Jum’at lalu saya menulis cerita dari Al-Qur’an tentang umat Nabi Daud yang sudah memiliki 99 ekor kambing namun masih mau memperdaya saudaranya yang hanya memiliki seekor kambing melalui kepandaian berdebat – sehingga kambing satu-satunya tersebut-pun harus diserahkan kepada saudaranya untuk menggenapkan kambingnya menjadi 100. Akhir pekan ini saya selesai membaca satu buku yang isinya mirip sekali dengan cerita di Al-Qur’an tersebut, tetapi setting-nya di jaman ini. Kitalah pemilik seekor kambing tersebut karena rata-rata kita hanya memiliki satu sumber penghasilan yaitu gaji kita dari kantor tempat kita bekerja. Lantas siapa pemilik 99 ekor kambing yang pandai berdebat tersebut ?.
Pemilik 99 ekor kambingnya adalah korporasi-korporasi raksasa yang bergerak di segala sektor mulai dari otomotif, perbankan, credit card, telekomunikasi, kesehatan, asuransi, produsen barang-barang konsumsi dlsb. Kisah bagaimana korporasi-korporasi raksasa memeras uang ‘kambing’ kita satu-satunya ini ditulis dengan detil oleh seorang financial coach kenamaan dari Amerika - David Bach dalam bukunya yang berjudul Fight For Your Money (Broadway Books, New York 2009).
Yang ditulis David memang kondisi masyarakat Amerika dalam dasawarsa terakhir, namun karena gaya hidup a la amrik ini menjadi tontonan kita sehari-hari – maka sangat-sangat mungkin gaya hidup yang serupa juga terjadi di negeri ini. David menekankan bahwa dalam hidup sehari-hari di jaman modern ini, kita harus siap bertempur setiap saat untuk mempertahankan uang kita – bila tidak maka uang kita tersebut akan tersedot oleh kepandaian korporasi-korporasi raksasa dalam memperdaya konsumennya.
Bayangkan misalnya apa yang ada di otak para CEO-CEO dari bank kenamaan di Amerika, perusahaan kartu kredit , perusahaan asuransi, perusahaan telekomunikasi ataupun berbagai perusahaan lain yang pasarnya adalah konsumen – yaitu rakyat Amerika secara keseluruhan. Tahun lalu perusahaan-perusahaan mereka sudah untung beberapa milyar Dollar dan para CEO-pun sudah mendapatkan bonus beberapa puluh juta Dollar (seorang CEO perusahaan asuransi Amerika tahun 2008 ada yang bisa mendapatkan penghasilan sampai US$ 24 juta!).
Tahun ini para CEO tersebut memiliki target yang lebih ambisius lagi, untung harus naik karena mereka juga butuh penghasilan yang lebih besar lagi. Tetapi darimana untung yang semakin besar tersebut akan mereka peroleh ?, maka berputarlah otak mereka dan seluruh ahli-ahli pemasaran sampai keuangan di perusahaan masing-masing – hasilnya abracadabra...para CEO ini dan seluruh teamnya berhasil melahirkan formula kreatif untuk memeras konsumennya agar lebih banyak menggunakan produk barang atau jasa perusahaannya dan membayar uang lebih banyak lagi ke perusahaan.
Formula kreatif untuk memeras uang lebih banyak dari konsumen tersebutlah yang saya ibaratkan mantra ‘keahlian berdebat’-nya kaum nabi Daud AS. Masing masing jenis perusahaan memiliki kiat-kiatnya tersendiri untuk mengambil uang lebih banyak dari konsumennya. Berikut diantaranya beberapa contoh perusahaan yang diulas oleh David Bach dalam bukunya tersebut diatas :
Bank atau credit card company menggunakan berbagai istilah seperti minimum payment, late payment charge dlsb. untuk mengeruk dana dari nasabahnya dari perbagai penjuru. Dicontohkan di buku tersebut misalnya seorang yang memiliki tunggakan kartu credit US$ 10,000; oleh bank diijinkan membayar minimum per bulan hanya US$ 200 dengan suku bunga 2.5% per bulan atau 30% per tahun !. Maka menurut hitungan David Bach ini orang tersebut sudah akan menjadi budak yang bekerja ibarat mesin uang bagi bank/credit card company sepanjang hidupnya – karena dengan pola pembayaran tersebut nasabah ini baru bisa melunasi hutang credit card-nya setelah 50 tahun ...itupun kalau dia masih hidup saat itu !.
Perusahaan asuransi punya cara lain untuk mengeduk uang dari nasabahnya. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh penulis best seller yang sering muncul di acaranya Oprah Winfrey ini – dengan sukses yang fantastis-nya beberapa perusahaan asuransi – ternyata semakin banyak rakyat Amerika yang tidak mampu lagi membayar asuransi-nya.
Pada tahun yang sama seorang CEO perusahaan asuransi di sana bisa berpenghasilan US$ 24 juta setahun dan top 20 perusahaan asuransi negeri itu mendapatkan untung diatas US$ 17 milyar, ada sekitar 72 juta orang di Amerika atau sekitar 25 % dari populasi negeri itu yang tidak lagi mampu membeli asuransi kesehatan.
Keuntungan yang berlebihan bagi perusahaan dan juga para CEO-nya ini, jelas menjadi beban berlebihan bagi sebagian besar nasabahnya. Seandainya masyarakat tahu bahwa mereka hanya butuh asuransi untuk cover risiko (term life) yang preminya hanya seper lima sampai seper sepuluh dari yang ditawarkan oleh para agen asuransi di Amerika – maka ketimpangan ini tidak akan terjadi.
Lain bank, lain asuransi , lain pula kiat perusahaan telekomunikasi memeras dana konsumen. Melalui berbagai iklannya yang seolah beban biaya telepon sangat murah atau bahkan sebagian gratis, ternyata untung perusahaan telekomunikasi terus pada menjulang tinggi dari waktu ke waktu. Dari mana untung ini jadinya ?. ya dari mana lagi kalau bukan dari para konsumen juga, melalui struktur biaya tagihan yang njlimet yang tidak mudah dipahami.
Yang ditulis David tetang tingkah laku perbankan, perusahaan asuransi, perusahaan telekomunikasi dan berbagai peruahaan lainnya tersebut sekali lagi memang di Amerika – tetapi dari membaca trik-trik yang ada di buku ini, rasanya saya paham itu juga terjadi di Indonesia.
Perusahaan asuransi yang CEO-nya berpenghasilan US$ 24 juta tahun 2008 di amrik tersebut diatas misalnya – mereka juga memiliki perusahaan joint venture di Indonesia. Yang di Indonesia inipun sangat besar untungnya – meskipun perusahaannya sendiri tidak begitu terkenal. Salah satu direksinya yang saya kenal secara pribadi dahulu suka membanggakan keberhasilan perusahaannya dalam ‘memaksa’ seorang nasabah membayar premi terus menerus setiap bulan – tanpa nasabah tersebut menyadarinya !.
Bila di statement of account credit card Anda ada beberapa puluh ribu tagihan premi asuransi diantara sekian juta saldo tagihan, maka mungkin Anda cuekin dan otomatis terbayar oleh system tagihan kartu kredit Anda - kalau toh Anda nggak bayar ya otomatis menambah hutang Anda yang akhirnya Anda bayar juga !. Kelihatannya kecil hanya beberapa puluh ribu, tetapi ini berjalan dari bulan kebulan dari tahun ketahun untuk membayar suatu proteksi yang Anda juga tidak tahu untuk apa dan apakah Anda perlukan atau tidak – bahkan kalaupun Anda semestinya berhak klaim, Andapun tidak meng-klaimnya karena tidak tahu harus kemana, bagaimana dst. Jadi bayangkan betapa besar untungnya perusahaan-perusahaan asuransi yang bisa nge-bill account Anda secara otomatis di credit card ini !.
Lho kan mereka tidak bisa begitu saja menagih di credit card tanpa persetujuan Anda ?. Oh iya..., Anda lupa suatu hari menerima tagihan credit card bersama brosur indah dan penawaran yang begitu menarik sehingga Anda sign di salah satu form-nya tanpa berpikir panjang. Mulai saat itulah tagihan otomatis di credit card Anda tersebut terus muncul tanpa Anda sadari.
Dibidang telekomunikasi juga demikian, dari ruang kerja saya di rumah saat saya menulis artikel ini misalnya - dengan mudah saya dapat melihat para pembantu rumah tangga yang hilir mudik di jalan komplek sambil berhaha-hihi di telepon genggamnya. Apakah mereka sedang menelpon untuk urusan bisnis ?, hampir pasti tidak.
Sama halnya dengan bila Anda amati anak-anak SD, SMP, SMA bahkan mahasiswa yang hilir mudik di jalan – sekian banyak diantara mereka sedang berbicara di telepon atau sedang sms ketika Anda lihat. Untuk urusan produktif kah ?, hampir pasti juga tidak !. Lantas siapa yang membayar telepon mereka-mereka ini ?.
Bagi para pembantu, ya tentu saja dibayar dari sekian persen dari gajinya setiap bulan (konon ada yang sampai 25% dari gajinya habis untuk membeli pulsa setiap bulannya !); bagi pelajar dan mahasiwa tentu orang tuanya yang membayar pulsa telepon tersebut – menambah satu lagi beban bagi orang tua yang hanya memiliki seekor kambing (baca satu sumber penghasilan !).
Bahkan ada kisah nyata di masjid kami, setiap Ahad sore sampai magrib ada pembinaan kepada anak-anak kurang mampu di sekitar komplek. Kemudian setiap akhir bulan mereka diberi santunan ala kadarnya, alhamdulillah kini proses santunan tersebut sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun dengan anak-anak yang sebagian baru setiap tahunnya. Maksud santunan ini tentu agar mereka bisa membeli buku, membayar uang sekolah atau kebutuhan dasar lainnya – meringankan beban orang tuanya.
Ironinya sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, ketika anak-anak kurang mampu tersebut keluar dari masjid sehabis sholat magrib – sekian banyak anak seolah memiliki ritual baru – yaitu mengeluarkan dari tasnya hampir serentak telepon genggam-telepon genggam masing-masing. Kemudian sambil berjalan pulan, diantara mereka ada yang sambil bicara di telepon dan adapula yang sambil sms – persis layaknya orang-orang kantoran di jam-jam sibuk !. Apakah telah terjadi perubahan sosial besar, sehingga anak-anak kurang mampu di sekitar komplek tersebut kini telah menjadi anak-anak yang mampu dan sibuk dengan urusan bisnisnya ?. Alhamdulillah bila demikian.
Namun yang saya kawatirkan kalau yang berubah hanya prioritasnya. Mereka tidak lagi menggunakan uang santunan untuk membeli buku, membayar uang sekolah dlsb – tetapi untuk membeli pulsa telepon !. Pasti membanggakan bagi operator telepon karena terus bertambahnya jumlah pengguna telepon. Tetapi ketika pengguna tersebut adalah para pembantu rumah tangga, anak-anak sekolah bahkan termasuk juga anak sekolah yang masuk kategori kurang mampu inipun rame-rame membeli pulsa bukan untuk sesuatu yang lebih penting – maka apakah ini tidak mirip pemilik 99 ekor kambing yang sedang meminta satu-satunya kambing saudaranya ?.
Lantas bagaimana kita mempertahankan seekor kambing kita ini agar jangan diambil oleh korporasi-korporasi raksasa yang telah memiliki 99 ekor kambing ?. Ini yang memang harus kita renungkan serius. Langkah awal yang bisa kita lakukan adalah memperhatikan setiap pengeluaran di keluarga kita masing-masing, beli atau bayar yang benar-benar perlu dan yakin betul bahwa kita memang membutuhkan produk barang atau jasa tersebut. Bila ini secara disiplin dapat kita lakukan terus menerus dari bulan ke bulan dan dari tahun ketahun – maka insyaAllah seandainya hanya satu ekor kambing-pun (satu sumber penghasilan) yang kita miliki, si kaya pemilik 99 ekor kambing tidak akan bisa mengambilnya dari kita. InsyaAllah.