Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Pagi ini saya ikut bersedih membaca headline  di harian Kompas (26/7/11) dengan judul  “Produksi Pangan Terabaikan”.  Ketika Pemerintah dan DPR bersedia memberikan subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 129.72 trilyun tahun ini, subsidinya untuk tanaman pangan keseluruhan hanya Rp 38.2 trilyun. Dari angka subsidi ini saja menggambarkan betapa kecilnya fokus para pengambil keputusan negeri ini pada kecukupan pangan sekarang,  apalagi untuk kebutuhan di masa  mendatang. Sementara itu ada negeri lain di seberang dunia sana yang iklimnya mirip sekali dengan Indonesia – yang nampaknya akan menjadi sumber produksi pangan dunia yang akan datang – tidakkah kita ingin belajar dari negeri Soylandia ini ?.

 

Ketika saya menulis “Bermimpi Mengatur Negeri, Agar Negeri Tidak (Jadi) Bangkrut”, seperti sudah saya antisipasi -  pasti banyak yang protes – meskipun juga sangat lebih banyak lagi yang setuju. Yang protes ini antara lain men-challenge saya bagaimana anak-anak di seluruh negeri belajar dengan guru yang tinggal seperlimanya ?, bagaimana pasien rumah sakit ditangani oleh perawat dan dokter yang tinggal seperlimanya ?, bagaimana keamanan masyarakat terjaga dengan polisi yang tinggal seperlimanya ? dan seterusnya – yang tentu saja protes atau pertanyaan semacam ini sangat valid.

 

Sudah beberapa pekan ini saya riwa-riwi Jakarta – Jogja dan kemungkinannya akan semakin intensif kedepan. Apa yang diingat orang tentang Jogja ?, selain keratonnya – yang paling banyak diingat kemungkinannya adalah Gudeg Jogja. Tetapi bukan karena gudeg-nya ini yang membuat saya tertarik, adalah proses kreatif masal yang nampaknya sedang terjadi dalam skala besar di kota ini yang menarik. Bila Anda berjalan-jalan ke berbagai lokasi, Anda akan jumpai beraneka ragam makanan karya masyarakat Jogja yang belum ada di kota lain – dan ini tentu saja bukan hanya gudeg !.

 

Sekitar sepuluh tahun lalu ketika berada di puncak karir saya yang lama, ruang kantor saya yang mewah di puncak gedung dengan bentuk bangunan yang unique di Kuningan – Jakarta – tidak membuat saya bisa menikmatinya. Kamar mandi di ruang kerja saya – hanya pernah saya pakai sekali dalam enam tahun jabatan, demikian pula ruang gym diatasnya – hanya pernah saya tengok sekali. Tiga golf membership yang menjadi fasiitas direksi  – tidak satupun pernah saya pakai – akhirnya saya kembalikan ke perusahaan setelah dua tahun. Mengapa demikian ?, karena setelah 15 tahun di industri yang sama, pekerjaan itu menjadi semacam rutinitas yang membosankan – di level apapun. Saat itu yang ada di benak saya hanya satu, yaitu bagaimana bisa berubah...!.

 

Dalam beberapa hari ini saya lagi menikmati segarnya perkebunan di Jawa Timur, tidak hanya segar udaranya – tetapi juga membuat segar pikiran karena saya bisa melihat dengan sangat jelas sisi-sisi lain dari suatu usaha. Begitu jelasnya penglihatan ini sampai bisa saya visualisasikan dalam bentuk gambar. Oleh-oleh dari perjalanan tersebut saya tuangkan dalam tulisan ini barang kali berguna juga untuk Anda. Ini menyangkut tujuan Anda berusaha yaitu mencari untung (profit), menciptakan nilai (creating value) atau membangun nilai-nilai ( building values).