Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Potensi krisis itu begitu nyata sampai mulai bisa dikwantifisir magnitude-nya, bahkan kali ini  sumber krisis itu bukan hanya satu tetapi tiga sekaligus. Krisis yang saya maksud adalah krisis daya beli yang juga berarti krisis kesejahteraan. Sedangkan sumber ancamannya dari tiga penjuru adalah perkembangan geopolitik global, perkembangan politik dalam negeri dan yang terakhir adalah kapasitas produksi pangan dalam negeri. Lantas apa yang harus kita lakukan agar kita bisa melalui krisis ini ?

Meskipun ilmu tentang seluk beluk air dan pengelolaannya atau yang disebut hydrology  sudah dipelajari di hampir seluruh peruguruan tinggi teknik dan juga pertanian, kita masih seolah belum berdaya mengelola air ini untuk kehidupan yang lebih baik. Ketika kemarau tiba seperti sekarang ini setidaknya sudah ada 86 kabupaten/kota di 20 provinsi di negeri ini yang mengalami kekeringan. Maka inilah waktunya kita harus mau belajar ilmu satu lagi, yaitu mengelola air dengan petunjukNya dan sunnah nabiNya.

Para aktivis lingkungan dan perubahan iklim berpendapat bahwa dunia ini bisa diperbaiki dengan tiga hal yaitu penggunaan renewable energy, industrial efficiencies  dan perbaikan pada apa yang mereka sebut AFOLU (Agriculture, Forestry and Other Land Uses). Saya lebih suka menggunakan referensi lain yang lebih baku dan lebih mudah untuk bisa dilakukan siapa saja - termasuk orang  kebanyakan seperti kita - yaitu dengan apa yang saya sebut melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang diperintahkan.

Pada tulisan sebelumnya Sustainable Growth In 3 D saya berusaha memvisualisasikan bagaimana tugas memakmurkan bumi dalam bentuk pertumbuhan yang berkelanjutan itu harus melibatkan tiga sisi atau yang saya sebut tiga dimensi, dimensi ekonomi, sosial dan kehidupan. Pada tulisan ini konsep besar tersebut saya berikan contoh riilnya dalam bentuk model yang lebih detil agar mudah dipahami, model tiga dimensi ini bahkan bisa diwujudkan dalam bentuk benda riil yang bisa kita pegang dan rasakan.

Diciptakannya kita umat manusia oleh Allah adalah untuk beribadat menyembah kepadaNya dan mengesakanNya, bersamaan dengan itu kita juga ditugaskan untuk menjadi khalifah yang memakmurkan bumiNya (‘imarah al-ardh).  Tugas yang pertama sudah begitu banyak menjadi perhatian dalam  pendidikan, dakwah dan penyiapan sarana-sarananya. Tetapi bagaimana dengan tugas yang kedua ini ? jangankan pendidikan dan sarananya, sebagian besar kita malah tidak merasa mendapatkan tugas tersebut – kita salah menduga bahwa itu tugas orang lain – bukan tugas kita.