Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed
Demi Masa

Dua puluh empat tahun setelah saya di wisuda, hari ini saya mengantarkan putri sulung saya wisuda. Waktu terasa berjalan begitu cepat sehingga dua puluh empat tahun berlalu begitu saja.

 

Di tengah hiruk pikuk suasana wisuda Universitas Gajah Mada yang hari ini berhasil mewisuda lebih dari 1500 orang, di tengah suasana gembira orang tua-orang tua yang terharu melihat buah hatinya berhasil memperoleh gelar sarjana, tidak tahu mengapa keharuan saya membuat saya merenungkan peringatan dalam surat Al-Ashr.

 

Sama dengan para sarjana baru yang diwisuda tadi pagi; dahulu saya bersama ribuan wisudawan yang lain – di tempat dan waktu yang lain – juga telah  berjanji untuk berbakti pada negeri ini; kini setelah dua puluh empat tahun berlalu, sudahkah janji-janji tersebut kita tepati….?

 

Kalau sebagian saja dari ratusan ribu atau bahkan jutaan sarjana yang lahir di negeri ini berbakti secara sungguh-sungguh pada negerinya, mestinya kita sudah hidup dalam serba kecukupan dan kemakmuran.

Financial Freedom

Hari ini adalah tanggal 17 agustus 2009, 64 tahun sejak Indonesia merdeka. Seluruh negeri hiruk pikuk dengan perbagai peringatan, rumah-rumah dan kantor-kantor berhias, anak-anak ceria dengan berbagai lomba. Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah benar-benar merdeka ?, oke kemerdekaan ini terlalu luas maknanya kalau kita mau tulis semua, maka yang relevan dengan tema sentral situs ini adalah keuangan – maka pertanyaannya saya persempit : sudahkah kita merdeka dari sisi financial ?.

 

Pertama yang akan saya jadikan tolok ukur kemerdekaan adalah definisi kemerdekaan yang terlontar dari seorang prajurit Islam – Rub’i  bin Amir - ketika berhadapan dengan panglima Persia – Rustum : " Sungguh Allah mengutus kami, agar kami memerdekakan manusia dari mengabdikan diri pada sesama manusia kepada mengabdikan diri kepada Allah, dari kezaliman agama (diluar Islam) kepada keadilan Islam dan dari kesempitan dunia kepada keluasan dunia dan akhirat."

 

Hanya diri kita sendiri yang tahu, ketika kita bekerja untuk menafkahi diri kita dan keluarga – apakah kita terpaksa ‘mengabdi’-kan diri pada tempat kerja kita – atau kita tetap teguh hanya mengabdikan diri kepada Allah semata. Insyaallah kita hanya mengabdikan diri kepada Allah semata bila segala perintah dan laranganNya kita patuhi, sebaliknya kita me’-ngabdi-’kan diri pada pekerjaan kita bila yang kita ikuti adalah perintah dan larangan tempat kita bekerja.

 

Bila keduanya berjalan seiring, ini yang kita harapkan semua. Namun tes-nya justru terjadi ketika keduanya tidak berjalan seiring – mana yang kita pilih itulah focus pengadian kita. Berikut adalah tes sederhana yang bisa Kita pakai untuk muhasabah kepada siapa kita mengabdi :

 

The Black Swan

Kejadiannya bermula pada tanggal 23 Desember 1913, ketika warga Amerika tengah liburan bersama keluarganya – termasuk sebagian besar anggota congress, segelintir elit di congress menyetujui dan mengesahkan Federal Reserve Act. Dengan Act ini, uang yang tadinya harus di back-up dengan emas atau perak dan hanya boleh di keluarkan oleh US Treasury, kini menjadi dikeluarkan oleh sekelompok 12 bank swasta yang disebetut Federal Reserve – meskipun mereka bukan Federal dan tidak memiliki Reserve – sekedar nama untuk mengelabui masyarakat Amerika dan Dunia.

 

Untuk pekerjaan mengeluarkan dan mengatur peredaran uang ini, Federal Reserve dibayar dengan apa yang disebut seigniorage – selisih antara biaya cetak dengan nilai nominal uang. Ironinya Federal Reserve tidak mau menerima pembayaran ini dalam bentuk uang kertas yang dikeluarkannya sendiri – karena mereka tahu uang yang dikeluarkannya tersebut sebenarnya tidak bernilai. Mereka hanya mau menerima pembayaran dalam bentuk Gold Certificate, yang bisa ditukar dengan satu benda saja yaitu Emas !.

 

Agar tidak menyolok mata, maka pembayaran ini dicicil dengan 1 % cadangan emas negeri itu per tahun. Nampaknya kecil – hanya 1 % ; tetapi ini berarti kemampuan negeri itu untuk membayar emas ke Federal Reserve hanya bisa bertahan selama 100 tahun saja. Artinya sesudah itu pemerintah Amerika akan kehabisan cadangan emasnya , tidak ada lagi yang dipakai untuk membayar Federal Reserve  - maka akan berakhirlah system financial dunia ala Federal Reserve ini. Seratus tahun tahun sejak Desember 1913 adalah Desember 2012, yang konon bertepatan dengan ramalan bangsa Maya – bahwa tahun 2012 adalah waktu berakhirnya kehidupan di bumi.

 

Kita tidak percayai ramalan bangsa Maya ini tentu saja; tetapi kita percaya sepenuhnya janji yang disampaikan di Al-Qur’an bahwa Allah memusnahkan riba (QS 2 : 276). Maka bisa jadi system finansial ribawi di seluruh dunia yang dikomandoi IMF dan Amerika dengan Federal Reserve-nya memang akan segera berakhir.

 

Retire

Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly  khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih”, “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan  yang terbaik dari hariku  adalah hari ketika aku bertemu denganMu.”

 

Do’a tersebut adalah bagian dari do’a Qatamal Qur’an yang sering tercetak di halaman akhir beberapa cetakan Al-Qur’an. Do’a inilah yang dulu mengilhami saya untuk mempercepat pensiun saya dari pekerjaan bergengsi sebelumnya.

 

Pada puncak karir saya sebagai eksekutif perusahaan raksasa pada pertengahan usia 30-an; saat itu saya sering berpikir apa yang akan saya lakukan bila kelak pensiun. Pekerjaan saya saat itu terlalu delicate dan bahkan kadang stress-full , pekerjaan seperti ini tidak cocok untuk ditekuni sampai usia pensiun.

 

Sementara untuk pensiun tanpa melakukan sesuatu yang berarti, bertentangan dengan ajaran Islam yang tersirat dari do’a tersebut diatas. Idealnya amal kita harus terus membaik dan puncaknya pada saat kita dipanggil olehNya – saat itulah puncak amal terbaik kita tercapai.

 

Dengan kesadaran ini, maka ketakutan akan datangnya masa pensiun (pada saat Anda berada di puncak karir – ketakutan semacam ini sangat mungkin terjadi) saya lawan justru dengan menyongsong pensiun lebih cepat. Waktu itu saya mencanangkan pensiun dari pekerjaan eksekutif  pada usia 40 tahun.

 

Pas pada saat usia mencapai 40, saya bertekat untuk bener-bener berhenti – maka saya ajukan-lah surat pengunduran diri saya saat. Muluskah ? ternyata tidak. Pemegang saham saya mem-persuade saya untuk bertahan sampai 3 tahun periode berikutnya.

Harga Big Mac

Awalnya adalah Pam Woodwall dari The Economist yang memperkenalkan The Big Mac Index di bulan September 1986. Maka sejak saat itulah  publikasi terkemuka tersebut secara rutin menerbitkan The Big Mac Index , suatu cara yang jenaka untuk mengukur Purchasing Power Parity (PPP) di negara-negara yang berbeda.

 

Secara harfiah cara pengukuran ‘indikator’ ekonomi yang satu ini menjadi benar-benar bisa dicerna di perut kita – karena yang diukur memang berupa harga makanan hamburger Big Mac dari jaringan restoran McDonald’s di seluruh dunia.

 

Teorinya sederhana saja, nilai tukar suatu mata uang sepadan dengan sekelompok barang-barang dalam suatu wilayah negara. Namun kali ini sekelompok barang-barang tersebut digantikan dengan satu barang saja yang konon dijual di seluruh dunia – yaitu ya hamburger Big Mac tadi.

 

Dalam publikasinya pekan lalu misalnya, kita bisa belajar dari angka-angka menarik berikut :

 

Di Amerika sendiri Big Mac tidak mengalami kenaikan dari tahun lalu, yaitu tetap pada harga US$ 3.57; tetapi di Singapore mengalami kenaikan 7 % dari Sin $ 3.95 (2008) menjadi Sin $ 4.22 (2009). Di Indonesia kenaikan ini mencapai 12% dari Rp 18,700 (2008) menjadi Rp 20,900 (2009). Perhatikan kenaikan harga ini, nampaknya mereka melakukan adjustment harga  yang kurang lebih sama dengan tingkat inflasi di negara ybs.