Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Do'a"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat ‘amal yang saleh yang Engkau ridlai ; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS : 46 : 15)

 

Dengan adanya krisis finansial yang sangat serius di dunia saat ini, sudah seharusnya semua pelaku bisnis introspeksi – termasuk kita -  terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini. Introspeksi ini bahkan juga dilakukan oleh sekolah bisnis paling bergengsi di Amerika yaitu Harvard Business School (HBS). Publikasi mereka yang terkenal Harvard Business Review (HBR)-pun memfasilitasi perdebatan panjang tentang apakah mereka telah gagal dalam mendidik mahasiswa-nya sehingga krisis ini terjadi ?, lantas bagaimana seharusnya mereka mendidik mahasiswanya kedepan ? dst.

 

Karena jengah dengan kegagalan mereka di industri dan pasar  yang glamour seperti industri mobil di AS dan pasar modal Wall Street, mereka kini mulai belajar dari pasar yang selama ini disebut pasar Base of the Pyramid (BoP). Yaitu pasar di negara-negara yang penduduknya mayoritas paling miskin seperti India dan beberapa negara Afrika. Para peneliti dari sekolah bisnis terkemuka tersebut mulai mencari-cari nilai-nilai apa yang mereka bisa pelajari dari negeri-negeri miskin ini untuk bahan  ajar pada murid-muridnya  kedepan.

 

WasteTiga belas tahun lalu saya mendapatkan amanat untuk menjalankan perusahaan publik tua yang lahir di awal-awal kemerdekaan negeri ini. Sebagaimana perusahaan tua lainnya, perusahaan tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan. 

Positifnya mereka adalah orang-orang yang sangat loyal pada perusahaan dan telah berjasa menjaga keberadaan perusahaan melalui berbagai gejolak yang terjadi di negeri ini. Sedangkan negatifnya karena mayoritas   menjelang pension, sulit sekali memotivasi mereka untuk bersaing dengan anak-anak muda yang secara bertahap mengisi berbagai posisi penting di perusahaan. 

Suatu saat dalam kunjungan ke cabang Bandung, saya melihat karya seni berupa miniatur motor besar yang terbuat dari berbagai macam barang bekas. Mulai dari bekas mesin jam tangan, bekas selang bak mandi, bekas senapan angin dan berbagai bekas lainnya. 

Melalui tangan-tangan kreatif, semua barang bekas tersebut ditempatkan dalam tempat yang pas – dirangkai dalam design motor besar yang ekslusif. Hasilnya ?, sungguh mengagumkan – tidak nampak bahwa masterpiece tersebut  dibuat dari barang bekas. Yang nampak adalah sebuah miniatur motor besar yang indah. Masterpiece dari barang bekas inilah yang akhirnya saya gunakan untuk memvisualisasikan betapa pentingnya peran setiap orang dalam perusahaan.

Change

Hari ini adalah hari-H, hari dimana hati para caleg Dag-Dig-Dug menunggu hasil pemilu yang diadakan serentak di seluruh negeri. Karena untuk DPR RI saja hanya ada 560 kursi yang diperebutkan oleh 11,219 caleg; maka kurang dari 5% caleg yang akan gembira hatinya karena terpilih. Sebaliknya lebih dari 95%nya akan kecewa.

 

Bagi yang terpilih, ingat-lah janji-janji Anda terhadap para rakyat pemilih, Ingatlah janji Anda untuk membuat perubahan di negeri yang terpuruk dengan berbagai macam krisis dan bencana ini. Jangan sampai Anda membawa penyesalan di akhir hayat Anda, mumpung Anda masih diberi kesempatan  - belajarlah dari penyesalan yang tertulis di batu nisan seorang penulis berikut:

 

"Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negeriku saja.

 

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negeriku, aku mulai berusaha mengubah masyarakatku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah masyarakatku, maka aku mulai berusaha mengubah keluargaku. Kemudian akupun sadar aku semakin renta, aku juga tak bisa mengubah keluargaku.

 

Ketika waktuku sudah hampir habis, aku menyesal ternyata satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri. Bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku kemudian masyarakatku. Pada akhirnya aku akan mengubah negeriku dan setelah itu aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini."

 

Gold Finger Robbery

Bagi para penggemar film tentu ingat film James Bond tahun 60-an yang sampai sekarang tetap bisa diperoleh CD atau DVD-nya yaitu Goldfinger. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana si tokoh jahat – Goldfinger – merancang sebuah perampokan raksasa dengan tidak memindahkan sedikitpun barang yang dirampoknya.

 

Yang dilakukan Goldfinger adalah meledakkan senjata nuklir di pusat penyimpanan cadangan emas Amerika yaitu Fort Knox. Dengan ledakan ini cadangan emas Amerika akan tercemari radio active sehingga tidak bisa disentuh dalam puluhan tahun.

 

Akibatnya pasar emas dunia akan kehilangan stok secara sangat significant dan harga akan naik minimal 10 kalinya. Goldfinger yang sebelum merampok telah mendepositokan emas senilai 20 juta Pounsterling, akan dengan mudah meraup keuntungan sebesar 180 juta Pounsterling atau US$ 504 juta pada kurs tahun 1964 yaitu 1 Poundsterling = US$ 2.8.

 

Debt

Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal khazan, wa a’udzubika minal ‘adzji wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.

 

“Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.”

 

Kalau saja hutang itu baik untuk membangun negeri, mungkin kita tidak diajari oleh Usmatun Hasanah kita untuk berlindung dari lilitan hutang seperdi do’a yang matsur (dicontohkan) tersebut diatas setiap pagi dan petang. Tetapi karena hutang ini bisa melilit kita dan membuat kita terjebak dalam tekanan orang lain, maka penting sekali bagi kita untuk berlindung dari hutang ini.

 

Sepuluh tahun lalu ekonomi negeri ini porak poranda sampai uang kita tinggal bernilai seperempatnya, antara lain penyebabnya adalah gedenya hutang luar negeri kita. Kebutuhan akan Dollar yang begitu tinggi dibandingkan dengan kemampuan kita untuk menghasilkan Dollar telah menyebabkan mata uang Dollar naik lebih dari empat kali lipat selama krisis.

 

Kini kesalahan yang sama terulang – seolah kita begitu mudah melupakan kesalahan sebelumnya. Kalau keledai saja tidak terperosok dalam lubang yang sama dua kali, kita bisa terperosok ke lubang yang sama berulang-ulang.

 

Prihatin saya membaca berita di Republika hari ini yang mengungkap hutang korporasi kita telah mencapai kisaran US$ 50 – 60 milyar, sedikit saja dibawah hutang negara yang mencapai US$ 62 milyar.  Yang lebih menyedihkan lagi adalah jumlah hutang yang akan jatuh tempo tahun ini saja akan mencapai US$ 17.4 Milyar, jumlah yang berpotensi untuk menggerus cadangan devisa kita yang per maret hanya US$ 53.7 Milyar.