Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Penampakan 3 in 1 Biofuels Dari Jelantah

Bagi yang penasaran seperti apa bahan bakar yang bisa dihasilkan dari minyak jelantah, foto dibawah menampilkan seluruh jenis bahan bakar yang dihasilkan dalam satu kali proses di mesin TCat kami.

Dengan mengkombinasikan suhu tinggi dan penggunaan catalyst yang sesuai, maka nana mesin ini kami sebut TCat - singkatan dari Thermo Catalytic, teigliserida atau minyak jelantah diuraikan menjadi berbagai ukuran rantai carbon.

Kemudian rantai carbon yang tinggal berupa hydrocarbon tanpa O - persis seperti minyak bumi, dikelompokkan berdasarkan suhu kondensasinya. Yang menguap dan kemudian terkondensasi di suhu kisaran 25-55 C dia krlompok bensin-Bio Gasoline, C4-C12. Yang menguap tetapi terkondensasi lagi di suhu tinggi 200-an C , rantai C12-C18, dia kelompok solar - Green Diesel. Yang tidak menguap dia menjadi residue, masih bisa juga digunakan sebagai bahan bakar kapal atau industri - yang kita sebut Bio Mazut.

BBM Bersih Dari Minyak Bekas

Biodiesel dari minyak bekas atau jelantah sudah banyak diproduksi orang, bahkan di dunia pasarnya sudah cukup besar yaitu di atas $ 10 Milyar per tahun atau sekitar 10% dari pasar biofuels.

Namun ada potensi lain dari minyak jelantah ini untuk diolah menjadi BBM kwalitas tertinggi, bahkan lebih tinggi dari standar Euro VI dalam hal kandungan sulfurnya yaitu kurang dari 1 ppm , sementara yang disebut Ultra Low Sulphur Fuels ( ULSF) di standar Euro kandungan sulfurnya masih 10 ppm, sedangkan kandungan sulfur pada BBM diesel di Euro IV seperti yang akan kita gunakan di Indonesia bulan depan masih di angka 50 ppm.

BBM baru ini juga tidak terbatas pada pemgganti diesel tetapi juga menghasilkan bensin - dua jenis BBM paling banyak dipakai di dunia. Keduanya sudah berstandar Drop-in biofuels artinya persis sama dengan diesel dan bensin dari minyak bumi, hanya bedanya bersifat renewable, carbon neutral dan sangat bersih karena kandungan sulfurnya yang kurang 1/10 dari apa yang disebut ULSF tersebut di atas.

Menanam Pohon Sebelum Perang

Kita yang hidup di zaman ini rata-rata tidak mengalami zaman perang, karena terakhir perang besar yang melibatkan negeri ini adalah perang kemerdekaan 77 tahun lalu, yang bersamaan juga dengan berakhirnya Perang Dunia II. Pengalaman yang sama yang dirasakan oleh mayoritas penduduk dunia, kecuali beberapa negara saja yang mengalami perahg akhir-akhir ini.

Kita tentu tidak berharap ada perang lagi di sepanjang hidup kita, tetapi perkembangan 3 pekan terakhir ini sungguh harus membuat kita waspada - bahwa ternyata dunia tidak seaman yang kita bayangkan. Mimpi apa orang-orang Ukraina, kok tiba-tiba dalam hitungan pekan jutaan orang harus terusir dari negerinya.

Ancaman perang meluas juga bukan tidak ada, negara-negara adidaya sudah saling mengancam satu sama lain, dan ancaman perang dalam zaman ini juga tidak harus selalu menggunakan senjata, kekayaan energi berupa minyak dan gas-pun bisa di-weaponized untuk menyusahkan negeri lawan.

Distributed Fuels Resources

Awalnya konsep distributed resources dikenal di dunia blockchain atau yang disebut Distributed Ledger Technology. Namun karena kehandalannya dalam nenyebarkan resiko dan menghadirkan system yang tidak mudah tumbang oleh satu titik kegagalan - No Single Point of Failure (NPoF), maka filosofi distributed resources ini banyak dipakai di bidang lain, untuk industri, supply chain dlsb.

Di dunia energi khususnya dalam kelistrikan konsep yang sama juga sudah lebih lama lagi dipakai, khususnya listrik di pulau atau kota besar jarang mati - karena resources pembangkitnya yang banyak dan saling terkoneksi.

Guidance, Science and Technology for Sustainable Energy
 
Di tengah kepanikan negara-negara untuk menyiapkan ketahanan energi-nya di dunia yang lagi diguncang perang, ada satu perunjuk yang lupa dirujuk oleh para pengembang energi pada umumnya. Itulah petunjuk ilahiah, yaitu Al-Qur’an bagi dunia Islam.
Petunjuk ini bersifat hakiki, yaitu benar hingga akhir zaman - pada tingkat peradaban setinggi apapun. Ketika Al-Qur’an turun lebih dari 14 abad lampau, perunjuk penggunaan kayu bakar seperti isyarat yang ada di Yaasiin 80 dan Al-Waqi’ah 71-73 tentu mudah dipahami dan dilaksanakan. Demikian pula untuk menggunakan minyak zaitun di Surat An-Nur 35, tanpa butuh teknologi - minyak ini dipasang sumbu saja langsung bisa menyala.
Tetapi bagaimana di zaman teknologi ini ketika kebutuhan energi kita beraneka ragam, menyesuaikan spesifikasi mesin yang semakin canggih? Di Eropa butuh diesel Euro VI dan di Indonesia sedang menuju standar Euro IV misalnya?