Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Notice: Undefined offset: 181 in /DATA/geraidin/public_html/libraries/src/Access/Access.php on line 608

Notice: Trying to get property of non-object in /DATA/geraidin/public_html/libraries/src/Access/Access.php on line 608

Notice: Undefined offset: 181 in /DATA/geraidin/public_html/libraries/src/Access/Access.php on line 613

Notice: Trying to get property of non-object in /DATA/geraidin/public_html/libraries/src/Access/Access.php on line 613

BBM Bersih Dari Minyak Bekas

Biodiesel dari minyak bekas atau jelantah sudah banyak diproduksi orang, bahkan di dunia pasarnya sudah cukup besar yaitu di atas $ 10 Milyar per tahun atau sekitar 10% dari pasar biofuels.

Namun ada potensi lain dari minyak jelantah ini untuk diolah menjadi BBM kwalitas tertinggi, bahkan lebih tinggi dari standar Euro VI dalam hal kandungan sulfurnya yaitu kurang dari 1 ppm , sementara yang disebut Ultra Low Sulphur Fuels ( ULSF) di standar Euro kandungan sulfurnya masih 10 ppm, sedangkan kandungan sulfur pada BBM diesel di Euro IV seperti yang akan kita gunakan di Indonesia bulan depan masih di angka 50 ppm.

BBM baru ini juga tidak terbatas pada pemgganti diesel tetapi juga menghasilkan bensin - dua jenis BBM paling banyak dipakai di dunia. Keduanya sudah berstandar Drop-in biofuels artinya persis sama dengan diesel dan bensin dari minyak bumi, hanya bedanya bersifat renewable, carbon neutral dan sangat bersih karena kandungan sulfurnya yang kurang 1/10 dari apa yang disebut ULSF tersebut di atas.



Lantas bagaimana jelantah dapat menghasilkan BBM dengan kwalitas yang begitu tinggi? Perhatikan pada gambar di bawah. Di bagian atas adalah dua jenis asam lemak yang paling banyak ada di minyak jelantah kita - yaitu palmitic acid (44%) dan oleic acid (40%).

Perhatikan kemiripan molekul palmitic acid tersebut dengan molekul diesel, sudah sangat mirip bukan? Tinggal dilepas unsur O-nya maka dia sudah menjadi Drop-in diesel.

Sekarang perhatikan yang oleic acid. Tidak mirip diesel maupun bensin, namun perhatikan di atom C-nya yang no 9. Di situ ada ikatan ganda, yang mudah didisrupsi. Maka ketika kita potong di ikatan gandanya, hasilnya akan menjadi dua bagian yang panjangnya sama, setelah di buang O-nya di salah satu potongannya - maka keduanya sudah menjadi Drop-in bensin.

Sebelum dua langkah tersebut bisa dilakukan, ada satu langkah yang harus dilakukan lebih dahulu - yaitu melepas palmitic acid maupun oleic acid dari ‘tangkainya’ - karena keduanya terikat dalam ikatan yang disebut triglyceride - yaitu bentuk standar minyak goreng.

Nampak njlimet memang, maka disitulah dibutuhkan mesin pemroses untuk memudahkannya. Mesin inilah yang kami sebut TCat ( Thermo Catalytic) dan sudah bisa diproduksi oleh Deep Tech startup kami yang menangani ini atas dasar pesanan.

Jadi minyak jelantah kita tidak boleh terbuang karena mencemari lingkungan, dan tidak harus diekspor meskipun nilainya menggiurkan - karena kita sendiri membutuhkan BBM yang sustainable, carbon neutral dan sangat bersih ini.