Pinjaman Tanpa Beban : Untuk Siapa …?
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 8473
Dari Anas bahwa Rasulullah SAW berkata : “ Pada malam saya mi’raj ke surga, saya melihat tulisan di pintu surga yang berbunyi :’ setiap sedeqah diberi pahala sepuluh kali lipat, setiap pinjaman diberi pahala delapan belas kali lipat’ , kemudian saya bertanya : ‘ Wahai Jibril, mengapa pinjaman diberi pahala lebih dari sedeqah ?’, Jibril menjawab; ‘ Karena seseorang bisa mendapat sedeqah ketika dia tidak membutuhkannya, sedangkan seseorang yang meminjam hanya meminjam karena benar-benar membutuhkannya ‘”. (HR. Ibnu Majjah dan Baihaqi).
Mirip dengan ketika Gerai Dinar meluncurkan produk M-Dinar yang direspon begitu banyak pembaca dalam waktu yang singkat, produk baru hasil kolaboraasi Gerai Dinar dengan BMT Daarul Muttaqiin yang bahkan belum sempat kami beri nama sehingga masih menggunakan nama generik Pinjaman Tanpa Beban – juga mendapatkan respon yang antusias dari banyak sekali pengunjung GeraiDinar.Com.
Karena selain dukungan, respon pengunjung juga lebih banyak berupa pertanyaan – maka dalam tulisan ini saya akan berusaha menjelaskan lebih lanjut tentang produk ini.
You, Inc. : Investasi Terbaik Ada Pada Diri Anda…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 7484

Warren E. Buffett chairman of the board dari Berkshire Hathaway adalah idolanya dunia investasi barat. Betapa tidak, sampai tahun lalu nilai buku per saham perusahaan yang dikelolanya selama 44 tahun meningkat sekitar 3,600 kali atau tepatnya 362,319%. Sementara rata-rata peningkatan nilai buku saham 500 perusahaan terbaik dunia versi Standard & Poor atau S&P 500 pada rentang waktu yang sama hanya naik sekitar 42 kali atau tepatnya 4,276%.
Bahkan tahun lalu di puncak krisis ketika rata-rata perusahaan S&P 500 mengalami kerugian dan penurunan nilai buku 37% , Berkshire hanya mengalami penurunan nilai 9.6%.
Lantas apa yang menjadi rahasia Warren E. Buffett sampai bisa menghasilkan peningkatan nilai buku 85 kali lipat dari rata-rata perusahaan terbaik dunia S&P 500 ?. Jawaban ada pada kepandaian mereka memilih untuk investasi hanya pada perusahaan-perusahaan terbaik dari yang terbaik.
Meskipun demikian menurut Warren investasi terbaik bukan pada investasi di perusahaan-perusahaan terbaik tersebut – ini hanya nomor dua katanya, investasi terbaik adalah investasi pada diri Anda.
Inilah yang kita sering lupa atau tidak melihatnya. Padahal justru dalam Islam-lah kita diajari untuk memperhatikan apa yang ada di diri kita : “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan ? ”. (QS 51 : 21)
Dinar, Dollar dan US$ Index…
- Details
- Category: Dinar/Emas
- Hits: 7228
Pada tulisan saya kemarin, saya menyajikan kinerja harga Dinar dalam Rupiah disandingkan dengan harga emas dunia dalam US$ /oz dan juga US$ Index. Dalam jangka pendek satu sampai lima bulan sejak awal tahun ini, grafik keduanya menunjukkan gerakan harga Dinar dalam Rupiah yang sejalan dengan gerakan US$ Index.
Agar informasi yang saya sajikan tersebut lebih komplit, maka kali ini saya sajikan grafiknya dalam tempo yang lebih panjang yaitu sejak awal 2000 lalu. Dari grafik disamping Anda sekarang bisa lihat, bahwa dalam jangka yang lebih panjang –Harga Dinar (dalam Rupiah) cenderung konsisten berjalan seiring dengan harga emas dunia dalam US$ - yang berlawanan arah dengan pergerakan US$ Index.
Artinya apa ini ?
Fenomena yang seharusnya Rupiah memiliki daya beli yang menguat pada saat pembandingnya (US$) melemah, ternyata hanya bisa bertahan dalam periode yang pendek. Dalam jangka panjangnya daya beli Rupiah (paling tidak bila diukur dengan daya belinya terhadap emas) cenderung sejalan dengan menguat atau melemahnya daya beli US$.
Lantas akan kemana arah US$ kedepan ?
Tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi kedepan, hanya saja kalau kita lihat trend yang ada dalam dasawarsa terakhir seperti yang ditunjukkan oleh grafik diatas – rasanya sulit untuk membayangkan tiba-tiba trend berbalik arah. Artinya saya cenderung berpendapat bahwa trend yang ada sekarang akan terus demikian, mungkin ada koreksi-koreksi jangka pendek tetapi tidak akan merubah arah trend jangka panjangnya.
Haruskah Dinar Berupa Koin…?
- Details
- Category: Dinar/Emas
- Hits: 9844

Dalam tulisan saya tanggal 25 Februari 2009 dengan judul “Dinar Emas : 22 Karat Atau 24 Karat-Kah ?” saya menjelaskan mengenai berapa karat koin Dinar seharusnya. Kali ini saya ingin mengulas lebih dalam menyangkut apakah Dinar harus berupa koin emas atau bisa berupa emas dalam bentuk lain.
Dari sekian banyak sumber yang coba saya gali, satu-satunya dalil kuat yang mengatur tentang Dinar adalah mengatur tentang beratnya – yaitu apabila dipertukarkan sama jenis (emas dengan emas) haruslah sama beratnya.
Haditsnya adalah Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama jumlahnya dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”
Dari tulisan sebelumnya kita ketahui bahwa dunia Islam baru mencetak dan menggunakan Dinar-nya sendiri sekitar tahun 75 H-76 H. Bisa dibayangkan saat itu betapa sulitnya mencetak Dinar dengan baik, lihat Dinar Islam diawal-awal pencetakannya seperti gambar diatas. Kalau dilihat bentuknya, tidak bisa dakatakan standar bukan ?.
Belajar Dari Muhammad Yunus …
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 8080

Banyak orang mengenal Dr. Muhammad Yunus sebagai pemenang hadiah nobel tahun 2006 dan pendiri konglomerasi bisnis the Grameen Family of Companies yang meliputi tidak kurang dari 25 bidang usaha. Dia pernah diundang ke Indonesia dan ketemu pemimpin-pemimpin negeri ini, tetapi sejauh ini saya belum melihat negeri ini belajar dari pemenang hadiah nobel yang satu ini.
Saya ceritakan perjalanan karir Dr. Muhammad Yunus disini dengan harapan kita dapat belajar dari beliau dan tidak malu-malu untuk meniru hal-hal yang luar biasa yang telah dilakukannya, khususnya dalam memberi akses kapital terhadap kaum miskin.
Ketika lulus dari perguruan tinggi di Amerika dengan gelar doctor ekonomi, Dr. Muhammad Yunus memilih pulang ke kampung halamannya Bangladesh untuk mengajar dan menjadi professor di salah satu perguruan tingggi di sana.
Sementara dia menikmati posisi yang nyaman dengan pekerjaannya, pikirannya terteror oleh kenyataan bahwa tidak jauh dari tempat dia mengajar – ratusan ribu orang menderita kelaparan di negerinya.
Dari investigasi yang dia kemudian lakukan, dia mendapati bahwa sebenarnya orang-orang yang dihimpit oleh kemiskinan dan kelaparan tersebut bukan karena mereka malas bekerja. Mereka adalah pekerja-pekerja yang sangat keras, hanya saja penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.