Bulan November ini akan ada konvensi tingkat tinggi dunia untuk perubahan iklim, yaitu UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Salah satu yang akan diusung sejumlah pihak adalah prakarsa yang disebut Net Zero.
Net Zero adalah ikhtiar untuk mengimbangi emisi yang masih terpaksa keluar dengan serapan yang sepadan, sehingga hasil bersih emisi menjadi 0%. Dengan ikhtiar ini diharapkan suhu global tidak naik lebih tinggi dari 1.5 C dibandingkan suhu pra-industri dahulu.
Terlepas dari apakah prakarsa Net Zero tersebut disepakati atau tidak, kita memang kudu melakukan perbaikan di muka bumi ini, karena ini perintah agama - bukan karena desakan atau kepentingan pihak manapun.
Kita di Indonesia paling memungkinkan untuk memimpin dalam gerakan Net Zero ini atau apapun nama atau 'bahasa kaumnya' yang dipilih untuk zaman ini. Yang paling efektif, paling murah dan paling baik dampaknya untuk alam ya menanam pohon - hikmah dari apa yang diperintahkan Nabi SAW untuk kita lakukan hingga akhir zaman.
Dalam hitungan saya, rata-rata penduduk Indonesia saat ini mengeluarkan emisi sekitar 2.2 ton setara CO2 per kapita per tahun. Kalau masing-masing kita menanam 7 pohon tamanu saja, maka emisi kita akan terserap sepenuhnya.
Tetapi syaratnya harus di tanah yang semula gersang - tidak ada tanaman lain, dan kita punya 14 juta hektar lahan seperti ini yang kita sebut lahan ktitis dan sangat kritis. Bila ini saja berhasil kita tanami dalam 10 tahun ini, 2/3 emisi kita sudah terserap, tinggal mencari ikhtiar yang 1/3-nya.
Karena tidak semua kita bisa menanamnya, maka yang mampu harus menanam lebih banyak, apakah mau mereka ini menanam lebih banyak? Itulah ada konsep wakaf dalam Islam, termasuk wakaf pohon ini. Menanan pohon inilah yang dijanjikan langsung oleh Nabi SAW - akan diberi pahala hingga hari kiamat, siapa yang tidak mau?