Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Opportunity In Low Cost Sustainable Aviation Fuels (LCSAF)

Setelah saya mengunggah Sustainable Aviation Fuels (SAF) dari minyak kelapa kemarin, ada dua kekhawatiran yang muncul. Pertama adalah sustainability dari supply kelapa itu sendiri - yang bisa jadi tidak cukup bila permintaan SAF melonjak. Yang kedua dari aspek harga, pastinya SAF akan cenderung lebih mahal dari petroleum aviation fuels yang ada - karena minyak kelapanya yang sudah mahal.

Maka solusi ini insyaAllah bisa mengatasi dua hal tersebut di atas sekaligus, yaitu sumber bahan baku yang melimpah dan yang kedua adalah produk akhir berupa SAF yang bahkan bisa lebih murah dari aviation fuels yang dari fosil.

Dari 4 komponen yang dibutuhkan untuk meramu aviation fuels, tiga diantaranya bisa diproses dari sampah perkotaan dan limbah pertanian - keduanya melimpah tiada habisnya di Indonesia. Tiga komponen tersebut yang pertama adalah iso-alkanes yang bisa diproses dari unsur furans yang ada di bio-oils - yaitu minyak yang dahasilkan melalui proses fast pyrolysis sampah atau limbah dengan menggunakan reaktor Esse.

Introducing Sustainable Aviation Fuel (SAF)

Dalam 30 tahun mendatang kebutuhan bahan bakar pesawat dunia akan melonjak lebih dari 100%, dari sekarang di kisaran 106 milyar galon menjadi 230 milyar galon (2050). Bila tidak ada upaya dari sekarang, pada tahun Net-Zero emisi dari dunia penerbangan akan menjadi penghalang utama bagi setiap negara untuk pencapian target Net-Zero masing-masing.

Maka dalam beberapa tahun terakhir industri penerbangan dunia berburu apa yang disebut Sustainable Aviation Fuel (SAF), yaitu pengganti bahan bakar pesawat yang ramah ingkungan dan sedapat mungkin carbon neutral. Yang jarang disadari adalah apa yang diburu oleh dunia tersebut, tersedia melimpah di negeri ini - nyaris tanpa perhatian dari stakeholder yang terkait.

Perhatikan spesifikasi dalam grafik di bawah untuk SAF ini, dua grafik di tengah adalah komposisi SAF dan panjang rantai karbon yang dibutuhkan. Perhatikan pada grafik di ujung kanan adalah komposisi minyak kelapa. Dari sini kita tahu bahwa SAF yang diburu dunia itu kandidat terbaiknya adalah minyak kelapa!

Sekitar 75% bahan baku SAF bisa diambil dari minyak kelapa, selebihnya sampai 25% yaitu rantai aromatics hydrocarbon lebih melimpah lagi di Indonesia - karena bisa diambil dari bio-oil yang diolah dari sampah atau limbah mengggunakan Esse Reactor, yang kemudian diupgrade dengan Fuzzy Logic Reactor yang juga kita buat untuk menjadi rantai bio-hydrocarbon yang sesuai.

Baik kelapa maupun limbah pertanian atau sampah perkotaan adalah hal yang sangat melimpah di negeri ini, maka inilah peluang terbesar NKRI ini untuk memimpin dunia penerbangan yang ramah lingkungan. Di sisi lain ini juga bisa menjadi harapan besar bagi para petani kelapa - agar kelapanya dihargai semestinya dan proses nilai tambahnya bisa dilakukan sepenuhnya di dalam negeri. Dari crude coconut oil (CCO) yang saya tampilkan dalam unggahan saya dua hari lalu, hanya perlu waktu 3 jam untuk menjadi SAF yang saya sajikan di gambar bawah paling kiri.

Di sisi lain, ini juga menjadi peluang untuk menjadikan kota-kota kita menjadi kota-kota yang amat sangat bersih karena setiap sampah bisa diolah menjadi bahan pendamping SAF yang sangat berharga ini. Bersih kotaku, bersih udaraku dan bersih hatiku, insyaAllah.

Energi Bersih Diantara Kotoran dan Sampah

Pelajaran dariNya itu datang dalam bentuk ayat yang sangat indah : "Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya" (QS 16:66).

Memang ayat ini bercerita tentang susu, tetapi juga menekankan pelanjaran yang ada di dalamnya, bagaimana dari pakan berproses di dalam perut ternak untuk sebagian menjadi kotoran, sebagian menjadi darah dan sebagian lagi menjadi susu - tidak ada percampuran diantaranya. Kotoran dibuang sebagai limbah, darah untuk kehidupan ternak itu sendiri, sedangkan susunya sebagian untuk anak ternak tersebut dan sebagiannya untuk manusia.

Bagaimana kalau konsep yang sama kita gunakan sebagai pelajaran dalam mengolah sampah-sampah kita untuk menghasilkan energi bersih yang carbon neutral? Tidak sesusah yang dibayangkan kebanyakan para birokrat - sedemikian susahnya sehingga mayoritas kota-kota Indonesia masih tenggelam dalam lautan sampah. Untuk perencanaan saja perlu lebih dari satu masa jabatan kepala daerah, ketika pejabat berganti mulai lagi dari perencanaan awal, lantas aplikasinya kapan? Maka sampah diwariskan dari satu pejabat ke pejabat berikutnya dengan tingkat keparahan yang terus meningkat.

Penampakan Crude Coconut Oil (CCO)

Harga kelapa lagi murah, banyak kopra sampai jamuran di masyarakat dan belum terolah secara proper. Maka saya penasaran, coba saya olah jadi Crude Coconut Oil (CCO) - kopra-kopra hitam tersebut jadinya seperti yang saya pegang ini. Per kilogram kopra kering menjadi sekitar 500 ml CCO.

Lantas untuk apa kira-kira yang cocok ? Tentu yang paling mudah di-refined, bleached and deodorized (RBD) menjadi minyak goreng kelapa, sebagai alternatif minyak goreng kelapa sawit yang ada.

Tetapi dengan sentuhan teknologi akan memiliki pasar yang lebih luas. Dari CCO ini 15% -nya bisa dijadikan MCT (Medium Chain Triglyceride) makanan sehat masa depan. Sekitar 65%-nya cocuk untuk Bio-jet atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang sekarang lagi diburu industri penerbangan global. Dan sisanya lagi masing-masing berimbang di kisaran 10% untuk drop-in bio-gasoline (G100) dan green - diesel (D100), keduanya untuk menambah pilihan green fuel bagi masyarakat yang sudah membutuhkannya.

Banyak cara untuk menolong petni kalau ada kemauan yang kuat dari para stakeholder untuk mencapai 3 sehat, yaitu sehat ekonomi, sehat jasmani dan sehat lingkungan - zero emission society.

Low Cost Carbon Neutral Biofuels

Dalam situasi status quo pengelolaan energy dunia saat ini, semua pihak rugi. Rakyat teriak BBM mahal dan tidak selalu ada di seluruh wilayah, pemerintah terus bertambah berat beban subsidinya, perusahaan pengelola BBM didera kerugian yang membengkak, para aktivis lingkungan terus berteriak turunkan emisi. Siapa yang untung dalam situasi seperti ini? Secara formal tidak ada, secara informal wa Allahu a'lam.

Padahal ada cara lain untuk memproduksi bahan bakar yang berbiaya murah dan carbon neutral. Memang perlu berfikir keras untuk hal ini dan perlu biaya R&D yang tidak sedikit, tetapi sebagian besar pemikiran dan R&D inipun sudah kita lakukan, tinggal terus menyempurnakannya dari waktu ke waktu.

Secara garis besar proses untuk menghadirkan bahan bakar yang murah dan ramah lingkungan ini dapat dilihat pada ilustrasi di bawah. Pertama bahan baku yang diolah harus sangat murah atau bahkan gratis, untuk ini yang melimpah di perkotaan adalah sampah dan yang di pedesaan limbah pertanian. Sampah atau limbah ini rata-rata mengandung hydrocarbon lebih dari 50% dari berat keringnya, dan mengandung energi di kisaran 13 sampai 20 MJ/kg.