Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Awalnya tongkat Nabi Musa Alaihi Salam itu adalah tongkat gembala biasa. Ketika Allah memanggilnya di Lembah Tuwa (QS 79 :16), Allah Yang Maha Tahu menanyakan ini ke Musa “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa ?. Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya"” (QS 20:17-18). Sebuah tongkat yang biasa saja, tetapi setelah Mukjizat diberikan Allah kepadanya – kelak tongkat itu menjadi hal yang luar biasa yang mengatasi berbagai masalah besar yang dialami jamannya.

Ketika peradaban tidak di-guided dengan petunjukNya, maka di hampir setiap aspek aktivitas kehidupan manusia itu terjadi kekeliruan tetapi sangat sedikit yang menyadarinya. Kadang error itu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari kita, kita tetap juga tidak menyadarinya – apalagi upaya untuk mengkoreksinya. Error peradaban itu antara lain terkait dengan apa saja yang masuk tubuh kita di jaman ini, baik yang kita makan, kita minum, yang diinjeksikan ke dalam tubuh kita dan juga yang kita hirup sehari-hari.

Innovative disruption kini nampaknya sedang melanda di hampir seluruh bidang usaha. Ini tercermin dari daftar DISRUPT 100 yang memuat 100 perusahaan yang berpotensi mempengaruhi, merubah atau menciptakan pasar baru dunia – kita akan jumpai hampir seluruh jenis usaha ada di sana. Di satu sisi ini adalah ancaman bagi hegemoni perusahaan atau industri besar, di sisi lain juga peluang bagi yang mau bekerja keras untuk terus melakukan inovasi – atau setidaknya meniti di atas buih inovasi yang dilakukan orang lain.

Mengembangkan dan menjalankan sebuah startup company mungkin sudah biasa dan sudah banyak yang melakukannya, tetapi menjalankan secara serentak sejumlah startups secara kolaboratif dalam suatu project bersama –  ini yang tidak biasa. Inilah yang sedang kita persiapkan di Startup Center Depok, sehingga saya sendiri harus skip liburan lebaran untuk menyiapkan segala sesuatunya. Seperti menyiapkan sebuah pagelaran  orchestra besar, komposisi musik-nya selesai kita tulis di musim liburan lebaran ini, tinggal mengisi pemain-pemainnya untuk tampil dalam pagelaran yang kita sebut Huurun Project.

Puasa tahun ini terasa berat bagi saya karena untuk mengejar sekeping ilmu yang tercecer, saya harus berada di negeri orang yang panjang siang harinya sampai 18 jam. Maka ketika hari-hari – alone-lonely and hungry – itu berlalu, terasa satu beban hari-hari yang lapar terangkat. Tetapi bukan hilangnya rasa lapar ini yang perlu kita rayakan sesungguhnya, melainkan hilangnya satu lagi belenggu terhadap akal dan pikiran kita yang selama ini terjebak dalam perbagai bentuk kesesatan yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.