- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 7464
Alhamdulillah hari ini adalah hari kesepuluh saya melakukan perjalanan ke Damascus dan Dubai, insyaallah besuk sudah kembali ke Depok. Maksud perjalanan ini adalah dalam rangka mengidentifikasi 'bukit' untuk 'pohon zaitun' yang kita tanam agar bisa memberikan hasil yang terbaik karena tumbuh 'tidak di timur dan tidak pula di barat'.
'Pohon zaitun' ini bisa berupa pendidikan untuk anak-anak kita, usaha yang kita bagun, amal islami yang kita persiapkan untuk akhirat kita atau apa saja yang memerlukan lingkungan pertumbuhan yang baik.
Dari kunjungan ini saya membuat analisa dari dua kota Damascus dan Dubai, relatif bila dibandingkan dengan Depok dimana saya tinggal. Yang saya sajikan disini hanya summary dari analisa tersebut.
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 10094
Outliers adalah judul buku yang ditulis oleh Malcolm Gladwell (Penguin Books, 2008) yang dua buku dia sebelumnya The Tipping Points dan Blink juga pernah saya jadikan sebagai bahan tulisan saya di situs ini.
Buku terbaru Outliers ini bercerita tentang kisah-kisah sukses orang dari berbagai latar belakang dan profesi, dari pemain hockey, programmer computer sampai pengusaha paling sukses sekaliber Bill Gates.
Orang-orang yang sangat sukses dibidangnya masing-masing ini oleh penulis dsebutnya sebagai Outliers – yang artinya kurang lebih adalah sesuatu yang berada jauh dari kelompoknya, sesuatu yang sangat berbeda dari jenisnya.
Yang menarik dari karya penulis ini adalah dia tidak terfokus pada faktor internal dari pribadi-pribadi yang sangat sukses tersebut, dia lebih banyak menguraikan faktor-faktor dari luar yang memungkinkan seorang menjadi sangat sukses dibidangnya.
Saya tidak menguraikan faktor-faktor sukses eksternal tersebut karena tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai resensi dari bukunya Malcolm, tetapi inti dari pesan yang dia sampaikan dalam buku tersebut yang ingin saya share dengan para pembaca situs ini.
Inti dari pesan buku tersebut adalah sebagai berikut ; “ Pohon yang tumbuh sangat tinggi di hutan, jauh diatas pohon-pohon sejenisnya - bukanlah semata karena pohon tersebut memiliki segala keunggulan dalam diri nya – melainklan dia adalah produk lingkungannya. Dia tidak akan bisa leluasa menikmati pertumbuhannya bila sedari kecil kerindangan pohon-pohon lain di sekeliling menghalanginya untuk memperoleh sinar matahari...”.
Bagi kita umat Islam, kita yakin sepenuhnya bahwa sukses tidaknya kita ada di tangan Allah semata. Namun pada saat yang bersamaan kita juga harus mengikuti sunatullah hukum sebab akibat.
Di tataran ikhtiarnya, untuk bisa sukses kita harus berusaha mengumpulkan segala faktor internal dan eksternal yang memungkinkan untuk mencapai kesuksesan tersebut – apapun bidang yang kita tekuni dan apapun kriteria sukses kita.
Untuk faktor eksternal dibidang usaha misalnya, negara yang proses perijinan usahanya ribet, pajaknya mencekik, infrastruktur industrinya amburadul dan birokratnya korup tentu tidak akan melahirkan banyak pengusaha yang sukses. Segala faktor eksternal yang menghambat ini adalah seperti kerindangan pohon diatas yang menghalangi pohon kecil dari memperoleh sinar matahari sehingga dia sulit tumbuh.
Untuk faktor internalnya, kita tidak bisa menyerah dengan lingkungan. Bila lingkungan usaha tersebut bisa kita atasi dengan cara yang halal – maka ini baik, bila tidak – maka bukankah bumi Allah luas ?.
Sebagai makhluk terbaik yang diciptakan Allah, kita lebih beruntung dari pohon yang sangat tinggi sekalipun – kita bisa memilih lingkungan kita, termasuk memilih lingkungan untuk berusaha. Kita tidak bisa dibatasi oleh lingkungan dimana kita dilahirkan, atau lingkungan dimana sekarang kita bertempat tinggal – bila lingkungan tersebut tidak kondusif untuk pertumbuhan (usaha) kita maka di bumi Allah yang luas ini – insyaallah akan selalu ada tempat untuk (usaha) kita agar bisa tumbuh secara optimal.
Pohon zaitun yang menghasilkan buah terbaik adalah pohon zaitun yang tumbuh di puncak bukit sehingga mendapatkan sinar matahari sepanjang waktu; itulah gambaran produk terbaik dari lingkungan terbaik menurut Al-Quran :
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya adalah seperti lubang yang tidak tembus yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula dibarat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya, Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang-orang yang dikehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nur 35).
Jadi kalau usaha atau karir Anda sulit tumbuh di lingkungan tempat usaha atau tempat Anda bekerja sekarang, jangan buru-buru nyalahin lingkungan. Lingkungan memang amat sangat penting pengaruhnya bagi keberhasilan Anda, tetapi sesungguhnya Anda bebas memilih lingkungan tersebut, bukankah bumi Allah luas ?. Wallahu A'lam.
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 9286

Dalam bidang pengembangan teknologi dan layanan, kita nampaknya harus belajar banyak dari industri telekomunikasi.
Bayangkan, 20 tahun lalu saya harus mengantri di kantor telkom Jakarta untuk memperoleh sambungan telepon. Itupun akhirnya baru tersambung 2 tahun kemudian.
Karena lamanya memperoleh sambungan telepon rumah, bos saya yang bule waktu itu terpaksa membelikan saya mobile phone yang gedenya sebesar aki mobil !. Harganya-pun tidak tanggung-tanggung, lebih mahal dari harga mobil dinas saya waktu itu. !.
Kini dua puluh tahun kemudian, pembantu rumah tangga kita bisa memperoleh nomor telepon hanya dengan mengunjungi kios di depan komplek. Langsung dapat nomor, langsung sambung.
Yang namanya mobile phone sekarang bener-bener mobile dan nomornya bisa diperoleh oleh siapa saja dengan harga hanya seharga sepiring nasi. Sehingga jangan heran kalau anda berjalan-jalan ke pasar Beringhardjo Jogjakarta, Anda akan mudah menemukan mbok-mbok pedagang pasar yang bersila di pasar dan (ma’af) nyelipin handphone-nya dibalik kutang bersama tumpukan uang hasil jualannya. Benar-benar mobile, dan benar-benar untuk semua orang…
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 10585

Dalam tulisan saya tanggal 4 Januari lalu, kami bersama Sahabat Al-Aqsa, Hidayatullah.Com, Mitra FM , dan Forum Ukhuwah mengajak kita semua untuk ikut memikirkan keluarga dari Sudara-saudara kita di Palestina umumnya dan Gaza khususnya.
Bukan hanya pada saat krisis sekarang tetapi juga memikirkan masa depan janda-janda dan anak-anak yatim mereka. Anak-anak inilah yang nantinya akan meneruskan perjuangan ayah-ayah dan kakak-kakak mereka yang telah syahid lebih dahulu. Kalau toh perjuangan anak-anak inipun belum berhasil, maka anak-cucu mereka nanti yang insyaallah meneruskannya.
Selain kita sedapat mungkin membantu kelangsungan pendidikan dan cita-cita mereka, tidak inginkah kita kelak anak cucu keturunan kita juga bisa ikut berjuang langsung bersama mereka membebaskan Al-Aqsa ?. Al-Aqsa (masjidnya) dan Al-Quds (kotanya) bukan hanya tanggung jawab saudara kita di Palestina. Al-Aqsa dan Al-Quds adalah tanggung jawab kita semua.
Kalau sekarang umat ini lagi dibawah, jadi bulan-bulanan kedzaliman Zionis dan para pendukungnya – tidak selamanya akan demikian. Cepat atau lambat Al-Aqsa dan Al-Quds akan dikuasai kembali oleh umat pilihan ini, hanya saja masalahnya kita ikut berperan atau tidak dalam upaya tersebut.
- Details
- Category: Entrepreneurship
- Hits: 8768

Sama dengan kemungkaran besar lainnya seperti pelacuran , perjudian dan minuman keras , riba adalah kemungkaran besar yang usianya seusia sejarah manusia itu sendiri.
Juga jangan dikira di jaman Rasulullah SAW hidup tidak ada riba; ada riba saat itu dan justru itulah ditimbulkan larangannya. Demikian pula di jaman-jaman nabi sebelumnya, ada riba tetapi selalu dilarang.
Di jaman keemasan Islam sesudah Rasulullah SAW pun demikian. Pelaku-pelaku riba tetap ada di masyarakat meskipun itu terus dilarang.
Di jaman-jaman kekhalifahan, pedagang dimuliakan apalagi kalau pedagang ini dari jauh. Pedagang-pedagang antar kota ini dijamu sebagai tamunya kaum mukminin di kota tujuan.
Kepada mereka disediakan rumah-rumah singgah yang terbaik – Anda masih bisa melihat bekas-bekas rumah singgah ini bila Anda datang ke Damskus sekarang. Para pedagang luar kota ini belum boleh berdagang sebelum mengamati pasar selama tiga hari. Agar ketika mulai berjualan mereka tahu harga yang wajar , sehingga tidak dirugikan atau merugikan orang lain.
Lantas dimana posisi para rentenir ?, mereka beroperasi secara sembunyi-sembunyi dengan mencegat para pedagang dan orang-orang yang akan ke pasar – untuk menawarkan jasa ribawinya (seperti calo karcis kereta di musim lebaran). Bila ketahuan petugas pengawas pasar (hisbah) mereka ini dikejar-kejar dan lari tunggang langgang.
Dengan positioning sebagi produk yang tercela – karena dosa besar dan diperangi Allah dan RasulNya (QS 2:279) – maka meskipun para rentenir ini tidak bisa dihilangkan keberadaannya dalam masyarakat, pertumbuhan dan perkembangannya dicegah.