Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Tanggal 31 Januari 2007, jalan-jalan di Mexico City dipenuhi oleh pengunjuk rasa yang memprotes kenaikan harga tortilla – makanan sumber kalori utama negeri itu yang terbuat dari jagung – yang melonjak hingga lebih dari 400%.  Kok bisa harga pangan melonjak sampai lebih dari 4 kalinya dalam beberapa bulan saja ? kejadian inilah yang kemudian (seharusnya) menjadi pelajaran bagi seluruh dunia untuk mengantisipasi krisis pangan.

Lebih dari dua bulan lalu saya menulis tentang Ancaman (Peluang ?) Dari Negeri-Negeri Jiran - yang dalam kontek AEC (ASEAN Economic Community) mereka nampaknya lebih siap dari kita. Lalu bulan lalu kita ‘mengasapi’ dua negeri jiran terdekat kita – sampai-sampai presiden negeri ini merasa perlu meminta maaf kepada para penduduk di kedua negeri. Dari kedua kejadian ini, bisa jadi peluang terbaik kita di era AEC adalah justru terkait dengan asap tersebut !

Tahun 2013 ini oleh Sidang Umum PBB dideklarasikan sebagai "Tahun Internasional Untuk Quinoa”. Ini adalah untuk menekankan pentingnya introduksi bahan pangan baru yang semula berasal dari  negeri-negeri di pegunungan Andes utamanya Peru dan Bolivia. Bisa jadi Quinoa ini juga akan segera melengkapi bahan pangan introduksi baru bagi penduduk negeri ini – yang semula bukan tanaman asli kita.

Secangkir kopi di mal-mal harganya setara kurang lebih 3 kg kopi di tingkat petani. Dari petani sampai kopi yang disajikan tersebut terjadi peningkatan nilai yang lebih dari 100 kalinya atau 10,000%.  Siapa yang menikmati hasil dari peningkatan nilai yang luar biasa ini ?, bisa jadi dari sisi materi yang menikmati adalah orang-orang yang bekerja cerdas. Tetapi diluar yang bersifat materi, penikmat yang sesungguhnya dari hasil  kerja keras tersebut bisa jadi tetap sang petani sendiri – bila dia bekerja dengan ikhlas.

Sebuah study di Afrika Timur yaitu Kenya, Uganda, Tanzania dan Ethiopia - dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa masyarakat petani miskin negeri-negeri itu bisa mengatasi kebutuhan pokoknya dengan mengubah pola bertani mereka. Disamping bercocok tanam di ladang-ladang mereka yang gersang, mereka mulai banyak menanam pohon. Konsep bercocok tanam dan menanam pohon ini merupakan bagian yang secara luas disebut agroforestry.