Distributed Fuels Resources
Awalnya konsep distributed resources dikenal di dunia blockchain atau yang disebut Distributed Ledger Technology. Namun karena kehandalannya dalam nenyebarkan resiko dan menghadirkan system yang tidak mudah tumbang oleh satu titik kegagalan - No Single Point of Failure (NPoF), maka filosofi distributed resources ini banyak dipakai di bidang lain, untuk industri, supply chain dlsb.
Di dunia energi khususnya dalam kelistrikan konsep yang sama juga sudah lebih lama lagi dipakai, khususnya listrik di pulau atau kota besar jarang mati - karena resources pembangkitnya yang banyak dan saling terkoneksi.
Maka filosofi yang sama seharusnya juga bisa diadopsi dalam pengadaan BBM. Produksi BBM yang selama ini hanya bisa dilakukan di segelintir titik di Nusantara ini, membuat ongkos distribusi BBM sangat mahal untuk pulau-oulau kecil nan jauh dari pusat produksi. Bukan hanya mahal, kelangkaan BBM menjadi lumrah, pasar gelap BBM muncul, listrik yang mengandalkan PLTD byar-pet, dan ketika listrik mati - ikut mati pula sinyal telepon - jadi panjang rangkaian masalahnya.
Di era renewable fuels, bahan bakunya baik berupa minyak nabati maupun biomasa by nature sudah terdistribusi. Kalau diproduksinya menjadi BBM disentralisasi lagi - ya akan tetap membuatnya mahal - ongkos mengumpulkan bahan baku dan menyebarkan produk BBM-nya yang tetap mahal.
Maka disinilah pentingnya konsep Local Fuels yang kami usung, bahan baku diolah dan digunakan untuk BBM di daerah yang sama. Hanya kekurangan/kelebihan produksinya saja yang didatangkan/dikirim ke daerah-daerah terdekat yang kelebihan/kekurangan produksi. Jaringan para kluster Local Fuels inilah yang nantinya membentuk Distributed Fuels Resources (DFR) untuk seluruh Nusantara.
Agar kluster Local Fuels bisa memproduksi sendiri BBM dan secara keseluruhan membentuk DFR Nusantara tersebut, dibutuhkan kilang-kilang mikro yang mampu memproduksi berbagai BBM standard seperti bensin, diesel, avtur dan bahkan juga mazut untuk industrial fuels, maka disitulah kami hadirkan Micro Refinery - yang menjadi enabling factor atau faktor pemungkin - agar konsep Local Fuels bisa jalan dan kemudian juga DFR Nusantara.
Untuk selanjutnya Micro Refinery ini kami sebut TCat merefer pada teknologi cracking awalnya yang kami gunakan yaitu Thermo Catalytic - yang selanjutnya disempurnakan sesuai kebutuhan. Bagi entrepreneur atau startuper yang menyukai tantangan, Anda sudah bisa memesan TCat perdananya - dan komunitas Anda insyaAllah bisa menjadi komunitas pertama yang bisa memproduksi BBM-nya sendiri.