Bio-Gasoline Pathways
Hingga tahun 2030 (Tahun SDGs) 44% produksi mobil baru di dunia saat itu masih berbahan bakar bensin. Padahal mobil-mobil baru ini minimal dipakai hingga 20 tahun berikutnya, artinya hingga tahun 2050 (tahun Net-Zero) mobil-mobil berbehan bakar bensin masih dominan di jalan raya di seluruh dunia.
Ini akan menjadi masalah pelik karena hampir pasti kita tidak lagi memiliki sumber minyak saat itu, kalau toh masih ada di pasaran - penggunaannya harus di-offset dengan carbon removal untuk men-Zero-kan Net Emission-nya, dan ini bisa sangat mahal saat itu.
Tetapi kita punya solusinya yang asal kita mau saja, Net-Zero dari mobil-mobil bensin tersebut bisa kita capai bahkan sebelum tahun SDGs 2030. Bagaimana caranya? Secara bertahap dalam beberapa tahun ini kita gantikan BBM bensin dengan Bio-Gasoline. Ada setidaknya 3 cara untuk menghasilkan Bio-Gasoline seperti yang saya pegang dalam foto ini.
Pertama menggunakan minyak nabati, semua jenis minyak nabati memiliki komponen oleic acid dan linoleic acid. Setelah dibelah double bond-nya dan dilepas unsur oksigennya - maka jadilah dia rantai carbon di kelas bensin. Teknologi kita insyaAllah siap saat ini juga bila sudah dibutuhkan.
Kedua mengunakan bahan baku biomassa - apapun. Yang melimpah saat ini adalah limbah pertanian dan sampah perkotaan. Namun kalau bahannya biomassa, diperlukan dua tahapan proses yaitu proses likwifaksi menjadi bio-oil kemudian di-upgrade menjadi biofuels - diantaranya menjadi Bio-Gasoline. Teknologi yang ini juga sudah siap.
Ketiga adalah menggunakan biomassa dari microalgae. Bila selama ini para peneliti berburu minyak microalgae ke species-species tertentu yang banyak menghasilkan minyak, sekarang sudah tidak spesifik harus microalgae species tertentu. Species apa saja, termasuk species microalgae liar yang tumbuh sangat cepat - bisa diolah menjadi biofuels termasuk Bio-Gasoline melalui dua tahapan proses tersebut di atas. Untuk yang berbasis microalgae ini menunggu ikhtiar teman-teman penggerak microalgae untuk mencapai skala ekonomisnya.
Mana saja yang diambil dari tiga pendekatan tersebut - atau kombinasi dari ketiganya - bahkan bila harus menanam berbagai tanaman baru kelapa, tamanu, jarak atau buididaya microalgae sekalipun - insyaAllah sudah sangat bisa dimulai saat ini - sehingga kita sudah akan punya solusi jauh sebelum tahun SDGs apalagi Net-Zero jatuh tempo. InsyaAllah.