Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed
Mumalah Jama'i

Seperti juga dengan sholat fardhu bagi seorang muslim laki-laki yang sangat-sangat dianjurkan untuk selalu berjamaah di masjid; dalam kehidupan sehari-hari-pun kita dianjurkan untuk selalu berjamaah. Anjuran berjamaah ini berlaku secara umum baik ketika kita bepergian, ketika berjuang di jalan Allah dan termasuk juga ketika kita bermuamalah.

 

Banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil dari ajaran berjamaah ini; antara lain hak yang sama antara satu jamaah dengan jamaah lainnya. Dalam sholat siapapun yang datang dahulu, dia berhak atas shaf paling depan. Imam yang batal harus tahu diri, segera mundur untuk digantikan oleh jemaah yang ada di belakangnya. Dan yang sangat penting dari ini semua adalah tingkat keberhasilan (seperti pahala dalam sholat), menjadi berlipat ganda dengan cara hidup berjamaah ini.

 

Sekarang tantangannya tinggal bagaimana kita bisa meng-aplikasi-kan nilai-nilai dari ajaran untuk berjamaah ini kedalam kehidupan muamalah kita sehari –hari. Konsep Direct1st® adalah model muamalah jama’i yang kami kembangkan sebagai salah satu  solusi ekonomi umat di era teknologi ini. Model yang insyaallah segera kami uji cobakan sebagai ‘kolam renang-nya’ para peserta Pesantren Wirausaha untuk belajar berenang ini, nantinya bukan hanya bisa dimanfaatkan oleh peserta atau lulusan Pesantren Wirausaha – tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk muamalah umat secara umum.

 

Bagaimana kita bisa yakin, bermuamalah secara jama’i yang dikelola secara sistematis berbasis IT nan modern ini insyaallah akan membantu melipat gandakan peluang keberhasilan usaha Anda ?, perhatikan ilustrasi cara kerja system ini diatas.

 

Ketika Anda berusaha sendiri dengan membuat satu produk A misalnya; Anda hanya memiliki peluang satu produk tersebut untuk dijual; Anda juga hanya memiliki satu peluang untuk menjualnya seorang diri – maka seberapa keraspun Anda berusaha untuk memproduksi dan menjual produk A Anda – peluang Anda untuk gagal bisa jadi sangat besar. Kegagalan ini bisa karena produknya yang gagal,  atau produknya baik tetapi Anda sendiri yang gagal menjualnya.

Pesantren Wirausaha

Alhamdulillah hari ini (10/10/09) Pesantren Wirausaha yang kita canangkan sejak beberapa bulan lalu kelas eksekutif perdananya telah mulai dan insyaallah berjalan dengan baik. Dengan antusiasme tinggi tetapi dengan suasana santai,  15 orang peserta dengan latar belakang pendidikan rata-rata SI dan S II mengikuti program kick off  dari jam 09.00 sampai jam 15.00.

 

Untuk mudah ditangkap dan diimplementasikan para peserta, program Pesantren Wirausaha ini kita buat seperti melatih Anda untuk belajar berenang. Anda bisa baca berapa banyak-pun buku teori berenang dari penulis-penulis terbaik, setelah Anda nyemplung ke kolam renang hanya dengan bekal ilmu yang telah Anda pelajari teorinya tersebut – kemungkinan besar Anda akan tenggelam.

 

Untuk belajar berenang, pelatih (coach) Anda hanya perlu mengajari teori dasar secukupnya – setelah itu Anda terjun ke kolam renang di dampingi oleh sang pelatih. Pelatih akan mulai dari yang paling kecil risikonya – tetapi paling esensial yaitu mengajari Anda untuk dapat mengapung di air dan tidak tenggelam. Setelah Anda bisa mengapung, Anda bisa mulai meluncur, kemudian belajar ambil nafas dan seterusnya sampai Anda bisa benar-benar berenang.

 

Dengan analogi tersebut, apa yang dalam dunia wirausaha dapat kita mulai dengan risiko kecil namun sangat esensial ? ya belajar jualan !;  menjual produk orang lain yang kita minati dan kita memiliki passion untuk produk tersebut. Setelah kita mendalami produk yang kita cintai ini, mengenal pasarnya, dan terbukti bisa menjualnya dengan baik – baru kita dapat memproduksinya sendiri, mengembangkannya kelak dst.

 

Minum Susu

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS 16 : 66)

 

Saya mungkin termasuk orang yang sangat kurang minum susu sepanjang hidup saya; waktu saya kecil di desa, saya hanya minum ASI ibu saya sampai usia satu tahun lebih sedikit karena keburu lahir adik saya. Selepas itu sebagai anak miskin desa, keluarga kita tidak biasa membeli susu karena terlalu mahal bagi keluarga-keluarga miskin di desa.

 

Setelah dewasa, dan alhamdulillah sebenarnya saya mampu membeli susu, namun inipun tidak saya lakukan – kecuali hanya untuk anak-anak kita – karena susu bukan-lah minuman yang popular bagi orang-orang segenarasi saya. Banyak orang dewasa seusia saya yang tidak suka minum susu, mungkin karena sedari kecil memang tidak dilatih minum susu, atau mungkin juga karena politik dagang yang tidak mengunggulkan susu (khususnya susu segar) sebagai pilihan minuman yang menyehatkan.

 

Beberapa tahun terakhir setiap kali i’tikaf  di Masjidil Haram; saya menjadi terbiasa berbuka dengan susu segar, karena ketika menjelang magrib di Masjidil Haram selain air zamzam, susu segar inilah yang banyak dibagikan oleh para penyedia iftor. Saya sempat bertanya mengapa banyak sekali susu dibagikan gratis untuk berbuka para shaimin (orang yang berpuasa) ?, bukan aneka ragam juice atau soft drink misalnya yang rata-rata orang jaman ini lebih suka ?, ternyata memang susu inilah minuman terbaik yang disebutkan di Al-Qur’an seperti dalam ayat tersebut diatas.

 

Susu yang disebut sebagai minuman bersih yang mudah dicerna dalam ayat tersebut tentu yang dimaksud adalah susu murni yang belum dicampur oleh berbagai zat macam-macam , menjadi susu bubuk yang kita tidak tahu lagi riwayatnya - sudah diisi apa saja misalnya susu bubuk ini ? Wa Allahu hu A’lam.

 

Direct1st

Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Jibril terus menerus berwasiat kepadaku untuk berbuat baik terhadap tetangga, sampai-sampai aku mengira dia akan menjadikannya sebagai ahli waris". Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6014) dan Muslim (2624).

 

Keindahan Islam akan terasa semakin indah bila setiap detil ajaran agama ini bisa kita implementasikan/amalkan dalam berbagai kehidupan sehari-hari. Dalam hidup bertetangga sehari-hari misalnya, di hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan secara terus menerus (untuk menekankan keseriusan) agar kita berbuat baik kepada tetangga.

 

Dalam hadits lain dari Anas Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Artinya : Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba itu beriman, sehingga dia mencintai tetangganya -atau berkata : saudaranya- sebagaimana dia mencintai dirinya". Juga ada hadits lain lagi yag artinya “Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan".

 

Menurut jumhur ulama, dalam Islam yang disebut tetangga adalah tetangga dalam radius 40 rumah (ke kanan, kiri, depan dan belakang) atau berarti 160 rumah sekitar kita.

 

Productivity

Mumpung suasana lebaran dan liburan masih menyelimuti kita, saya belum akan menulis tentang perkembangan pasar emas dan sejenisnya. Saya masih ingin menyentuh hal-hal yang mendasar yang menumpuk di kepala selama menjalani i’tikaf sampai akhir pekan lalu. Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan dua ayat berikut :

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS 2:183)

 

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS 2:177)

 

Ayat pertama adalah ayat yang sangat popular sepanjang bulan puasa lalu, yaitu ayat tentang kewajiban puasa dan target dari puasa itu sendiri agar kita menjadi orang yang bertakwa. Lantas ayat kedua menjelaskan tentang siapa atau seperti apakah orang yang bertakwa itu. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya seperti ini menjadi pilihan pertama bila kita ingin memahami makna suatu ayat.