Pertama adalah apa yang disampaikan oleh Pak Ilham Hahibi yang merepresentasikan pucuk pimpinan organisasi. Beliau dengan legowo menyampaikan otoktritik kepada organisasinya yang disebutnya bahwa selama ini ICMI sudah dikenal oleh masyarakat luas, namun karya-karya nyata mereka belum dirasakan oleh masyarakat.
Situasi demikian dalam bahasa jawa disebut Wis Diweruh Rung Diroso yang artinya sudah diketahui tetapi belum dirasakan, dan Wis Diweruh Rung Diroso inilah tema materi saya saat itu. Inilah fenomena umum yang menjadi problem berbagai organisasi di negeri ini.
Pasca reformasi di negeri ini lahir berpuluh partai politik, kini sudah lebih dari 12 tahun kemudian apabila ditanyakan ke masyarakat awam apakah mereka sudah merasakan adanya perubahan/perbaikan setelah adanya partai A, B , C dan seterusnya ?, jawaban mereka kemungkinan besarnya adalah belum, masyarakat belum merasakan adanya perubahan atau perbaikan dari adanya partai-partai politik tersebut. Memang segelintir orang tiba-tiba melonjak status sosialnya karena menjadi anggota legislatif maupun eksekutif – tetapi mayoritasnya hanyalalah penonton yang tidak ikut merasakan adanya perubahan tersebut.
Jadi situasi yang dialami oleh ICMI yang mau dengan legowo melakukan otokritik bahwa organisasinya selama ini Wis Diweruh Rung Diroso seharusnya juga menjadi otokritik yang dillakukan oleh para pengurus partai politik-partai politik yang ada di negeri ini maupun berbagai organisasi lainnya.
Hanya setelah organisasi mau melakukan otokritik untuk memahami situasinya, mereka akan bisa berbuat nyata untuk menghasilkan karya-karya yang bener-bener diketahui dan dirasakan oleh masyarakatnya. Situasi diketahui dan dirasakan oleh masyarakat ini dalam bahasa jawa disebut Diweruh Lan Diroso.
Pertanyaannya adalah bagaimana mengubah situasi dari Wis Diweruh Rung Diroso menjadi situasi Diweruh Lan Diroso ini ?. Seperti dalam dunia usaha, organisasi harus mendengarkan dan tahu kondisi sesungguhnya dari ‘pasar’-nya yaitu tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakatnya (need and want), kemudian berusaha sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya (need) dan kemudian setelah memungkinkan juga keinginan-keinginannya (want).
Lantas dari mana memulainya ? mana yang didahulukan untuk dikerjakan ?. Kadang pekerjaan itu terlalu besar atau ide/gagasan itu terlalu muluk sehingga orang awang-awangen untuk mulai mengerjakannya. Maka Pak Adi Sasono punya nasihat khas untuk ini yaitu ‘mulai dari yang kamu tahu, nanti Allah akan memberi tahu apa yang kamu belum tahu...’.
Saya sebut nasihat ini khas beliau, karena setidaknya saya sudah mendengar langsung dalam dua kesempatan seminar bersama berliau dan ternyata nasihat ini sangat efektif bila benar-benar dilakukan.
Sekitar lima tahun lalu sebelum saya mulai menulis buku tentang Dinar dan tentu juga belum memperkenalkan Dinar ke masyarakat sama sekali, saya diundang untuk menyampaikan makalah tentang Dinar oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dalam seminarnya di Bank Indonesia yang juga dihadiri oleh pejabat-pejabat yang terkait di BI waktu itu.
Saat itu tentu juga belum terbayang benar dari mana memulai gerakan Dinar ini, maka disitulah nasihak Pak Adi Sasono tersebut menjadi sangat mudah untuk dipahami. Mulai dari yang kamu tahu, nanti Allah akan memberi tahu apa yang kamu belum tahu !.
Seandainya saja organisasi-organisasi poltik yang ada di negeri ini bener-bener berbuat mulai dari yang mereka tahu dan bisa lakukan, maka menjelang 2014-nanti mereka tidak perlu sibuk-sibuk merayu rakyat untuk memilihnya. Rakyat akan otomatis memilih partai yang mereka ketahui dan yang mereka rasakan hasil kerja kerasnya, rakyat akan memilih partai yang Diweruh Lan Diroso...!.