Sekian tahun lalu ketika saya masih aktif sebagai eksekutif perusahaan keuangan besar, saya sering sekali melakukan perjalanan kerja ke luar negeri - utamanya ke London. Sopan santun orang Inggris yang terkenal itu tercermin dari sopir yang selalu dikirim mitra kerja saya untuk menjemput di bandara Heathrow. Dengan tubuh yang besar dan berjas rapi – dengan senyumnya yang ramah, kalimat pertama yang selalu diucapkannya adalah “how was your flight sir ?”. Saya tahu ini adalah pertanyaan basa-basi, tetapi saya selalu menjawab dengan serius bahwa saya sungguh menikmati penerbangan saya.
Ini adalah jawaban yang tulus dan bukan basa-basi, karena memang itulah yang terjadi. Setiap kali saya melakukan perjalanan dinas, menempuh penerbangan nyaris sepertiga bumi – pasti karena ada sesuatu yang berat dan serius untuk diselesaikan. Begitu sampai di tempat tujuannya sana – di kota London, beban kerja yang berat tersebut telah menunggu – saya tidak pernah sempat lagi untuk menikmatinya. Begitupun sesampai balik di Jakarta, pekerjaan berat berikutnya juga sudah menunggu – jadi satu-satunya yang bisa saya nikmati adalah ketika tidak bisa diganggu oleh pekerjaan berat selama belasan jam berada di dalam pesawat tadi.
Perjalanan usaha adalah seperti penerbangan tadi, jangan dikira bahwa akan banyak yang bisa Anda nikmati ketika usaha Anda berhasil menjadi besar. Masalah demi masalah akan selalu bermunculan dan tanggung jawab besar silih berganti mendatangi Anda untuk diselesaikan. Lantas apa yang bisa Anda nikmati ?, yang paling mungkin adalah perjalanan membangun usaha Anda tersebut-lah yang bisa Anda nikmati.
Ketika orang mulai meng-appresiasi ide usaha Anda, ketika nasabah-nasabah pertama membeli produk Anda, ketika mitra-mitra usaha merapatkan barisan menjadi team Anda, ketika Anda berhasil menaikkan standar gaji karyawan Anda dan serangkaian hal-hal kecil lain yang Anda temukan dalam perjalanan usaha Anda – itulah yang paling mungkin dinikmati, lebih memungkinkan ketimbang hasil dari usaha itu sendiri nantinya.
Sekuat dan sekeras apapun kita berusaha, hasil itu tetap bukan domain kita untuk menentukannya - itu domain-nya Yang Maha Kuasa di atas sana, domain kita adalah bekerja dan berkarya – maka domain kita inilah yang harusnya bisa kita nikmati.
Sama dengan perjalanan dinas saya diatas, bila saya gagal menikmatinya – maka saya akan tersiksa dalam belasan jam penerbangan yang bisa jadi sangat membosankan. Tetapi sebaliknya bila saya bisa menikmatinya, maka saya akan mendarat dengan bugar dan ketika sopir yang sopan berbasa basi menanyakan bagaimana penerbangan saya – saya bisa menjawabnya dengan tulus bahwa saya sungguh menikmatinya.
Demikian pula ketika Anda merintis usaha Anda, bila Anda tidak bisa menikmatinya – prosesnya bisa sangat menyakitkan ketika orang menolak ide Anda, ketika 3 F (family , friends and fools) tidak memberikan dukungan yang Anda harapkan, ketika tidak kunjung ada (calon) klien yang membeli produk Anda, ketika akhir bulan tidak cukup uang untuk menggaji karyawan Anda dan segudang masalah yang akan Anda temui dalam perjalanan merintis usaha Anda tersebut. Mayoritas (calon) entrepreneur berakhir di death valley karena mereka tidak bisa melalui (menikmati !) perjalanan panjang dalam merintis usaha ini.
Maka salah satu cara untuk mengecek apakah suatu rintisan usaha akan cocok untuk diri Anda atau tidak , adalah dengan menanyakan ke diri Anda sendiri : “Apakah saya akan bisa menikmati perjalanan yang panjang ini ?” , bila Anda yakin bahwa jawabannya adalah “Ya” – maka go ahead, Anda tidak terlalu perlu mencemaskan hasilnya – karena toh perjalanan untuk menempuhnya-pun sudah bisa Anda nikmati !.
Sebaliknya bila jawabannya “Tidak” atau Anda masih ragu, sebaiknya tunda dulu ide Anda dan cari ide lain – sampai Anda ketemu ide yang Anda bisa menikmati ‘perjalanan panjang’-nya.
Mengapa ini penting ?, bayangkan bila Anda harus tersiksa sepanjang perjalanan yang panjang untuk hasil yang juga belum tentu Anda nikmati – rugi dua kali Anda !.
Lantas bagaimana ini dengan pepatah yang kita kenal ‘berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian ?’ Tidak ada kaitannya !. Yang saya maksud ‘menikmati perjalanan’ bukan berarti berfoya-foya menghamburkan uang, menyia-nyiakan waktu, kerja santai dan sejenisnya – tetapi adalah menata hati Anda – bahwa dalam menghadapi segala macam jerih payah , cobaan dan penderitaan yang painful ketika merintis usaha – Anda masih bisa menikmatinya – seperti Anda memiliki dua kuda Umar, yang manapun yang sedang Anda tunggangi tidak menjadi masalah bagi Anda. InsyaAllah !.