Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed
Keseimbangan Yang Berkelanjutan
 
Alam semesta ini konon sudah berusia sekitar 14 Milyar tahun dihitung dari peristiwa The Big Bang, dan ukurannya sejauh 93 Milyar tahun cahaya. Namun alam yang sudah sangat tua dan sangat besar ini keberlanjutannya bisa diganggu atau dirusak oleh makhluk yang sangat kecil dengan usia yag sangat pendek - itulah manusia.
Maka Sang Pencipta kita berpesan " Jangan dirusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan keadilan..." (QS 55:8-9). Kok bisa manusia menggoncang keseimbangan alam? Itulah yang dengan mudah sekarang bisa kita pahami, menurut NASA-pun posisi kutub bumi telah bergeser, putaran bumi menjadi oglek - seperti putaran gasing menjelang berhenti berputar. Apa penyebabnya? yang sering kita kambing hitamkan adalah emisi CO2 yang tidak terkendali.
The Color of MSW- Fuels
 
Kalau sampai krisis energi ini mengenai kita, pasti karena kesalahan kita sendiri. Mengapa demikian? Setiap yang tumbuh diantara langit dan bumi, baik tanaman maupun hewan - terbangun antara lain dari unsur hydrocarbon. Kalau kita bisa mengambil hydrocarbon tersebut - itulah yang sejatinya masih kita impor sangat mahal selama ini - yaitu hydrocarbon dari fossil yang bernama minyak bumi.
Perspektif : CO2 Sebagai Sumber Energi Baru
 
Lonjakan harga bahan bakar dan subsidi energi di seluruh dunia sangat bisa jadi karena kita salah persepsi tentang sumber energi dasar itu, akibatnya kita salah bertindak dalam memakmurkan bumi ini. Bumi kita rusak padahal tugas kita seharusnya memperbaikinya. Perhatikan pelajaran biologi kita sejak sekolah dasar yang saya tampilkan kembali dalam ilustrasi di bawah.
Untuk memproduksi energi, bahan baku utamanya adalah CO2 dan air. Melalui bantuan sinar matahari keduanya diubah menjadi karbohidrat dan oksigen, Oksigennya kita hirup untuk pernafasan kita, karbohidratnya adalah energi dasar. Perhatikan rumusnya C6H12O6, bila dimakan dia langsung menjadi energi untuk tubuh kita.
Tetapi karena terangkai panjang dan kompleks dalam struktur tanaman yang disebut selulosa, lignoselulosa dlsb, tidak semuanya bisa di makan. Bahkan sebagian besar hasil fotosistesis ini memang tidak untuk kita makan. Untuk apa? Itulah dia menjadi energi dalam bahasa yang lebih luas.

Local Fuel Untuk Ketahanan Energi
 
Bagi Anda yang aka mengisi BBM di SPBU hari-hari, Anda siap-siap dikejutkan dengan lonjakan harga BBM non-subsidi Anda - tetap harus bersyukur karena BBM masih ada untuk dibeli. Beban bagi teman-teman pelaku industri dan yang berada di proyek remote area, selain mahal juga tidak selalu ada.
Kedepannya-pun juga tidak bisa diharapkan menjadi lebih mudah, selain karena cadangan minyak dunia yang terus menyusut, krisis seperti Rusia - Ukraina, China - Taiwan dan sejenisnya bisa terjadi setiap saat. Kita yang tidak tahu menahu tentang krisis inipun ikut kena getahnya, kenaikan harga dan bahkan kelangkaan BBM yang ikut dipicu oleh krisis-krisis semacam ini.

Affordable and Clean Energy Champions
 
Beratnya beban subsidi energi itu hari-hari ini semakin nyaring terdengar di telinga kita melalui suara orang-orang yang paling berwenang menyampaikannya di negeri ini - yaitu Presiden dan Menteri Keuangan. Konon menurut beliau-beliau subsidi energi untuk tahun ini akan mencapai lebih dari Rp 500 trilyun.
Bahkan Presiden juga mengisyaratkan kalau tidak ada yang akan mampu menanggung beban subsidi yang membengkak sedemikian besar ini. Artinya apa setelah itu ? Masyarakat harus mulai berfikir serius - what if tidak ada lagi subsidi!