Sepuluh bulan lalu, dalam tulisan saya yang berjudul “Saya ‘Bermimpi’ Obama Ke Jonggol…” saya menceritakan ‘mimpi’ tentang bagaimana suatu saat nanti masalah-masalah global bisa diselesaikan melalui ‘Pesantren Pengamal Al-Qur’an’ di Jonggol ini. Sabtu – Ahad kemarin, bersamaan dengan acara rutin Pesantren Wirausaha Akhir Pekan di Daarul Muttaqiin – Jonggol Farm, mimpi tersebut terasa dekat melihat kwalitas tamu-tamu saya yang datang hari itu.
Sepuluh bulan lalu, dalam tulisan saya yang berjudul “Saya ‘Bermimpi’ Obama Ke Jonggol…” saya menceritakan ‘mimpi’ tentang bagaimana suatu saat nanti masalah-masalah global bisa diselesaikan melalui ‘Pesantren Pengamal Al-Qur’an’ di Jonggol ini. Sabtu – Ahad kemarin, bersamaan dengan acara rutin Pesantren Wirausaha Akhir Pekan di Daarul Muttaqiin – Jonggol Farm, mimpi tersebut terasa dekat melihat kwalitas tamu-tamu saya yang datang hari itu.
Yang pertama datang siang sampai sore adalah saudara kita Muslim warga negara Inggris kelahiran Pakistan, dia ini adalah orang yang sangat berpengaruh di dunia financial Inggris – yang bahkan bersama teamnya mampu memperjuangkan amendmen di Undang-undang Inggris sehingga memungkinkan industri financial Islam tumbuh disana.
Dia juga bekerja sama dan berkawan dekat dengan tokoh-tokoh AAOIFI (Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial Institutions) dan bahkan berjanji akan mengajak tokoh-tokoh ini ke Jonggol bila kita memerlukannya. AAOFI yang bermarkas di Bahrain inilah rujukan yang dipakai oleh para praktisi keuangan Islam di seluruh dunia.
Ketika acara pesantren dimulai habis magrib, berdatanganlah peserta dari berbagai kalangan yang malam itu akan ikut mabit di masjid sambil berbagi ilmu dan pengalaman sampai keesokan harinya.
Dari sisi peserta saya rasakan adanya peningkatan yang luar biasa, bukan pada jumlahnya karena jumlah kita batasi 150 – tetapi pada diversifikasi latar belakang peserta.
Ada presiden direktur dari perusahaan raksasa yang mengajak team direksinya untuk bergabung di mabit kali ini, ada sejumlah direksi lain dari beberapa perusahaan, ada pengusaha muda yang sukses dan banyak pengusaha-pengusaha baru yang sudah ikut di acara sebelumnya. Dan tentu yang paling banyak adalah anak-anak muda yang eager untuk belajar dan beramal.
Melihat mereka semua duduk dalam satu majlis di masjid, tidur bersama di masjid terbuka hanya dengan beralaskan karpet – kita tidak bisa lagi membedakan mana yang dirut, mana yang pengusaha, mana yang pemula dan bahkan juga mana yang masih sedang belajar. Interaksi di antara mereka inilah yang insyaallah nantinya bisa berkontribusi dalam penyelesaian masalah-masalah global seperti yang saya impikan di atas.
Maka ketika seorang peserta menceritakan keberhasilannya menanam singkong dengan tingkat hasil 80 ton s/d 120 ton per hektar (umumnya hanya sekitar 30 ton/ha), serta merta peserta lain antusias menyambutnya dan siap mengunjunginya segera. Pengusaha peternakan besar yang hadir siap menampung hasilnya untuk pakan ternak, pengusaha lain yang hadir siap mengucurkan dana untuk penanaman yang lebih luas. Kelompok tani dari lumbung padi nasional yang juga hadir, siap menyediakan lahan tegalan di daerah mereka yang selama ini tidak bisa ditanami padi dst.
Bila resources dari komunitas ini beserta jaringannya tidak lagi cukup (efektif) untuk menggarap potensi yang ada di negeri ini, maka tamu yang datang jauh-jauh dari Inggris tersebut juga siap menggerakkan Islamic Fund global untuk membantu memakmurkan negeri ini.
Ada hikmah yang luar biasa yang saya ambil dari diskusi saya dengan dia, bahwa pasca krisis financial global yang sekarang belum sepenuhnya berakhir – industry financial global mendapatkan pelajarannya yang sangat penting. Pelajaran itu adalah bahwa ekonomi dunia tidak bisa dibangun dari bubble – gelembung.
Ekonomi dunia harus dibangun dari asset riil dan dari kerja keras, ekonomi dunia tidak bisa dibangun melalui mengambil sumber daya yang ada di alam tanpa menggantinya. Harus ada tindakan untuk me-restorasi kerusakan alam agar dunia sustainable sampai generasi-generasi berikutnya.
Maka ketika tamu tersebut di atas menyaksikan sendiri bagaimana pohon-pohon usia dua tahun yang menjulang tinggi, kotoran padat dan cair dari ternak kambing yang semuanya jadi pupuk, limbah pertanian yang difermentasi jadi pakan ternak dst., dia berkata bahwa bila usaha-usaha seperti ini di scale up dan membutuhkan modal secara besar – di luar kemampuan local market – dia siap menggerakkan jaringannya untuk membantu.
Seolah ingin meyakinkan dukungannya, dalam perjalanan balik menuju negerinya – tamu tersebut masih sempat menulis email panjang yang penggalannya saya share sebagai berikut : “….I was impressed with your business focus, commitment and thought process to build an environment that takes care of human health, creates commercial value and the natural environment that has been rather neglected by many. I am sure your initiatives are not only in line with preserving the natural resources, creating and compounding wealth but also enhancing its real value by efficiently bringing them into effective use as I have seen the practical examples and fruit of that today. No doubt you are also reducing waste, pollution and environmental degradation. Bravo…well done and I am proud to be associated with such a genius and such a humble person.
I look forward to staying in touch and will be sending you my further thoughts and other info., as promised, before the end of June 2012.”
Nah yang saya ingin share dengan para pembaca dan para peserta pesantren sebelumnya yang kemarin tidak bisa hadir adalah bahwa secara de facto jaringan itu mulai terbentuk. Antara pengusaha-pengusaha yang ada, para professional, para manager, para innovator dan bahkan juga akses terhadap permodalan yang kini terbuka luas – bahkan bila modal itu melebihi kapasitas lokal kita untuk membiayainya sendiri.
Silahkan hubungi kami bila ada ide dan pekerjaan besar Anda yang sekiranya bisa kami synergy-kan dengan komunitas dan jaringan yang mulai terbentuk ini. InsyaAllah.