Malang adalah salah satu kota yang mempunyai kesan tersendiri bagi saya, bukan karena saya lahir di situ atau pernah tinggal lama di kota tersebut – tetapi Malang adalah kota pertama yang saya pernah kunjungi semasa kecil tanpa pendampingan orang tua. Begitu berkesannya perjalanan pertama tersebut, sampai saya masih ingat lagu apa yang diputar di bus pariwisata kami ketika sedang berada di Batu – padahal itu peristiwa 35 tahun lalu. Dalam kunjungan saya pekan lalu –pun kota ini tetap memberikan pengalaman yang luar biasa, kali ini bukan tentang kota-nya sendiri – tetapi tentang buah yang khas kota itu yaitu apel Malang.
Di hotel tempat saya menginap, di meja reception-nya ada keranjang buah yang di situ hanya ada satu jenis buah yaitu apel Malang. Ketika check-in saya bertanya kepada petugas di sana – “apakah itu buah asli atau ‘buah-buahan’ plastik ?”, dua petugas reception yang ada serentak menjawab “asli pak”. Kemudian saya bertanya, “boleh kah saya mencobanya ?” merekapun menjawab “tentu boleh pak”.
Sesampai di kamar saya ingin bernostalgia dengan menikmati apel Malang ini, setelah beberapa gigitan gigi saya berbunyi ‘kletuk’ mengenai benda keras yang tidak lain adalah biji apel. Kemudian saya ambil biji ini dan hendak saya buang, tetapi sebelum saya buang saya penasaran dengan biji apel yang keras ini. Saya amati warnanya yang coklat kehitaman dan tiba-tiba tersentak di pikiran saya, bahwa biji inilah karunia Allah yang luar biasa – biji yang belum di rusak oleh jahatnya ilmu pengetahuan yang telah memandulkan biji-bijian hampir di seluruh dunia.
Bayangkan dari satu biji ini saja, bisa tumbuh satu pohon apel yang akan menghasilkan ribuan buah apel berikutnya. Dan dari ribuan buah apel tersebut, masing-masing bijinya akan bisa menumbuhkan pohon apel berikutnya. Dari ribuan pohon apel dengan masing-masing ribuan buahnya, maka dalam dua generasi pohon apel saja sudah akan menghasilkan jutaan apel yang awalnya hanya satu biji ini.
Tetapi kenyataannya, mengapa di Malang tidak terus bertambah jumlah pohon apelnya ? bahkan di Indonesia apel Malang kalah dengan apel Impor ?. ya karena biji-biji buah apel yang kita makan pada umumnya tidak ditanam, tidak ada yang menyemainya, tidak ada lahannya dlsb.
Sama dengan perjalanan biji apel tersebut, begitulah perjalanan sebuah ide atau cita-cita. Ketika kita kecil, kita punya cita-cita segunung – ingin jadi ini itu, bahkan tidak sedikit anak kecil yang bila ditanya cita-citanya apa - jawabannya ingin jadi presiden.
Setelah dewasa kita lebih realistis, kita tidak ingin jadi presiden tetapi kita masih punya sangat banyak ide dan cita-cita. Salah satu yang popular dikalangan pekerja/pegawai adalah ingin berhenti bekerja di usia muda dan mulai berusaha sendiri misalnya.
Tetapi mengapa kenyataannya di negeri ini tidak lahir banyak pengusaha ?. sama dengan biji apel tersebut diatas, cita-cita atau keinginan hanyalah sebuah ‘biji’ yang tidak akan tumbuh menjadi pohon dan memghasilkan buah berikutnya bila ‘biji’ tersebut tidak di’semai’, kemudian di‘tanam’ di tanah yang subur, di’pupuk’ dan di’sirami’ sampai dia tumbuh tegak diatas kekuatannya sendiri.
Untuk memiliki satu pohon apel yang berbuah ribuan apel, kemudian ribuah pohon apel yang masing-masing menghasilkan ribuan buah – awalnya tetap harus ditanam satu biji atau bibit apel. Maka inilah yang harus Anda lakukan bila ingin cita-cita Anda tercapai, mulailah menyemai, menanam, menyirami, dan memupuk ide-ide Anda sampai dia menjadi ‘pohon’ yang rindang yang menghasilkan ribuan ‘buah’ berikutnya. InsyaAllah.