Pelajaran dari Covid-19 : The Good, The Bad, and The Ugly

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 3 Juni 2020

Pelajaran dari Covid-19 : The Good, The Bad, and The Ugly

Pandemi Corona bisa menjadi pandemi terburuk sepanjang sejarah peradaban manusia, karena hingga kini sudah menjangkit lebih dari 170 negara di Dunia. Ironinya, ini terjadi justru ketika peradaban teknologi manusia seharusnya mumpuni untuk mendeteksi, mencegah, dan membasminya.

 

Mengapa dampak Corona bisa begitu meluas dan tumbuh menyebar dengan sangat cepat ? Ini adalah dampak terburuk dari globalisasi, dimana barang dan jasa bergerak sangat leluasa ke seluruh Dunia dan otomatis juga diikuti dengan interaksi dan pergerakan manusia-manusia yang ada di belakangnya.

 

Maka tidak mengherankan bila kita lihat penyebaran Covid-19 di seluruh Dunia, sangat mirip dengan penyebaran barang-barang eksport hasil produksi China, yaitu negara dimana kilometer 0 dari pandemi Covid-19 ini bermula. Sebagaimana produk-produk China menguasai Dunia, demikian pula Covid-19 mengikutinya.

 

Sehingga tidak mengherankan bila Amerika pun kini menjadi Negara yang terjangkit Covid-19 paling banyak karena Negeri itu juga paling banyak mengimport produk produk dari China sehingga Presiden Negeri itu suka uring-uringan dengan masalah devisit perdagangan Negaranya dengan China.

 

Saya tidak mengatakan bahwa barang-barang produk China ini membawa virus Covid-19, tetapi yang saya katakan adalah peredaran barang-barang tersebutlah yang menyebabkan interaksi manusia mengikutinya. Maka dengan interaksi antar manusia-manusia inilah Covid-19 merajalela ke seluruh Dunia saat ini.

 

Tetapi pada saat yang bersamaan saya juga tidak ingin mengatakan bahwa globalisasi itu buruk. Ada titik baiknya (The Good), titik yang buruknya (The Bad) dan titik yang sangat buruk (The Ugly). Untuk menjelaskan ini, saya gunakan formula Gross Domestic Product (GDP) dibawah, karena GDP ini merepresentasikan kemakmuran suatu negara.

 

Gambar 1 Gross Domestic Product Formula

 

Dari formula GDP diatas, kita bisa melihat bahwa kemakmuran suatu Negara secara ekonomi ditentukan oleh tingkat konsumsinya, investasinya, belanja negaranya, tingkat eksportnya, dan dikurangi tingkat importnya.

 

Dari formula ini nampak jelas bahwa negara-negara yang eksportnya kuat, dialah yang akan makmur secara ekonomi dan sebaliknya negara yang semakin banyak import akan menggerus kemakmuran penduduk negerinya.

 

Tetapi di zaman modern ini karena kita tidak bisa hidup sendiri dan tidak bisa terlepas dari berbagai teknologi yang realitanya harus kita import dari negara lain, maka yang harus kita kuatkan adalah sisi eksport kita. Semakin baik kita mampu mengeksport produk-produk kita, akan semakin makmur negeri kita.

 

Inilah The Good Side dari globalisasi. Kita bisa mengeksport berbagai produk-produk nilai tambah yang dihasilkan oleh generasi-generasi inovatif negeri ini ke sebanyak mungkin negara. Sayangnya, eksport kita dari produk-produk nilai tambah tersebut belum menjadi eksport yang dominan dari negeri ini.

 

Yang paling dominan masih eksport hasil tambang yang berarti mengeruk kekayaan alam kita dan eksport minyak nabati yang juga menggerus sekian banyak sumber alam kita. Contoh lain adalah Negeri Brazil yang harus membabat hutannya demi eksport produk-produk pertanian berupa gula tebu dan kedelai.

 

Untuk sementara akan baik bagi negeri itu, tetapi sumber daya alam mereka berupa hutan Amazon, lama-lama akan terkikis habis. Inilah The Bad Side dari globalisasi dan eksport barang-barang yang mengandalkan sumber daya alam semata dengan nilai tambah yang tidak maksimal.

 

Lantas apa yang menjadi The Ugliest atau sisi terburuk dari globalisasi ? Covid-19 yang mengikuti pergerakan manusia-manusia di belakang perdagangan global tersebut diatas adalah salah satunya. Tetapi juga menjadi contoh The Ugliest adalah bila akhir dari babak pandemi Covid-19 ini kita gagal mengambil pelajarannya.

 

Pelajaran apa yang harus bisa kita ambil ? Kembali ke formula GDP tersebut diatas. Bila kita gagal memproduksi secara maksimal kebutuhan-kebutuhan kita sendiri, bila kita gagal memaksimalkan nilai tambah dari sumber daya alam kita, dan bila kita terus mengambil jalan pintas yaitu import saja kebutuhan-kebutuhan kita selagi masih bisa import.

 

Bila ini yang terjadi, saya tidak akan heran bila di akhir pandemi global Covid-19 ini China akan kembali yang berjaya mengambil manfaatnya. Saat ini gejala ini pun sudah nampak yaitu negeri mana yang paling siap dengan peralatan, obat, dan tim medis melawan Covid-19 ? dialah China, sampai-sampai di Italia lagu kebangsaan China didengarkan di Negeri itu karena Negeri itu merasa China lah pahlawan mereka dalam perang melawan Covid-19 ini.

 

Pelajaran dari pandmei Covid-19 tidak harus hanya setingkat negara yang bisa mengambilnya. Saya ambilkan contoh daerah-daerah di Indonesia yang sekarang lagi rame-rame mengkarantina dirinya sendiri. Di satu sisi, mereka betul bahwa inilah upaya terbaik untuk membatasi gerakan manusia yang bisa menularkan Covid-19, tetapi pelajarannya yang harus diambil adalah dalam proses isolasi diri tersebut, daerah-daerah tersebut akan segera tahu betapa mereka tidak bisa mandiri mencukupi kebutuhan penduduk di daerahnya.

 

Dua kebutuhan terbesar utamanya yaitu pangan dan energi setidaknya pasti bergantung pada daerah lain. Itulah sebabnya, kita harus bisa pahami bahwa urusan isolasi - mengisolasi ini harus diambil dari pusat, karena bila tidak akan berantakan upaya pemenuhan kebutuhan pokok di masing-masing daerah.

 

Bayangkan bila bahan pangan dan energi tidak bisa bergerak dari satu daerah ke daerah lain, maka akan timbul banyak kesulitan di semua daerah yang terdampak. Maka inilah pelajarannya, daerah-daerah harus berusaha keras memproduksi kebutuhan pokoknya sendiri, minimal dalam hal bahan pangan dan energi karena ini adalah dua kebutuhan terdasar manusia modern saat ini. Dengan memproduksi 2 hal ini saja, suatu daerah akan bisa maju dan makmur penduduknya karena mengikuti formula tersebut diatas akan bisa menekan 'import' dari daerah lain.

 

Bagaimana daerah bisa memproduksi pangan dan energinya ? Memproduksi pangan mungkin tidak terlalu sulit bagi kebanyakan daerah di tanah air. Tanah-tanah kita tergolong subur, dihampir seluruh wilayah tinggal memaksimalkan apa yang ditanam dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang ada di dekatnya.

 

Bila ini dilakukan, maka akan ada dua dampak baiknya, pertama daerah tersebut akan mandiri pangan, kedua juga mengintrodusir apa yang disebut local food, yaitu bahan pangan yang dikonsumsi dari daerah yang sama dengan daerah produksinya. Inilah bahan pangan masa depan karena akan menjadi bahan pangan dengan foot print CO2 yang rendah.

 

Lantas bagaimana dengan energi ? Kan tidak semua daerah memiliki sumber daya energinya sendiri ? Betul, kalau memang tidak bisa diproduksi di daerah yang bersangkutan, energi ini memang paling efisien diurusi secara nasional. Tetapi setidaknya, dengan sudah memproduksi pangan sendiri dan daerah hanya perlu 'import' energi, tingkat kemakmuran daerah tersebut sudah akan secara signifikan membaik.

 

Lebih dari itu, di era Bio Economy sebenarnya sumber-sumber energi berbahan bakar tanaman juga semakin hari semakin visible. Daerah-daerah yang mau mulai  belajar dapat juga memproduksi bahan bakarnya sendiri akan bertahap bisa mengurangi ketergantungan 'import' energi dari daerah lain. Bahkan bila ini dilakukan serentak di semua daerah, bersama-sama kita bisa menjadi eksportir biofuel ke negara lain pada waktunya nanti.

 

Bukan kah pada waktunya kita juga harus ekport dan kita harus berinteraksi dengan penduduk-penduduk negara lain yang berati juga akan membuka peluang menjalarnya pandemi baru bila itu terjadi ? Justru disinilah masyarakat dunia harus belajar dari pengalaman pahit Covid-19. Tingkat teknolgi ITE yang ada saat ini dan terus berkembang seharusnya bisa untuk mewujudkan pola interaksi dan transaksi manusia-manusia di dunia yang lebih aman dan lebih efisien.

 

Maka peluang di era perubahan paradigma perdagangan global pasca pandemi Covid-19 tersebut lah yang juga harus kita antisipasi dan kita songsong sehingga sedapat mungkin kita dapat mengambil pelajaran maksimal dari penderitaan yang kita alami selama pandemi Covid-19 berlangsung ini.