Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed
Kincir

Judul tulisan ini saya ambil dari buku – the Big Switch karya Nicolas Carr (W.W. Norton & Co.; 2008) yang saya baca menjelang saya terjun nangani Gerai Dinar lebih dari setahun yang lalu. Buku ini pula yang ikut memberi inspirasi saya pada system-system yang kita kembangkan untuk GeraiDinar dan berbagai usaha kedepan.

 

Dalam legenda industri Amerika abad 19, dikenal nama Henry Burden yang karyanya antara lain dapat Anda lihat pada foto disamping. Henry Burden perlu membuat pembangkit listrik tenaga air dengan kincir raksasa setinggi 60 ft untuk pabrik sepatu kuda-nya yang memproduksi rata-rata 1 sepatu kuda per detik !. Pada zaman itu orang masih bepergian naik kuda, jadi sangat banyak sepatu kuda dibutuhkan.

 

Namun bukan pabrik sepatu kuda yang luar biasa ini sumber inspirasinya, melainkan adalah sumber tenaga yang harus disediakan oleh pabrik sepatu kuda itu sendiri yang bisa menjadi pelajaran bagi kita yang hidup sekarang.

 

Saat itu setiap pabrik harus memiliki sumber energi sendiri karena masing-masing pabrik – konon mempunyai spesifikasi kebutuhan energi yang berbeda-beda. Bisa kita bayangkan betapa tidak efisiennya saat itu karena setiap pengusaha yang akan membuat pabrik, berarti dia juga harus bersusah payah membangun pabrik energynya.

 

Inefisiensi juga terjadi ketika ada kelebihan daya dari satu pabrik, tidak bisa dipakai untuk pabrik yang lain karena lagi-lagi spesifikasi yang katanya berbeda.

 

Masalah inefisiensi sumber energy ini baru teratasi   abad berikutnya ketika mulai bermunculan utility company (kalau di Indonesia PLN), yaitu satu perusahaan energy yang besar – yang dapat mensuplay kebutuhan energy berbagai industri dan rumah tangga sekaligus.

 

Dengan adanya utility company, pemilik pabrik hanya perlu fokus untuk membuat pabrik yang memproduksi produk intinya – setelah pabrik jadi tinggal di sambungkan ke PLN – maka pabrikpun siap beroperasi. Inefisiensi energy juga bisa diatasi karena daya yang tidak dipakai oleh suatu pelanggan, otomatis bisa dipakai oleh pelanggan yang lain.

 

Pengembangan teknologi informasi oleh perusahaan-perusahaan sampai kini masih seperti pembuatan pabrik energy era Henry Burden tersebut diatas. Setiap perusahaan besar (bahkan juga yang menengah, kadang bahkan yang kecil) harus membuat sendiri-sendiri system IT-nya. Setiap perusahaan beli hardware sendiri, software sendiri, punya team IT sendiri dst. Kelebihan resources di satu perusahaan, tidak bisa dialokasikan untuk yang lain – alasannya karena kebutuhannya berbeda – persis alasan era pabrik sepatu kuda abad 19 tersebut diatas.

 

Ini bahkan juga terjadi di perusahaan sejenis yang pemiliknya sama. Pemerintah misalnya memiliki saham 100% atau mayoritas di sejumlah bank pemerintah , sejumlah perusahaan asuransi, dua perusahaan telekomunikasi, sejumlah perkebunan, sejumlah perusahaan transportasi dlsb. Setiap perusahaan pemerintah tersebut sampai kini masih membangun system IT-nya sendiri-sendiri. Alasannya lagi-lagi adalah setiap perusahaan memiliki kebutuhan IT yang berbeda satu sama lain.

 

Bisa jadi alasan ini benar ,  kalau kita hidup di jaman sepatu kuda tersebut diatas mungkin kita juga nggak kebayang akan ada utility company semacam PLN. Tetapi bisa dibayangkan di jaman ini betapa inefisiennya bila pabrik-pabrik harus membangun power plant-nya sendiri-sendiri. Demikian pula dalam hal system IT, saat ini belum muncul IT uitility Company  sehingga perusahaan-perusahaan yang notabene bos-nya sama -pun yaitu pemerintah dan ujungnya adalah rakyat Indonesia – ya kita-kita ini ! - harus membangun system IT-nya sendiri-sendiri.  Berapa banyak pemborosan untuk membeli hardware & software, untuk membayar IT professional dlsb.

 

Mungkinkah konsep membangun sendiri system IT oleh masing-masing perusahaan tersebut ditinggalkan ? diganti dengan satu system yang bisa dipakai oleh siapa saja – tinggal nyolokin  ke IT utility company – langsung perusahaan bisa jalan ?.

 

Sangat mungkin !, bahkan ini sudah mulai dilakukan orang. Setidaknya ada tiga perusahaan kelas dunia yang siap ‘menyewakan’ systemnya untuk perusahaan apapun. Bahkan untuk bisnis baru yang belum ada modelnya sekalipun. Anda yang tertarik bisa kunjungi situsnya SAP, Oracle atau Salesforce.Com; pelajari capability mereka dalam menyediakan apa yang disebut CRM on demand, Anda akan bisa belajar betapa mudah dan efisiennya ‘menyewa’ system ini ketimbang membangun sendiri.

 

Dalam skala kecil, GeraiDinar hanya perlu 4 hari untuk meng-customize CRM on demand yang ditawarkan oleh salah satu perusahaan tersebut untuk bisa beroperasi dengan efisien sejak usianya yang pertama.

 

Bagi yang ingin terjun ke usaha baru, jangan terlalu kawatir masalah IT ini sekalipun Anda bukan jago IT – sangat mungkin untuk kebutuhan IT Anda – Anda bisa sewa saja; dalam hitungan hari usaha Anda bisa jalan sudah dengan system IT yang canggih.

 

Dengan konsep inipula insyaallah Dinar akan menyebar lebih cepat dalam bulan-bulan kedepan melalui jalur BMT-BMT yang kerjasamanya sudah mulai dirintis beberapa bulan lalu. BMT-BMT lama maupun baru yang ingin ikut menyebarluaskan Dinar atau membuka tabungan Dinar tidak harus cape-cape membuat systemnya sendiri. Tinggal colokin komputernya ke system GeraiDinar, maka system tabungan berbasis Dinar, pengendalian asset Dinar dlsb langsung siap jalan. InsyaAllah.