Pagi ini saya ikut bersedih membaca headline di harian Kompas (26/7/11) dengan judul “Produksi Pangan Terabaikan”. Ketika Pemerintah dan DPR bersedia memberikan subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 129.72 trilyun tahun ini, subsidinya untuk tanaman pangan keseluruhan hanya Rp 38.2 trilyun. Dari angka subsidi ini saja menggambarkan betapa kecilnya fokus para pengambil keputusan negeri ini pada kecukupan pangan sekarang, apalagi untuk kebutuhan di masa mendatang. Sementara itu ada negeri lain di seberang dunia sana yang iklimnya mirip sekali dengan Indonesia – yang nampaknya akan menjadi sumber produksi pangan dunia yang akan datang – tidakkah kita ingin belajar dari negeri Soylandia ini ?.
Yang disebut Soylandia adalah bentangan luas dari Argentina di Selatan – sampai hutan Amazon di utara, dari pegunungan Andes di barat - sampai hutan-hutan yang menghadap Atlantik di timur. Jantung dari Soylandia ini adalah negeri Brazil, negeri yang oleh pengamat diprediksi sebagai calon negeri industri paling penting di masa depan – yaitu industri pertanian tanaman pangan – khususnya biji-bijian.
Menurut FAO, dunia perlu meningkatkan produksi bahan pangan hingga 60%-nya untuk bisa memenuhi pertumbuhan kebutuhan pangan dunia dalam 20 tahun mendatang. Masalahnya adalah tidak cukup lahan di dunia untuk bisa memenuhi kebutuhan ini, bahkan bukan hanya lahan yang tidak cukup – tetapi air-pun tidak cukup.
Hitung-hitunganya begini : setiap satu sendok gula untuk mimun kopi kita, kita butuh 50 cangkir air untuk menumbuhkan tebunya. Untuk secangkir kopinya, dibutuhkan 1,120 cangkir air untuk menumbuhkan pohon kopinya sampai berproduksi. Contoh lain adalah untuk memproduksi satu kilogram daging, kita butuh setidaknya 8 kg biji-bijian dan untuk memproduksi 8 kg biji-bijian ini dibutuhkan air sekitar 12 m3 !.
Jadi intinya untuk kecukupan pangan di dunia, dibutuhkan lahan yang luas dan air yang cukup. Hanya bila dua hal ini dikelola dengan baik – yaitu tanah dan air – kecukupan pangan itu akan bisa dijaga. Perbedaan dalam pengelolaan keduanya akan berakibat pada perbedaan hasil. Sebagai contoh sama-sama negeri katulistiwa dengan iklim yang mirip, Brasil adalah negara penghasil kedelai terbesar dunia (terus berpacu dengan Amerika) – sementara Indonesia mengimpor sekitar 80% kebutuhan kedelainya !.
Lantas dimana salahnya ?, pengelolaan tanah-tanah pertanian dan sumber air itulah jawabannya. Ketika sejumlah tanah perkebunan di jawa barat yang hanya beberapa jam dari Jakarta terbengkalai tidak dioptimalkan, dan hujan di hulu jawa barat menjadi musibah bagi sebagian besar penduduk ibukota negeri ini – tanah dan hujan di Brasil menjadi sumber daya utama negeri itu.
Jadi selain belajar dari Al-Qur’an untuk mengatasi paceklik ( QS 12 : 47-48), memahami secara benar sumber rezeki dari langit yang menurut Ibnu katsir adalah rezeki yang turun bersama hujan (QS 50 : 9 – 11 dan QS 51:22), barangkali kita juga harus mau belajar dari orang-orang yang menjalankan sunatullah pengelolaan tanah dan air ini secara benar – yaitu seperti negeri-negeri yang dijuluki Soylandia tersebut – negeri yang menghasilkan kedelai – padahal rakyatnya sendiri tidak makan kedelai !.
Barangkali para pejuang awal negeri ini sebenarnya sudah sangat paham peran sumber daya alam yang dua ini; oleh karenanya banyak lagu-lagu wajib waktu kita sekolah dulu yang menggunakan kata-kata “Tanah Airku”., kita hanya kurang menjiwainya apalagi meng-aktualisasikan-nya – padahal ‘tanah dan air’ ini sudah menancap di benak kita sejak taman kanak-kanak !.
Maka kini waktunya berbuat, bila diantara Anda ada yang punya kewenganan untuk mengambil keputuhsan dalam hal penggunaan lahan – perhatikan baik-baik tanggung jawab Anda agar lahan-lahan untuk bahan pangan ini tetap tersedia cukup. Jangan sampai karena keputusan Anda sekarang, menjadikan negeri ini tidak bisa mencukupi kebutuhan pangannya kini dan yang akan datang.
Untuk air, insyaAllah masing-masing kita bisa berbuat. Setiap jengkal lahan yang bisa kita tanami – tanamilah !. Insyaallah ini akan menjadi penangkap rizki yang diturunkan Allah bersama hujan tersebut diatas. Pohon-pohon selain mampu menjaga resapan air, memperbaiki udara yang kita hirup – juga bila siklus tebang dan tanamnya diperhatikan dengan baik akan menjadi investasi yang sangat menarik. Yang ini tidak harus meminta subsidi pemerintah – tetapi efeknya akan sangat baik bagi anak dan keturunan kita kedepan. InsyaAllah.