Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed
Pasukan Penjaga Kebersihan
 
Setelah sketsa yang saya buat untuk WTC (Waste To Charcoal) Mobile Unit akhir pekan lalu https://lnkd.in/gy_5-W53 , muncul perbagai ide aplikasinya dari sejumlah kalangan. Diantaranya adalah ide untuk memanfaatkannya untuk membangun Pasukan Penjaga Kebersihan (PPK) yang tangguh dan yang paling penting solutif.
Alhamdulillah, Kita Menang!
 
 
Apa hasilnya kalau inovasi-inovasi yang sering saya unggah di social media ini diuji oleh para ahlinya dari segala aspek? Niatan untuk 'test the water' inilah yang mendorong kami untuk menyertakan salah satu inovasi kami di acara ASEAN Climate Impact Innovation Challenge.
Melalui startup AfterOil, yang kami ikutkan dalam challenge ini adalah konsep Ecogas - Gas On Demand yang sering saya share sejak beberapa bulan lalu, antara lain melalui unggahan yang ini : https://lnkd.in/gqiMmasj
Introducing New Green Energy Commodity : Fueldust
 
Di dunia energi baru terbarukan (EBT) dunia sudah mengenal apa yang disebut sawdust atau serbuk gergaji, limbah penggergajian kayu yang bisa dijadikan pellet untuk bahan bakar pembangkit listrik maupun kompor biomassa. Masalahnya siapapun yang sudah menggunakan sawdust ini pasti mengalami masalah yang sama, supply-nya yang tidak menentu dan tentu berdampak pada harga.
Maka kami perkenalkan komoditi penggantinya yang baru yang kami sebut fueldust atau serbuk bahan bakar. Bedanya dengan sawdust, fueldust bisa dari bahan apa saja, mulai dari limbah pertanian, perkebunan maupun kehutanan, termasuk tentu saja sawdust dan limbah perkotaan.
 
Yang menarik adalah produksi fueldust ini bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki akses terhadap bahan-bahan tersebut di atas. Untuk memproduksi fueldust juga gampang, hanya perlu satu mesin yang saya sajikan di foto ujung kiri - itulah mesin biomass duster atau penyerbuk biomass.
Lantas bagaimana menggunakan fueldust ini untuk energi?, meskipun digunakan langsung juga bisa sebagaimana biomass biasa, yang kami rekomendasikan agar produknya bernilai tinggi - adalah dengan memprosesnya melalui mesin fast pyrolysis untuk menjadi bio-oil. Fueldust memang dirancang siap untuk langsung dicemplungkan ke mesin fast pyrolysis yang kami rancang.

Man and Machine

Kebahagiaan seorang tukang insinyur adalah ketika dia bisa mewujudkan mesin rancangannya menjadi kenyataan, dan inilah mesin yang sangat basic di dunia Advanced Renewable - yang secara harfiah hingga nut and bolt-nya saya rancang sendiri. Apa fungsi mesin ini ?

Prinsipnya dia adalah mesin fast pyrolysis, mesin utuk konversi energi biomassa yang paling hulu, merubah biomassa apapun menjadi bio-oil. Dengan sedikit modifikasi dalaman reaktor, arah hembusan angin dan suhu kerjanya - dia juga bisa dirubah menjadi mesin gasifikasi, merubah biomassa menjadi synthethic gas (syngas).

Baik bio-oil maupun syngas adalah feedstocks universal yang bisa diolah di industri yang lebih hilir untuk menjadi Advanced Biofuels apapun yang dibutuhkan pasar, seperti green diesel, sustainable aviation fuels (SAF), bio-gasoline, maupun bio-LPG. Semua jenis bahan bakar yang dihasilkan ini bersifat drop-in biofuels, artinya bisa digunakan di mesin-mesin yang ada sekarang tanpa perlu modifikasi sedikit-pun.

Circular Energy Economy

Salah satu kendala kita dalam menghadirkan energi bersih yang terjangkau adalah pencarian energi baru terbarukan yang tidak terintegrasi. Untuk listrik kita mencari biomassa murah - yang tentu tidak mudah di dapat dan tidak terjamin supply-nya, sedangkan untuk bahan bakar kita cari dari minyak nabati - yang masih berebut dengan pangan dan sudah mahal.

Padahal kalau pengadaan listrik dan bahan bakar yang hijau itu disatukan, keduanya akan memperoleh bahan baku yang murah - karena cost-nya di-share, alam kita juga akan lebih lestari karena sumberdaya yang ada dipakai secara sirkular.

Saya ambilkan contoh biomassa yang digunakan untuk menghasilkan listrik, setiap 1 kg biomassa dengan kandungan energi rata-rata 15 MJ, seharusnya memiliki potensi untuk menjadi 4.17 kWh listrik , namun karena rata-rata efisiensi konversi biomassa ke listrik tidak sampai 30%, maka yang menjadi listrik hanya sekitar 1 kWh saja. Akibatnya listrik dari biomassa akan cenderung mahal, dan tidak menarik bagi produsen biomassa-nya.