tempat dan waktu yang lain – juga telah berjanji untuk berbakti pada negeri ini; kini setelah dua puluh empat tahun berlalu, sudahkah janji-janji tersebut kita tepati….?
Kalau sebagian saja dari ratusan ribu atau bahkan jutaan sarjana yang lahir di negeri ini berbakti secara sungguh-sungguh pada negerinya, mestinya kita sudah hidup dalam serba kecukupan dan kemakmuran.
‘Pesantren Wirausaha’ : Training, Coaching & Mentoring Untuk Menghasilkan Qowiyyun Amin…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 5618
Tulisan ini untuk menjawab banyaknya minat dan pertanyaan dari tulisan dua hari lalu 27/08/09 tentang Wirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah. Berrikut adalah jawaban-jawaban kami atas beberapa pertanyaan yang umum :
Seperti apa program ini sesungguhnya ?.
Program ini idenya adalah untuk melahirkan para wirausahawan yang memenuhi criteria Qowiyyun Amin - professional dibidangnya dan sangat bisa dipercaya. Karena orang yang bisa dipercaya menurut hemat kami akan lahir dari orang-orang yang beriman kepada Allah (dia akan merasa diawasi terus sepanjang waktu oleh Allah) dan hari akhir (dia harus pertanggung jawabkan setiap perbuatannya sampai akhirat), maka program yang tepat salah satunya mesti menanamkan keimanan ini juga.
Oleh karenanya program ini kita buat semacam ‘Pesantren Wirausaha’ yang inti di dalamnya adalah kombinasi antara program Training, Coaching dan Mentoring pada dua bidang sekaligus yaitu menguatkan aqidah dan membangun kompetensi muamalah. Program Training adalah untuk membekali para peserta dengan pengetahuan dan ketrampilan yang cukup mengenai jenis usaha yang akan digelutinya.
Wirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah …
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 10347
Hadits yang sangat popular selama bulan puasa ini adalah sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :
“Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun". (Hadits Riwayat Ahmad 4/144,115,116, 5/192 Tirmidzi 804, Ibnu Majah 1746, Ibnu Hiban 895, dishahihkan oleh Tirmidzi).
Sayangnya kebanyakan kita memahami dan mengamalkan hadits ini secara tekstual semata, ‘ memberi makan orang berbuka puasa’ tanpa berusaha memahami pesan mulia yang terkandung didalamnya. Tentu saja sangat baik kita berame-rame memberi makanan berbuka puasa di masjid-masjid, di panti-panti dan di masyarakat sekitar kita. Namun ini saja tidak cukup, perintah ‘memberi makan’ ini berlaku sepanjang waktu baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.
Dalam tulisan saya tanggal 21 Juni 2009 tentang Dialog Penghuni Surga Dengan Penghuni Neraka misalnya, disitu saya jelaskan salah satu penyebab seorang berada di neraka saqar adalah dahulunya tidak memberi makan orang miskin !.(QS 74 : 39 -44).
Tidak Ada Balasan Untuk Kebaikan Selain Kebaikan Pula…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 8613

Kalau saja iman seseorang bisa diukur dengan suatu alat ukur yang singkatnya sebut saja Imanmeter, maka mungkin ayat disamping yang artinya “tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula” (QS Ar-Rahman 60) bisa menjadi salah satu indicator-nya. Ada salah satu guru saya dulu mengajarkan iman itu seperti angin, tidak bisa dilihat tetapi keberadaannya bisa kita rasakan. Mumpung ini bulan puasa - bulan kebaikan – saya ingin mengajak pembaca untuk merasakan atau bahkan ‘mengukur’ keberadaan iman kita masing-masing.
Salah satu rukun iman, kita sudah belajar sejak kecil dahulu adalah percaya kepada kitab-kitabNya. Kita juga belajar bahwa iman itu diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati dan diamalkan sebagai perbuatan. Nah yang terakhir ini yang akan kita gunakan sebagai indicator untuk imanmeter kita kali ini.
Keimanan kita kepada Al-Quran seharusnya membuat hati kita yakin bahwa janji-janji Allah yang kita baca (ucapkan) dari Al-Qur’an tersebut pasti benarnya. Selain sudah terbukti dalam berbagai bidang keilmuan, ada setidaknya 13 tempat dalam Al-Qur’an yang memang menyebutkan “…sungguh janji Allah itu benar…”.
Kalau kita sudah baca/ucapkan dan kita yakini kebenarannya, sekarang tinggal membuktikannya dengan perbuatan. Logikanya, kalau kita hanya ucapkan dan yakini tetapi tidak kita amalkan dalam perbuatan, maka kemungkinan besarnya iman itu tidak sempurna di diri kita atau jangan-jangan memang tidak ada…naudzubillahi min dzalik.
Dalam ayat yang saya sebutkan diatas Allah menjanjikan bahwa “tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula”, kalau keimanan itu ada di diri kita - setelah kita baca bahwa ada ayat tersebut di Al-Qur’an, kemudian juga kita yakini bahwa janji tersebut pasti benar , maka kemudian pasti kitapun akan mengamalkannya dengan banyak-banyak berbuat kebaikan.