Guidance, Science and Technology for Sustainable Energy
Di tengah kepanikan negara-negara untuk menyiapkan ketahanan energi-nya di dunia yang lagi diguncang perang, ada satu perunjuk yang lupa dirujuk oleh para pengembang energi pada umumnya. Itulah petunjuk ilahiah, yaitu Al-Qur’an bagi dunia Islam.
Petunjuk ini bersifat hakiki, yaitu benar hingga akhir zaman - pada tingkat peradaban setinggi apapun. Ketika Al-Qur’an turun lebih dari 14 abad lampau, perunjuk penggunaan kayu bakar seperti isyarat yang ada di Yaasiin 80 dan Al-Waqi’ah 71-73 tentu mudah dipahami dan dilaksanakan. Demikian pula untuk menggunakan minyak zaitun di Surat An-Nur 35, tanpa butuh teknologi - minyak ini dipasang sumbu saja langsung bisa menyala.
Tetapi bagaimana di zaman teknologi ini ketika kebutuhan energi kita beraneka ragam, menyesuaikan spesifikasi mesin yang semakin canggih? Di Eropa butuh diesel Euro VI dan di Indonesia sedang menuju standar Euro IV misalnya?
Tidak masalah juga, karena bahan bakar dari fosil yang paling luas digunakan di dunia saat ini-pun dahulunya dari pepohonan dan binatang, yang mengalami proses menjadi fosil selana waktu yang sangat panjang. Maka ketika fosil itu menjelang habis kita tidak bisa berharap akan adanya fosil baru selama usia kita.
Maka petunjuk Ilahiah itu begitu penting dan relevan, di QS 36:80 diisyaratkan kita tidak perlu menunggu biomasa menjadi fosil, karena kayu yang masih hijau-pun bisa langsung menjadi energi. Salah satu teknologinya bahkan sudah kami kembangkan, yaitu reaktor gasifikasi yang bisa diberi umpan kayu basah sekalipun. Produknya berupa syngas dan panas yang bisa jadi listrik langsung atau bisa juga dengan membrane separation dijadikan Hydrogen yaitu bahan bakar masa depan yang super bersih.
Demikian pula dengan minyak nabati dari buah zaitun atau buah lain yang menghasilkan minyak seperti tamanu dlsb. Tentu tidak bisa langsung untuk dipakai di mesin atau kendaraan canggih zaman ini. Tetapi kita juga diberi ilmu olehNya yang sesuai zamannya.
Dari minyak nabati apapun, bahkan juga minyak hewani, dengan menggunakan Micro Refinery yang kami kembangkan berdasarkan teknologi catalytic cracking yang sudah matang misalnya, seluruh jenis minyak nabati dapat diubah menjadi BBM yang sesuai untuk seluruh mesin dan kendaraan zaman ini. Bisa menjadi biobensin untuk kendaraan kecil, biojet untuk pesawat terbang, green diesel untuk kendaraan berat, dan limbahnyapun masih berupa energi yaitu biomazut yang bisa digunakan untuk bahan bakar industri. Tertarik?