Energy Transition : Perfect Model For Perfect Timing
Kemarin harga minyak dunia menembus angka $ 100/barel, dan secara keseluruhan harga minyak dunia sudah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir. Harga minyak tinggi seperti ini pasti menjadi anggaran yang sangat berat bagi negara-negara net-importer minyak, termasuk Indonesia.
Selain gejolak harga tinggi sesaat seperti yang terjadi kemarin karena trigger serangan Rusia ke Ukraina, ada alasan fundamental yang akan membuat harga minyak bumi cenderung terus meninggi, yaitu menurunnya cadangan minyak bagi sejumlah negara di dunia.
Di sisi lain, dunia juga sudah menyepakati target emisi bersih nol (Net-Zero) untuk pertengahan abad ini 2050 atau kurang dari tiga dasawarsa dari sekarang. Maka agenda energy transition menjadi target pembicaraan tingkat tinggi dunia - termasuk dalam pertemuan G20 di Bali Oktober mendatang.
Meskipun begitu tingginya atensi dunua dalam masalah ini, saat ini belum bisa dipastikan solusi ideal untuk energi bersih ini. Biofuels yang ada masih 78%-nya mengambil jatah pangan, Hydrogen masih butuh satu dasawarsa untuk komersialisasinya, dlsb.
Maka yang kami tawarkan ini bisa menjadi salah satu solusi ideal untuk model energy transition di Indonesia maupun negara-negara lain yang memiliki lahan gersang bahkan gurun. Ketika pohonnya ditanam dia menjadi carbon removal yang efektif, ketika bijinya dipanen dan digunakan sebagai BBM , dia carbon neutral.
Yang sederhana minyak dari bijinya diubah jadi biodiesel, contoh mesinnya yang kami buat sudah saya publish di posting saya sebelumnya. Tetapi selain biodiesel memiliki kelemahan dalam energy content dan compatibility, masyarakat juga butuh energi pengganti petrolium diesel yang sepenuhnya compatible dengan mesin dan infrastuktur yang ada, bahkan juga butuh bensin, biojet dan LPG.
Tidak masalah juga katena minyak biji tamanu yang kita tansm ini seoenuhnya bisa menjadi bahan baku utama seluruh jenis BBM dan gas tersebut di atas. Setidaknya ada tiga rute untuk mengolah minyak tamanu ini menjadi pengganti semua jenis fuels yang kita butuhkan tersebut, semua keahlian yang ada juga siap digerakkan.
Dua dari tiga rute ini sudah matang teknologinya karena sudah dipakai di proses lain juga, yaitu catalytic cracking dan catalytic pyrolysis. Yang ketiga masih butuh penyempurnaan untuk kesiapan scale-upnya, yaitu penggunaan proses enzimatik.
Walhasil manapun teknologi yang dipilih, insyaAllah kita punya model yang perfect untuk energy transition kita jauh sebelum target waktu yang disepakati yaitu 2050. InsyaAllah.