Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Pathways to Affordable and Clean Energy

Dunia di bawah PBB sebenarnya sudah punya cita-cita yang mulia sejak 7 tahun lalu. Disepakatilah saat itu dalam Paris Agreement bahwa semua negara harus mencapai apa yang disebut 17 SDGs atau Sustainable Development Goals pada tahun 2030, diantaranya adalah goal no 7 yaitu Affordable and Clean Energy.

Kini 7 tahun telah berlalu, jauh panggang dari api, bak langit dan bumi - belum ada tanda-tanda sedikit-pun bahwa kita akan menuju energi bersih nan terjangkau. Sudah 7 tahun berlalu, belum ada tanda-tanda bahwa energi kita akan menjadi affordable apalagi clean!



Malah sebaliknya, ongkos energi menjadi cenderung semakin mahal dari hari ke hari, batubara-pun dan minyak bumi yang dikambing-hitamkan jadi penyebab emisi - kini jadi perebutan global, bahkan di sejumlah negara tidak lagi mampu membelinya - dan masyarakatnya tidak lagi bisa membeli bahan bakar.

Alhamdulillah kita tidak seburuk itu, masyarakat kita masih bisa membeli BBM yang dibutuhkannya. Tetapi juga sudah nampak jelas 'sosialisasi' bahwa harga BBM itu kemungkinan akan naik tajam di masa-masa mendatang. 'Sosialisasi' itu antara lain berupa informasi resmi ke masyarakat dengan apa yang disebut harga keekonomian atau gampangnya adalah harga yang seharusnya untuk produsen tidak rugi. Pertaiite misanya seharusnya Rp 17,200/Liter dijualnya hanya Rp 7,650/Liter. Artinya apa? BBM kita akan naik rata-rata lebih dari dua kalinya bila subsidi dicabut.

Subsidi ini adalah buah simalakama, tidak dicabut pemerintah mungkin tidak akan mampu selamanya men-subsidinya, atau minimal ada fungsi-funsi pembangunan lainnya yang dikorbankan karena anggarannya habis untuk subsidi BBM ini. Di sisi lain bila dicabut, sudah pasti rakyat akan menjerit - karena beban hidup yang sudah berat menjadi semakin berat.

Maka untuk keluar dari jebakan simalakama tersebut - SDGs no 7 tersebut di ataslah yang harus jadi prioritas. Saya melihat ada jalan ke arah sana - bila saja para stakeholders BBM ini mau melihat ke arah yang sama. Produksi minyak kita yang kini di kisaran 700,000 BPD (Barrel Per Day) sedangkan kebutuhannya sekitar dua kalinya (1.4 s/d 1.5 juta BPD), sesungguhnya dapat dipenuhi seluruhnya dari dalam negeri dengan cara yang murah.

Bagaimana bisa? ilustrasi di bawah penjelasannya. Kita memiliki 14 juta hektar lahan kritis dan sangat kritis, kalau ini saja ditanami tamanu - maka jauh sebelum 2030 - kita akan punya panenan minyak tamanu yang setara dengan 1.4 juta BPD minyak. Selain itu kita punya potensi Bio-Oil dari biomassa yang setara dengan 600,000 BPD minyak, terdiri dari sampah perkotaan, limbah padi, limbah jagung dan cangkang tamanu.

Jalan jelas ada, tetapi siapa yang mau menempuh jalan ini? Selain pemikiran, kami juga sudah siapkan seluruh teknologi yang dibutuhkan. Yang belum ada tinggal akses /dukungan lobi politik dan pendanaannya saja! Anda mungkin yang bisa mengisi dua kebutuhan ini?