Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Food or Fuels?


Sumber protein lezat yang paling terjangkau itu terancam kenaikan harga bahan bakunya yang terus menerus, itulah tempe-tahu dan segala produk turunannya.

Setelah minyak sawit, minyak kedelai juga digunakan sebagai biodiesel nomor 2 terbesar di dunia. Jadi tempe dan tahu goreng kita head to head dengan bahan bakar, baik untuk bahan bakunya sendiri maupun minyak untuk menggorengnya.

Ditengah lonjakan kebutuhan biofuels dunia yang akan meningkat dua kali lipat kebutuhannya 10 tahun ini, Hingga kini 78%nya masih mengambil bahan pangan sebagai bahan baku untuk memproduksinya. Ini sangat tidak sehat, karena menjadi simalakama global yang tidak mudah dipecahkan. Dikejar pencapaian biofuels harga pangan melonjak, dikejar keterjangkauan dan ketersediaan pangan - target carbon neutral, Net-Zero dan ikhtiar pengurangan emisi terganggu.

Peluang Di Dekade Biofuels



Saat ini nilai pasar biofuels dunia berada di kisaran USD 110 Milyar, dan akan meningkat menjadi hampir dua kalinya dalam 10 tahun kedepan. Apa yang menjadi penggerak pertumbuhannya dan dimana peluangnya bagi Anda? Berikut penjelasan ringkasnya.

Pertama adalah penerapan global sulphur cap bagi marine fuels oleh International Maritime Organization (IMO). Ini akan meningkatkan kebutuhan biofuels dunia - karena biofuels-lah bahan bakar yang rendah atau bahkan tanpa sulphur itu.

Bila Minyak Tidak Lagi Ada
 
 
Hari-hari ini minyak goreng seperti hilang ditelan bumi, tiba-tiba tidak ada di rak-rak retail modern. Tetapi ini diharapkan hanya sementara - dampak dari pemgendalian harga oleh pemerintah.
Yang lebih serius sebenarnya potensi hilangnya BBM dari minyak bumi di negeri ini. Grafik di bawah sangat clear menjelaskan ancaman masalah ini. Seperempat abad terakhir produksi minyak bumi kita turus turun, sementara kebutuhan terus nsik. Gap antara kebutuhan dan produksi itu saat ini sudah mendekati 1 juta barrel per hari.
Lantas apa solusinya? Meningkatkan produksi? Proven reserve kita hanya sekitar 3.7 milyar barrel, dengan tingkat konsumsi kita di kisaran 1.6 juta barrel per hari, cadangan tersebut akan habis dalam 6 tahun saja. Terus impor minyak seperti selama ini? Belum tentu ada jaminan supply karena sejumlah negara lain juga membutuhkannya. Kalau toh ada supply, impor ini akan terus menguras devisa dan membuat negara kita semakin tergantung pada negara lain.
Konversi minyak sawit ke BBM? Sebagiannya bisa, tetapi juga tidak akan cukup. Produksi minyak sawit di kisaran 42 juta ton per tahun, hanya cukup untuk setengah tahun kebutuhan BBM - kalau toh semua diarahkan ke sini, dan ini juga tidak mungkin dilakukan karena akan menimbulkan krisis minyak goreng tersebut diatas menjadi permanen.
Merubah ke kendaraan listrik? Sebagian kecil bisa, terutama untuk transportasi ringan. Transportasi berat, pesawat, kapal dan genset untuk melayani listrik pulau-pulau kecil tetap akan butuh BBM. Lantas apa opsi selanjutnya ?
Opsinya ada di mindset ‘Dan’ bukan ‘Atau’, semua solusi tersebut ditempuh sebagiannya, dan ditambah perbagai solusi lain yang memungkinkan. Dari kami misalnya akan menambahkan Nu Oil (dibaca New Oil), yaitu minyak nabati yang tidak berebut dengan pangan dan tidak juga berebut dengan lahan pertanian dan hutan.
Pohon tamanu atau nyamplung yang kami gunakan untuk produksi Nu Oil ini bisa ditanam di 14 juta hektar lahan kritis dan sangat kritis yang ada di negeri ini. Jadi selain produksi minyak jenis baru, juga akan memperbaiki alam, mencegah banjir, longsor dan kekeringan - dan sekaligus mendukung Net-Zero target 2050. InsyaAllah

Mastering the 3rd Skills : Energy


Ketika Indonesia dan negara-negara OPEC penen petrodollar 1973-1975, Amerika mengalami stagflasi - kombinasi antara inflasi tinggi dan konstraksi ekonomi, krisis ekonomi yang luar biasa, yang menyebabkan pengangguran yang masif.

Tetapi Amerika mampu belajar dari pengalaman pahit tersebut, maka kemudian terucap oleh Menlu mereka saat itu - Henry Kissinger : “Kuasai supply pangan - maka Anda menguasai rakyat di dunia, kuasai energi - maka Anda menguasai negara-negara di dunia...”

Semua Penyakit Ada Obatnya

Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan pula obat bagi penyakit tersebut. Dan salah satu obat itu ada yang sangat terang benderang karena disebutkan secara eksplisit di Al-Qur’an yaitu madu (QS 16:69).

Masalahnya adalah madu yang bisa menjadi obat tersebut adalah madu yang memenuhi syaratnya, yaitu madu yang lebahnya memakan segala macam buah-buahan yang beraneka ragam. Sedangkan madu jaman now cenderung single flora - makan bunga/buah dari satu jenis tanaman tertentu, dan bahkan juga makan gula/sirup.