Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Seorang yang konon genius serba bisa yang dikenal dengan nama Leonardo Da Vinci – pelukis, penulis, ahli matematika, botani, dlsb – pernah berbagi bagaimana dia menghasilkan karya-karyanya : “Berdiam diri memperhatikan pola di alam, debu bekas pembakaran, awan di langit, kerikil di pantai…bila dilihat secara cermat akan menghasilkan temuan yang luar biasa…”. Dia lahir ketika Islam masih menguasai Eropa dari Spanyol (1452), dia besar sampai meninggal di era puncak kejayaan Kekhalifahan Turki Usmani (1519). Apakah ada hubungannya ?

Seorang anak laki-laki bermain di tepi pantai, di terik matahari berjam-jam dia membuat istana pasir yang indah. Setelah selesai dia menikmati sejenak karyanya, kemudian melihat di kejauhan datanglah ombak besar. Blaaas, ombak menyapu habis hasil jerih payahnya. Anak laki-laki ini bersorak gembira ketika hasil karyanya disapu habis oleh ombak. Kok dia bisa gembira ? Karena dia tahu ombak pasti datang , dia tahu bahwa dia hanya bermain sesaat !

Setelah tulisan saya sebelumnya dengan judul “Makan Apa Kita Nanti ?”, ada yang menggelitik saya untuk menulis lanjutannya yang tidak kalah pentingnya yaitu tulisan yang berjudul “Bekerja Apa Kita Nanti ?” ini. Secara umum makanan kita sangat erat hubungannya dengan pekerjaan kita. Karena orang harus bekerja untuk bisa makan, maka dalam suatu ecosystem perekonomian – harus ada pekerjaan cukup agar masyarakatnya juga bisa makan cukup. Solusi kecukupan pangan tidak bisa lepas dari solusi kecukupan lapangan kerja.

Salah satu cara untuk membangkitkan optimism itu adalah bila kita bisa mengubah suatu kelemahan menjadi kekuatan. Di bidang pertanian misalnya, negeri agraris yang ijo royo-royo ini masih sering dihantui dengan sejumlah kelemahan, misalnya pada ukuran kepemilikan lahan yang terlalu kecil untuk dikelola secara ekonomis, posisi tawar petani yang lemah, serbuan produk pertanian impor dlsb. Tetapi semua kelemahan ini sangat mungkin bisa diubah menjadi kekuatan, bila kita bisa merubah paradigma bertani kita.

Awalnya kita makan nasi dengan tahu dan tempe, ketika harga kedelai melonjak sebagian kita melirik daging. Tetapi yang baru dilirik inipun melonjak hingga tidak terkejar, maka mayoritas kita back to basic – apa saja dengan keahlian orang Nusantara membuat bumbu-bumbuan – makanan tersebut menjadi enak. Sayangnya bahan utama yang membuat enak seluruh masakan ini – yaitu bawang merah dan bawang putih – ikut-ikutan melonjak pula, betapa repot urusan makanan ini.