Business Success = Love , Art & Support
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 6252

Judul tulisan ini saya ambil dari isi buku The Equation karya Omar Tyree (John Wiley & Son, 2009). Yang bersangkutan sebenarnya seorang pengarang novel terkenal, namun karena dia juga seorang pengusaha sukses – maka tulisannya tentang strategi business menjadi mudah diikuti oleh orang-orang yang tidak terbiasa membaca buku business sekalipun.
Inti dari isi buku ini adalah bahwa kesuksesan usaha Anda akan terjadi bila ada tiga komponen utamanya yaitu Cinta (Love), Seni (Art) dan Dukungan (Support).
Cinta (Love)
Ada lima elemen cinta yang dengan kelimanya Anda akan dapat membangun fondasi business yang sangat kokoh. Kelima elemen ini adalah Passion, Commitment, Dedication, Loyalty dan Consistency.
Passion adalah keterlibatan emosi yang mendalam yang akan membuat Anda antusias dan sangat menyukai apa yang Anda kerjakan dalam usaha Anda.
Commitment adalah apa yang mendorong Anda untuk berbuat yang tebaik untuk usaha Anda dikala susahnya maupun di kala senangnya.
Dedication adalah kesediaan Anda untuk focus pada usaha yang Anda bangun dan kesediaan bila perlu untuk mengorbankan hal –hal yang tidak sejalan dengan usaha Anda.
Loyalty adalah kesetiaan Anda terhadap usaha yang Anda bangun, tidak mudah tergoyah untuk mengalihkan focus usaha yang nampaknya lebih baik ditangan orang lain.
Consistency adalah kemampuan untuk menjaga standar-standar yang Anda kembangkan dalam usaha Anda.
Future World Currency & Uang Yang Namanya Disebut di Al-Qur’an...
- Details
- Category: Dinar/Emas
- Hits: 10963

Di dunia yang didominasi oleh uang Fiat murni sejak Agustus 1971, uang emas menjadi seperti isi lagu tahun 1980-an – dibenci namun pada saat yang bersamaan juga banyak dirindukan.
Uang emas dibenci oleh bank-bank sentral dunia dengan alasan yang tidak jelas – konon kalau uang emas dibiarkan exist – uang fiat akan kelihatan tidak bernilainya. Bahkan bukan hanya dibenci, dalam Article of Agreement of the IMF ada larangan bagi negara-negara anggotanya untuk menggunakan emas sebagai dasar nilai tukar uangnya (Article IV, Section 2. B).
Lantas siapa yang merindukan uang emas ?, bagi kita umat Islam – uang emas ini bukan hanya sekedar uang untuk kepentingan transaksi, tetapi juga sebagai alat untuk implementasi beberapa ketentuan syariah seperti nishab zakat, nishab hukuman bagi pencuri, nilai uang diyat dlsb. Jadi kita tentu merindukan kehadiran uang yang adil ini.
Namun ternyata umat diluar Islam-pun yang cerdas dan memahami betul problem yang terbawa dengan uang kertas, mereka juga mulai merindukan hadirnya kembali uang emas ini. Di Amerika ada Gold Anti Trust Action Committee (GATA) dan Foundation of Advance Monetary Education (FAME) , keduanya gencar mengkritisasi ketidak beresan uang kertas mereka dan pentingnya kembali ke emas.
Dari Burgernomics Ke Dinarnomics…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 5816
Awalnya adalah Pam Woodwall dari The Economist yang memperkenalkan The Big Mac Index di bulan September 1986. Maka sejak saat itulah publikasi terkemuka tersebut secara rutin menerbitkan The Big Mac Index , suatu cara yang jenaka untuk mengukur Purchasing Power Parity (PPP) di negara-negara yang berbeda.
Secara harfiah cara pengukuran ‘indikator’ ekonomi yang satu ini menjadi benar-benar bisa dicerna di perut kita – karena yang diukur memang berupa harga makanan hamburger Big Mac dari jaringan restoran McDonald’s di seluruh dunia.
Teorinya sederhana saja, nilai tukar suatu mata uang sepadan dengan sekelompok barang-barang dalam suatu wilayah negara. Namun kali ini sekelompok barang-barang tersebut digantikan dengan satu barang saja yang konon dijual di seluruh dunia – yaitu ya hamburger Big Mac tadi.
Dalam publikasinya pekan lalu misalnya, kita bisa belajar dari angka-angka menarik berikut :
Di Amerika sendiri Big Mac tidak mengalami kenaikan dari tahun lalu, yaitu tetap pada harga US$ 3.57; tetapi di Singapore mengalami kenaikan 7 % dari Sin $ 3.95 (2008) menjadi Sin $ 4.22 (2009). Di Indonesia kenaikan ini mencapai 12% dari Rp 18,700 (2008) menjadi Rp 20,900 (2009). Perhatikan kenaikan harga ini, nampaknya mereka melakukan adjustment harga yang kurang lebih sama dengan tingkat inflasi di negara ybs.
Bermuamalah Dengan Timbangan Yang Adil …
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 8052

"Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)
Hadits shahih tersebut diatas sangat bermanfaat untuk membuktikan kestabilan daya beli Dinar sepanjang masa. Memang ‘Urwah berhasil membeli kambing seharga setengah Dinar (satu Dinar mendapatkan 2 ekor kambing), tetapi ini dia peroleh karena saling ridho dalam berdagang – sehingga sampai di do’a kan secara khusus oleh Rasulullah SAW.
Dari sifat-sifat Rasulullah SAW kita tahu bahwa ketika beliau memberi 1 Dinar untuk membeli kambing; berarti uang 1 Dinar tersebut tidaklah berlebihan dan tidaklah kurang untuk 1 ekor kambing. Hal ini juga dibuktikan ketika ‘Urwah menjual kembali salah satu kambing yang dibelinya dengan harga ½ Dinar tersebut – dia juga menjualnya dengan harga 1 Dinar.
Berdasarkna hadits ini dan realita di pasar sekarang, bahwa dengan uang 1 Dinar sekarang kita-pun bisa membeli kambing 1 ekor dimana saja – maka secara ilmiah bisa dibuktikan bahwa Dinar emas adalah uang dengan rata-rata inflasi Nol persen sepanjang sejarah. Penjelasan lebih detil masalah ini ada di tulisan saya tanggal 21 November 2008 dengan judul Saatnya Membeli Kambing.
Dinarnomics : Keadilan Ekonomi Berbasis Dinar…
- Details
- Category: Dinar/Emas
- Hits: 6757
Pertama kali saya menggunakan istilah Dinarnomics dalam tulisan saya awal pekan ini, istilah ini mungkin awalnya terasa aneh. Keanehan ini sebenarnya juga sama dirasakan ketika pertama kali kita mendengar istilah Reagennomics, Obamanomics, Wikinomics dan apalagi yang setengah berkelakar Burgernomics.
Namun insyaallah keanehan ini akan segera menjadi biasa setelah kita perkenalkan secara luas; dua hari setelah istilah ini saya gunakan – saya coba test dengan searching di google dengan Dinarnomics keyword – ternyata sudah muncul puluhan blog dan web teman-teman yang ikut memnyebarluaskan istilah ini dengan membuat link ke tulisan saya tersebut.
Pada kesempatan ini saya jelaskan sedikit seperti apa konsep Dinarnomics yang saya maksud.