Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Hari-hari ini euphoria kemenangan kepemimpinan baru negeri ini merebak ke seluruh negeri. Barangkali memang ada baiknya ini, setidaknya memberi gairah baru ke masyarakat luas sampai ke pedasaan untuk kembali memiliki mimpi dan cita-cita. Bahwa telah ada contoh seorang biasa, dari golongan rakyat kebanyakan – wong ndeso-pun bisa menjadi seorang presiden dari sebuah negara besar dunia. Tetapi pada saat yang bersamaan, juga harus ada yang mengingatkan – bahwa kita punya contoh terbaik yang sesungguhnya, contoh yang sempurna yang tidak berbatas negeri dan jaman.

Karena semua yang dimakannya bermanfaat, manusia penghuni surga tidak buang air besar maupun air kecil. Yang paling banyak disebut makanan mereka adalah buah-buahan, di surat Ar-Rahman saja sampai ada 4 ayat yang menyebut buah-buahan untuk penghuni surga ini. Selain kurma dan delima, buah yang namanya disebut secara spesifik di surat lain adalah pisang – dan buah yang serupa buah surga ini melimpah di sekitar kita. Apakah kita sudah mendapatkan manfaatnya  secara maksimal ?

Seperti juga dalam berbagai bidang kehidupan lainnya, ekonomi umat saat ini terkepung oleh berbagai kekuatan dan kepentingan yang sangat besar.  Musuh utamanya sudah diberitahukan oleh Allah langsung ke kita yaitu riba (QS 2 : 279) – yaitu strategi yang telah digunakan oleh Yahudi  selama hampir 2000 tahun – untuk menguasai aset-aset dan sumber daya alam yang mereka kehendaki. Butuh strategi yang luar biasa, yang belum pernah ada sebelumnya – unprecedented strategy untuk mengalahkannya.

Kita sering mendengar ungkapan ‘fakta berbicara’ untuk menjelaskan suatu kebenaran yang tidak bisa dibantahkan oleh berbagai argumen yang bertentangan dengan fakta tersebut. Seiring dengan pergantian pemerintahan Senin ini, saya ingin berbagi fakta tentang pemenuhan kebutuhan pangan kita selama sepuluh tahun terakhir – mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi pemerintahan baru ke depan. Fakta ini saya olah dari datanya Biro Pusat Statistik – jadi insyaAllah cukup akurat.

Ada ironi besar di negeri dengan penduduk mayoritas muslim yang masih 87 % ini, pangsa pasar ekonomi syariahnya masih dibawah 5 % setelah 20 tahun lebih diperjuangkan. Apanya yang salah ? mayoritas penduduk belum peduli dengan syar’i tidaknya suatu produk ? atau cara pengembangannya yang salah selama ini ? Saya melihat keduanya menjadi penyebab. Kalau keduanya diperbaiki, mestinya pangsa pasar ekonomi syariah setidaknya bisa mencapai 87 % hanya dalam periode 10 tahun. Bagaimana caranya ?