Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Beberapa dekade lalu ketika komunikasi dunia usaha masih mengandalkan telex yang harus hemat kata-kata, sebuah pabrik sepatu dari negara maju mengirim dua salesman baru untuk ekspansi ke wilayah yang paling terbelakang di Afrika.  Begitu sampai di wilayah yang dituju, salesman pertama mengirim telex yang berbunyi: “tidak ada harapan . masyarakat tidak memakai sepatu”.  Tidak lama kemudian datang telex yang kedua dari salesman yang satunya lagi : “peluang melimpah. masyarakat belum memakai sepatu”.

 

Dua salesmen ini diterjunkan di daerah yang sama dan melihat masyarakat yang sama, tetapi mengapa penglihatannya terhadap situasi sangat berbeda ?. Ini karena masing-masing salesman tersebut memiliki bangunan atau konstruksi imaginer berupa tembok-tembok yang namanya asumsi.

 

Salesman pertama menaruh ‘tembok’ asumsi ini diantara dirinya dengan masyarakat di wilayah tersebut. Karena adanya ‘tembok’  asumsi bahwa masyarakat tidak bersepatu ini , maka dia tidak memiliki harapan untuk menjual sepatu ke masyarakat yang tidak bersepatu tersebut. Dia tidak mampu melewati ‘tembok’ asumsi yang dibuatnya sendiri.

 

Salesman yang kedua-pun memiliki ‘tembok’ asumsinya sendiri, tetapi dia menaruhnya jauh di belakang masyarakat yang ditemui di wilayah tersebut. Dengan menaruh ‘tembok’ asumsi ini jauh diluar sana – membuat tidak ada penghalang antara dia dengan masyarkat yang menjadi target pasarnya. Dia sebenarnya juga tidak mampu melewati ‘tembok’ asumsinya sendiri, tetapi dia memang tidak perlu melewati tembok tersebut untuk sampai pada tujuannya, yaitu masyarakat yang akan menjadi target pasarnya – keberadaan ‘tembok’ asumsi ini tidak menjadi penghalang bagi dia.

 

Itulah dua  hasil yang berbeda yang dihasilkan dari situasi yang sama, hasil berbeda bukan karena situasinya tetapi karena asumsinya. Karena hasil sangat dipengaruhi asumsi, dan namanya juga asumsi – dia bersifat imaginer – semau-mau kita membangun dan menaruhnya , maka sukses atau keberhasilan dibidang apapun sebenarnya sangat dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan.

 

Inipun sejalan dengan hadits qudsy Dari Abu Hurairah “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu…”.  Artinya kalau kita berprasangka baik bahwa Allah akan memberikan kebaikan, maka insyaallah itulah yang terjadi. Demikian pula sebaliknya bila kita berprasangka buruk, keburukan itu pula yang akan terjadi. Bahkan dalam menafsirkan mimpi-pun kita diajarkan untuk selalu menafsirkan yang baik-baik.

 

Lantas kalau begitu kuatnya pengaruh faktor pikiran atau asumsi yang dibangun di alam pikiran ini terhadap suatu keberhasilan ?, dapat-kah pikiran kita dilatih untuk selalu ber pikir positif ?. Jawabannya tentu dapat !.

 

Seperti yang terjadi pada dua salesman sepatu tersebut di atas, salesman pertama tentu akan menghentikan usahanya untuk jualan sepatu di wilayah terbelakang Afrika karena dia sudah dipagari oleh asumsinya sendiri bahwa masyarakat tidak membutuhkan sepatu. Karena menghentikan usaha, maka hasil pasti tidak dia peroleh – tidak ada lagi exercise atau kerja keras yang perlu dilakukan oleh salesman pertama.

 

Salesman kedua yang melihat sebaliknya, bahwa masyarakat belum memakai sepatu, dia akan berusaha menggarap potensi yang ada – begitu masyarakat satu demi satu memakai sepatu – dialah satu-satunya salesman sepatu di daerah yang terbelakang tersebut. Selama dia masih berpikiran positif bahwa suatu hari masyarakatnya akan memakai sepatu, maka dia akan tetap terus berusaha – dan usaha inilah bentuk latihan untuk tetap menjaga pikiran positif itu.

 

Dengan meniru pola pikir yang menghasilkan asumsi positif dari salesman kedua, bisa kita bayangkan kita akan punya solusi untuk berbagai masalah berikut :  1) Bisakah kita swasembada pangan ? 2) Bisakah kita memakmurkan rakyat ? 3) Bisakah kita memberlakukan system hukum yang adil ? 4) Bisakah kita menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat ? 5) Bisakah kita membawa umat ini kembali ke kejayaannya ? 6) Bisakah kita meninggalkan riba ? 7) Bisakah kita menjadi entrepreneur yang sukses ? 8) Dlsb.dlsb.

 

Untuk setiap poin dalam contoh ini, bila jawaban dibenak Anda ‘Bisa’ – maka perhatikan proses apa yang terjadi pada pikiran Anda. Pikiran Anda akan men-justifikasi-nya dengan memberi jawaban – mengapa dia mungkin. Justifikasi positif inilah yang menjadi drive untuk langkah besar  menuju suatu keberhasilan.

 

Sebaliknya, bila  jawaban kita tidak.  Maka otak kita-pun akan berproses berusaha men-justifkasi-nya dengan memberi jawaban – mengapa tidak mungkinnya. Dan justifikasi negative inilah yang kemudian akan menjadi kekuatan besar yang menghentikan langkah kita dari upaya menuju kesuksesan. Wa Allahu A’lam.