Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Kita yang tinggal di kota-kota mungkin tidak aware dengan fakta ini : sekitar 60 % desa-desa kita adalah desa tertinggal atau sangat tertinggal. Ketimpangan juga nampak dari sebaran desa tertinggal dan sangat tertinggal ini. Bila di Jawa angkanya ‘hanya’ 31 %, di Sumatra mendekati 70 % dan di Papua mencapai 96 %. Apa ada yang bisa kita perbuat ? insyaAllah ada bila mau berimprovisasi out of the box. Bagaimana caranya ?

Ada peluang usaha yang sangat besar yang nilainya di dunia mencapai US$ 4.5 trilyun sampai tahun 2030 bila kita bisa merubah waste to wealth. Waste ini bisa berarti limbah atau sampah, bisa berarti pemborosan asset/resources, bisa berarti idle capacity maupun waste dalam arti menyia-nyiakan opportunity. Khusus waste yang berupa sampah ini juga berarti sekali merangkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, sambil mengatasi sampah kita membangun kemakmuran dan mengentaskan kemiskinan.

Tiga kebutuhan pokok ini mestinya menjadi peluang keunggulan kita dalam memproduksinya yaitu pangan (food), pakan (feed) dan bahan bakar (fuel). Mengapa demikian ? Ketiganya membutuhkan air dan sinar matahari yang banyak untuk proses produksinya. Dalam hal kombinasi ketersediaan air dan matahari ini, tidak ada negeri besar di dunia yang lebih baik dari kita. Maka mengapa kita belum menjadi produsen terbesar dalam tiga hal tersebut ? Saatnya kita menguasai betul (mastering) hal-hal ini agar negeri yang diberi kekayaan melimpah ini bisa bener-bener unggul.

Sepenggal ayat yang tidak habis untuk terus digali sepanjang jaman itu antara lain ada di surat Yaasiin ayat 80 yang berbunyi “…Alladzi ja’alalakum minas syajaril akhdhori naara...” yang artinya “…Dia yang menjadikan api untukmu dari pohon yang hijau...”. Kalau saja sepenggal ayat ini terus ditadaburi dan diamalkan, umat ini pasti punya solusi untuk menghadapi krisis energy yang dari waktu ke waktu muncul berulang dalam peradaban manusia.

Bahwasanya solusi bahan bakar itu dari tanaman mungkin tidak langsung tertangkap oleh kita, tetapi memang demikianlah kebenarannya sepanjang jaman. Ketika orang masih jalan kaki dan naik kuda, dia butuh suluh api dari kayu untuk menerangi jalan di malam hari. Awal adanya kereta api, bahan bakarnya menggunakan kayu untuk menghasilkan uap yang menggerakkan mesin kereta. Di Perang Dunia II banyak mobil menggunakan kayu pula dengan proses gasifikasi untuk menggerakkan mesinnya. Di jaman ini orang menggunakan tanaman dari jutaan tahun silam yang telah menjadi fossil untuk Bahan Bakar Minyak atau BBM.