Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Di negeri seperti negeri kita, dimana menurut survey McKinsey sekitar separuh penduduknya berdaya beli kurang dari US$ 2 per hari – porsi terbesar dari pendapatan masyarakatnya adalah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Tidak mengherankan bila kemudian di negeri ini siapa yang menguasai bahan-bahan kebutuhan pokok – dialah yang menguasai ekonomi. Tetapi apa sebenarnya bahan-bahan kebutuhan pokok ini ?

Hampir lima tahun lalu tepatnya tanggal 22/11/2008 saya menulis “ Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta”. Saya kembali angkat tema ini karena adanya fenomena yang menarik tentang proses kebangkitan ekonomi China, sampai-sampai gurunya investasi dunia barat seperti Jim Rogers-pun memindahkan fokus investasinya dari Amerika ke China. Ternyata negeri China bangkit ekonominya dalam 30 tahun terakhir menggunakan prinsip yang mirip dengan prinsip 1/3 ini.

Gambaran negeri yang baik – Baldatun Thayyibah – menurut tafsir Jalalain adalah negeri dengan kebun-kebun yang didalamnya tidak ada kotoran, penyakit, serangga, ular berbisa dan sejenisnya. Dan ini sepenuhnya masuk akal bila kita pahami dengan disiplin ilmu yang benar. Maka bila ada disiplin ilmu baru yang bisa kita lahirkan pasca ‘Ramadhan Academy’ yang baru lewat, disiplin ilmu baru itu salah satunya adalah Qur’anic AgroForestry.

Pasti ada maksudnya ketika Allah memberikan contoh perhitungan pada sesuatu yang sangat istimewa seperti Malam Lailatul Qadar  - malam yang lebih baik dari 1000 x bulan atau lebih baik dari 29,000 x malam (QS 97 : 1-3; QS 44 :3). Sesuatu yang terhitung atau terkwantifisir akan lebih memungkinkan untuk direalisir, maka dengan contoh perhitungan pula insyaAllah kita akan bisa menghadirkan keberkahan untuk negeri ini.

Kalau kita bertanya ke 100 tokoh negeri ini tentang visinya , sebaiknya ke arah mana negeri dibawa ? hampir pasti jawabannya akan berbeda satu sama lain. Hal ini karena setahu saya negeri ini belum pernah secara konkrit dan detil merumuskan dan menyepakati visinya, negeri seperti apa yang hendak kita bangun bersama ini. Karena belum adanya kesamaan visi ini, maka setiap berganti orde – kita memulai lagi segala sesuatunya dari awal.