Jalan Menuju Swasembada Energi

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 7 Juli 2020

Jalan Menuju Swasembada Energi

Beberapa hari lalu ada berita kecil yang menggelitik saya, yaitu tergelincirnya sebuah pesawat penerbangan swasta di Irian Jaya. Yang mengejutkan adalah apa yang diangkut oleh pesawat tersebut, Anda yang tinggal di kota-kota besar di Jawa pasti sulit membayangkannya. Yang diangkut pesawat tersebut antara lain adalah bahan bakar untuk daerah-daerah terpencil di Irian Jaya.

 

Jadi Anda bisa tahu sekarang betapa beratnya pemerintah mensubsidi harga bahan bakar satu harga itu, karena untuk daerah-daerah yang jauh dan terpencil, biaya angkutnya saja pasti sangat mahal. Siapa pun yang menanggungnya subsidi semacam ini pasti sulit untuk terjaga kelangsungannya disamping juga tidak selalu tepat sasaran.

 

Bagi pemerintah atau BUMN yang diberi amanah untuk melakukan misi sosial ini pasti menjadi beban berat yang luar biasa mengingat Indonesia ada memiliki 13 ribu pulau, dan yang mudah dijangkau hanya sebagian kecil saja. Bagi masyarakat yang disubsidi pun sering tidak bisa menikmatinya karena sering terjadi dimana disparitas harga dan biaya atau harga yang tidak wajar karena subsidi disitu selalu menarik bagi para tengkulak yang bermodal untuk mengambil peluangnya.

 

Masyarakat yang hanya bisa membeli sedikit demi sedikit saat kebutuhan muncul tidak selalu bisa memperoleh bahan bakar dengan satu harga yang dijanjikan, karena kalau sudah melewati tangan kedua dan seterusnya dia sudah menjadi mahal megikuti mekanisme pasar.

 

Disisi lain, ekonomi bahan bakar juga tidak mendorong daerah-daerah terpencil untuk berkontribusi dalam produksinya. Lebih kebanyakan mereka hanya menjadi konsumen dari sistem pengadaan bahan bakar nasional yang terpusat di Jawa atau Kalimantan. Intinya kombinasi antara pengadaan bahan bakar yang terpusat dan subsidi ini sulit terjaga kelangsungannya karena bertentangan dengan prinsip dasar ekonomi sendiri.

 

Masalah lain yang juga dihadapi oleh pemerintah meskipun bukan pemerintah sekarang tetapi seharusnya kita semua sudah mewasapadainya yaitu akan semakin habisnya cadangan minyak kita dalam satu dasawarsa kedepan. Ini terungkap secara formil dalam rapat DPR dengan anak perusahaan pertamina yang menggarap eksplorasi dan produksi bahwa cadangan minyak kita tinggal 9.4 tahun lagi.

 

Kombinasi-kombinasi masalah tersebut diatas sudah mengharuskan masyarakat untuk aware bahwa ada masalah besar tentang kelangsungan ketersediaan energi yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Upaya untuk memproduksinya harus menjadi perhatian dan peluang bersama, bukan hanya peluang bagi BUMN, perusahaan-perusahaan eksplorasi asing dan perusahaan besar nasional. Ekonomi bahan bakar harus menjadi peluang bagi seluruh rakyat Indonesia, karena ekonomi bahan bakar ini merupakan yang kedua terbesar setelah ekonomi pangan.

 

Maka inilah misi komunitas yang kami hadirkan di Depok yang kami sebut Green Oil Community atau Komunitas Minyak Hijau. Filosofi komunitas ini sangat sederhana sehingga mudah dipahami dan mudah bagi seseorang untuk bergabung atau tidak. Komunitas ini  adalah untuk masyarakat yang mau memproduksi dan menggunakan bahan bakar produksinya sendiri.

 

Apakah ini realistik ? tergantung persfektif ruang dan waktu bagaimana kita melihat hal ini. Bagi Anda yang tinggal di daerah yang terpencil dan di pulau-pulau kecil di Indonesia, saat ini pun hal ini sudah sangat dibutuhkan. Bagi kita yang tinggal di kota besar bisa jadi kita merasa belum membutuhkan saat ini, tapi bayangkan dalam perjalanan satu dasawarsa kedepan ketika cadangan bahan bakar kita semakin menipis, justru ketika kebutuhan kita terus meningkat.

 

Apakah Anda akan terus menunggu subsidi pemerintah yang semakin lama semakin berat, atau menunggu harga minyak bahan bakar yang akan terus meningkat dari waktu ke waktu atau mulai berbuat sesuatu dari sekarang ? Maka komunitas ini kami hadirkan untuk mereka yang mau berbuat at least untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dalam bahan bakar sekarang dan nanti.

 

Lantas bahan apa yang akan kita hasilkan dan kita gunakan di komunitas ini ? Intinya kami hanya menggunakan bahan bakar dari hasil tanaman-tanaman yang ada di negeri ini . Itulah sebabnya komunitas ini bernama Komunitas Minyak Hijau atau Green Oil Community karena minyak kami benar-benar berasal dari tanaman yang hijau, bahkan secara harfiah sejumlah minyak tersebut benar-benar berwarna hijau ketika baru di ekstrak dari biaji asalnya.

 

Untuk mendekati masalah ini kami menggunakan solusi yang sangat pragamatis yaitu menggunakan bahan dasar yang sudah ada saat ini dan juga teknologi pengolahannya yang sudah ada sambil juga menyiapkan bahan bakar dan alternatif teknolgi masa depannya.

 

Untuk bahan yang pragmatis bisa kita hadirkan saat ini misalnya adalah minyak jelantah untuk masyarakat yang tinggal diperkotaan dan menanam kacang tanah bagi daerah-daerah terpencil. Bisa jadi untuk saat ini belum sepenuhnya kompetitif, tetapi akan menjadi proses pembelajaran yang sangat menarik bagi masyarakat perkotaan maupun daerah terpencil.

 

Bagi masyarakat perkotaan, menggunakan minyak jelantah untuk bahan bakar selain melatih kemandirian energi, juga memutus rantai penggunaan minyak jelantah untuk daur ulang minyak goreng yang membahayakan kesehatan. Untuk masyarakat daerah terpencil, ini pembelajaran mandiri memenuhi kebutuhan energinya sendiri sekaligus juga melibatkan masyarakat setempat untuk terlibat secara langsung dalam ekonomi bahan bakar yang kali ini mereka sebagai produsen dan konsumen, berubah dari posisi mereka murni sebagai konsumen selama ini.

 

Untuk masyarakat perkotaan maupun daerah terpencil dalam jangka panjang bisa menggunakan juga bahan bakar dari tanaman penghasil minyak yang sangat potensial seperti tanaman tamanu atau nyamplung. Hasil pengujian kami, kandungan minyak tamanu ini bisa lebih dari 60% dari berat kering bijinya. Ini kandungan minyak tertinggi dari seluruh bahan yang pernah kami uji langsung baik dalam proses pengepresan dingin maupun pengepresan panas. Apabila kita mulai menanam tanaman ini sekarang, insyaAllah dalam 4-5 tahun kedepan kita sudah mempunyai tambahan bahan bakar nabati yang sangat handal.

 

Bagi pemerintah dan BUMN yang selams ini mengelola subsidi bahan bakar untuk rakyat, komunitas ini menjadi semacam hadiah karena dengan kami mampu memproduksi dan menggunakan bahan bakar kami sendiri, akan mengurangi beban subsidi yang ditanggung pemerintah dan BUMN terkait. Jadi keberadaan Green Oil Community ini 'is a gift for you not a threat'.

 

Lantas bagaimana masyarakat bisa memproduksi bahan bakarnya sendiri? Bila mengumpulkan minyak jelantah dan menanam kacang tanah adalah ilmu yang sederhana yang bisa dipraktekan siapa pun, namun mengolah minyak jelantah atau minyak kacang tanah menjadi bahan bakar masih dipandang sesuatu yang misterius bagi masyarakat pada umumnya. Bukan salah mereka, karena selama ini membuat bahan bakar ini hanya diurusi oleh perusahaan-perusahaan BUMN dan perusahaan raksasa nasional kita. Yang diperlukan kemudian adalah edukasi bahwa memproduksi bahan bakar, khususnya diesel adalah pekerjaan mudah semudah para ibu-ibu di rumah dalam meracik makanannya.

 

Dengan diajari mereka sehari dua hari, kemudian dilatih sepekan dua pekan, masyarakat yang berpendidikan dasar pun sudah akan mampu memproduksi bahan bakarnya sendiri. Memang mungkin diperlukan alat-alat yang tidak biasa, tetapi alat-alat tersebut juga bisa dibuat sederhana seperti wajan yang digunakan sebagai alat standar ibu-ibu untuk membuat beraneka macam makanan. Kami bisa buatkan reaktor sederhana yang multiguna, bisa untuk membuat bahan bakar diesel melalui proses transesterifikasi dari segala jenis minyak nabati yang baru maupun bekas/jelantah.

 

Alat sederaha berupa mesin press manual bahkan saat ini sudah mulai kami produksi bagi yang membutuhkannya. Alat berikutnya yang segera bisa dipesan adalah alat universal yang nama kerennya Transesterification Reactor . InsyaAllah dalam waktu dekat salah satu startup di bawah Indonesia Startup Center akan segera memproduksi Transesterification Reactor ini yang kita sebut After Oil TR 1.0 yaitu reaktor transesterifikasi yang bisa digunakan dalam segala tigkatan teknologi, baik yang manual maupun yang dirangkaikan dalam produksi yang serba otomatis.

 

Bahkan begitu sederhananya jantung dari proses pembuatan biodiesel ini, masyarakat dapat menggunakannya langsung meskipun hanya memiliki satu alat ini. Karena diluar alat ini, peralatan dapur atau rumah tangga yang ada di sekitar kita bisa digunakan. Untuk memproduksi alat ini pun, kami berminat untuk menggaet bengkel-bengkel setempat agar secara keseluruhan ekonomi bahan bakar ini benar-benar merata ke seluruh penjuru negeri.

 

Bila bengkel Anda mampu membuat stainless steel melengkung menjadi separuh lingkaran bola dengan kebulatan yang sempurna, maka bengkel Anda sudah lulus untuk menjadi mitra kami dalam memproduksi After Oil TR 1.0  ini. Peralatan-peralatan lain yang sifatnya menunjang dan melengkapi akan kami keluarkan satu per satu sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat.

 

Lebih jauh tentang Green Oil Community ini dan apa yang sudah kita bisa lakukan sekarang akan kami sajikan dalam ceramah umum yang insyaAllah kami adakan pada tanggal 14 maret 2020 di Indonesia Startup Center Depok. Anda yang sudah mendaftar di komunitas ini tentu akan diundang dan yang belum daftar dapat mendaftar di bit.ly/greenoilcommunity .