Introducing LocaleFuel
Di era fossil fuels lebih dari seabad terakhir, sumber-sumber minyak ditambahg dalam skala besar, demikian pula infrastruktur pengiriman minyak mentah, refinery sampai distribusi BBM ke konsumen akhir. Semuanya dalam skala besar sehingga production cost-nya bisa ditekan.
Namun pengelolaan BBM dalam skala besar dan tersentralisir juga nemiliki kelemahan tersendiri, yaitu distribusi produk BBM yang sangat mahal terutama untuk pulau-pulau dan daerah terpencil yang di Indonesia ada belasan ribu jumlahnya.
Bukan hanya berat di anggaran subsidi untuk distribusi, pengelolaan BBM juga nemiliki carbon foot print yang sangat serius. Mulai dari pdngiriman bahan baku, distribusi product sampai pembakarannya sendiri di tingkat pengguna.
Di era biofuels inilah kesempatan kita untuk melakukan perbaikan dampak lingkungan atas penggunaan energi kita khusudnya BBM. By nature sumber bahan bsku untuk biofuels sudah menyebar ke seluruh penjuru Nusantara. Kalau diolah secara centralized lagi seperti era fosil akan berat di ongkos transportasi bahan baku dan distribusi produk.
Itulah sebabnya yang kami usung adalah LocaleFuel, istilah ‘locale’ ini lebih sesuai karena menyangatkan bahwa seluruh aktivitas produksi dan konsumsi di daerah yang sama. Selain menekan carbon footprint dari aktivitas transportasi BBM, yang sangat penting justru pelibatan masyarakat setempat dalam seluruh aktivitas ekonomi energi - yaitu ekonomi terpenting kedua setelah ekonomi pangan.
Dari sisi teknologi juga tidak ada masalah, karena seluruh teknologi yang dipakai di kilang-kilang besar seperti cracking, fractional distillation dlsb. bisa di scale-down ke skala micro. Bisa jadi tidak seefisien kilang raksasa - tetapi unsur peningkatan biaya produksi per satuan produknya akan ter-offset oleh rendahnya biaya transportasi bahan baku maupun produk akhir.
Sesuai nananya LocaleFuel memang sementara bukan untuk semua wilayah. Pulau-pulau dan kota-kota besar tentu masih efisien dilayani oleh kilang-kilang raksasa selagi minyak bumi masih ada. Maka LocaleFuel awalnya bisa diarahkan untuk long tail market - yaitu pulau atau daerah terpencil yang tidak ekonomis untuk dilayani dari pusat, pulau atau kota besar.
Kelak bila minyak bumi tidak ada lagi di kita, dan impor menjadi terlalu mahal - bisa karena faktor geopolitik seperti perang di Ukraina saat ini, atau bisa juga karena sumber minyak yang semakin menipis sementara kebutuhan dunia yang membengkak, atau faktor lain seperti kebutuhab kita untuk energy transition menuju Net-Zero dlsb. Maka saat itulah kita akan sangat beruntung bila sudah jauh-jauh hari menerapkan konsep LocaleFuel ini. InsyaAllah