Entah dari mana sumbernya dan siapa yang mulai, tetapi bagi kebanyakan orang yang bekerja di negeri ini pensiun pada usia 55 tahun. Pensiun juga identik dengan berkurangnya pekerjaan dan pendapatan, maka hari-hari-pun diisi dengan kegiatan yang sekedar ‘membunuh waktu’. Bayangan suram ini yang membuat 9 dari 10 orang bekerja tidak siap untuk memasuki dunia pensiun. Yang jelas pensiun tidak dikenal dalam sejarah Islam, bahkan Uswatun Hasanah kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri justru mulai memimpin serangkaian pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat – yaitu perang pada usia 55 tahun (Perang Badar, 2 H) – pada usia yang sama dengan usia orang sekarang memasuki dunia pensiun !, beliau-pun wafat 8 tahun kemudian tidak seberapa lama setelah agama ini disempurnakan.
Entah dari mana sumbernya dan siapa yang mulai, tetapi bagi kebanyakan orang yang bekerja di negeri ini pensiun pada usia 55 tahun. Pensiun juga identik dengan berkurangnya pekerjaan dan pendapatan, maka hari-hari-pun diisi dengan kegiatan yang sekedar ‘membunuh waktu’. Bayangan suram ini yang membuat 9 dari 10 orang bekerja tidak siap untuk memasuki dunia pensiun. Yang jelas pensiun tidak dikenal dalam sejarah Islam, bahkan Uswatun Hasanah kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri justru mulai memimpin serangkaian pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat – yaitu perang pada usia 55 tahun (Perang Badar, 2 H) – pada usia yang sama dengan usia orang sekarang memasuki dunia pensiun !, beliau-pun wafat 8 tahun kemudian tidak seberapa lama setelah agama ini disempurnakan.
Para penerus beliau dari generasi terbaik juga demikian, Abu Bakar meninggal pada usia 63 tahun ketika beliau ‘masih bekerja’ sebagai khalifah. Umar bin Khattab masih menjabat sebagai khalifah ketika beliau meninggal pada usia 63 tahun – dibunuh oleh seorang Majusi. Khalifah ketiga Utsman bin Affan, syahid pada usia 70 tahun pada saat menjabat sebagai khalifah. Ali bin Abu Thalib – pun syahid pada usia 63 tahun ketika masih menjabat sebagai khalifah dan dibunuh oleh golongan khawarij /pembangkang.
Dari kalangan yang tidak menjabat-pun ada contohnya yaitu Abdurahman bin ‘Auf, beliau meninggal pada usia 72 tahun pada saat puncak keberhasilannya berdagang. Oleh karenanya ketika Abdurrahman bin ‘Auf meninggal, beliau meninggalkan warisan yang sangat banyak yang antara lain terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya Dinar yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar atau sekitar Rp 4.8 trilyun untuk kurs uang Rupiah saat tulisan ini dibuat.
Contoh-contoh tersebut diatas adalah yang diambil dari sirah nabawiyah dan sirah para sahabat, bagaimana dengan contoh di Al-Qur;an ?. Ketika semua cobaan berat dalam hidupnya sudah dilalui, Nabi Yusuf Alahi Salam menjadi pemimpin negeri yang makmur ketika negeri-negeri lain paceklik, saat itulah Nabi Yusuf Alahi Salam ingin diwafatkan. Dia ingin diwafatkan tidak karena penderitaan di dalam sumur, atau sedang difitnah oleh istri penguasa – tidak juga ketika sedang di penjara, tetapi justru ketika sedang berada di puncak prestasinya – sebagai pemimpin negeri, ketika penderitaannya berpuluh tahun berpisah dengan orang tuanya berakhir dengan pertemuannya diantara mereka. Keinginan Nabi Yusuf Alaihi Salam untuk diwafatkan ketika sedang berjaya tersebut diabadikan di Al-Qur’an dalam do’anya :
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takbir mimpi. (Ya Tuhan). Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS 12 : 101).
Dengan sejumlah contoh tersebut diatas, masihkah kita membayangkan bahwa usia 55 tahun ketika kita memasuki dunia pensiun adalah akhir dari karir atau prestasi kita ?. Bila usia harapan kita adalah usia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sejumlah sahabat beliau yang meninggal pada usia 63 tahun – maka masih ada waktu rata-rata 8 tahun untuk berkarya maksimal. Bila usia harapan kita secara statistik di Indonesia adalah 71 tahun, maka masih ada waktu dua kalinya yaitu 16 tahun untuk berkarya maksimal .
Berangkat dari realita di masyarakat sekarang – bahwa ada begitu banyak sumber daya insani yang belum termanfaatkan secara optimal – yaitu para professional dari berbagai bidang pekerjaan dan keahlian – yang telah memasuki usia atau menjelang usia 55 tahun tersebut, kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin sedang merancang program yang kami sebut program PensionReady !.
Program yang terdiri dari training, mentoring, coaching and resources management ini intinya adalah wadah untuk saling berbagi ilmu, ketrampilan dan pengalaman, serta wadah untuk membangun sinergi multi disiplin – agar kita semua dapat beramal secara maksimal sampai akhir usia seperti contoh-contoh tersebut diatas.
Wadah ini juga merupakan bentuk ikhtiar maksimal yang merupakan aktualisasi dari do’a-do’a kita :
“Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih”, “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu.” Ayo siapa mau bergabung ?.