Survival in Isolated Area

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Ahad, 29 Maret 2020

Survival in Isolated Area

Anda pasti tidak membayangkan kota yang kurang lebih sebesar Jakarta bila harus diisolasi dari dunia luar. Tetapi inilah yang terjadi di Wuhan yang berpenduduk kurang lebih 11 juta orang, kota ini harus diisolasi total semenjak mewabahnya virus Corona.

 

Pelajarannya adalah bagaimana seharusnya pemerintah dan juga warganya siap untuk menghadapi situasi semacam ini. Daerah yang harus diisolasi seperti Wuhan ini, bisa jadi karena wabah penyakit, tetapi bisa juga terjadi karena bencana alam, perang dan lain sebagainya. Intinya isolasi suatu daerah di zaman modern ini masih sangat mungkin terjadi oleh berbagai sebab.

 

Lantas apa yang harus disiapkan pemerintah setempat dan rakyatnya bila situasi semacam ini terjadi ? Pertama yang harus difikirkan adalah bagaimana mengantisipasi situasi seperti ini mungkin terjadi meskipun dengan peluang yang kecil. Sehingga pemerintah dan rakyat bisa mempunyai rencana darurat untuk menghadapinya bila benar-benar terjadi.

 

Isolasi semacam yang terjadi di Kota Wuhan, kita tidak pernah tahu berapa lama daerah tersebut harus diisolasi. Bisa cepat berlalu bila wabah Corona yang ada bisa segera teratasi, namun juga bisa terjadi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mengingat vaksin untuk melawan virus ini pun hingga kini belum ditemukan.

Perkiraan paling cepat vaksin mungkin baru bisa diproduksi massal dalam 3 bulan kedepan. Jadi, artinya masyarakat yang diisolasi tersebut dengan panduan pemerintah setempat harus mempersiapkan segala kebutuhannya untuk menghadapi masalah yang sangat sulit semacam ini.

Berangkat dari apa yang terjadi di Wuhan yang juga merembet ke kota-kota lain di China, kami ingin berkontribusi dalam pemikiran setidaknya yaitu bagaimana mengatasi kebutuhan dasar masyarakat yang terisolir dari sisi pangan dan energi.  Di Wuhan ada sekitar 170 ribu muslim disana, paling tidak dengan tulisan dan pemikiran semacam ini ada yang bisa menyampaikannya .

Lebih dari itu, pemikiran semacam ini juga kita butuhkan karena selain untuk mengatasi situasi darurat, pemikiran untuk bisa mandiri pangan dan energi juga sangat berguna untuk ribuan pulau-pulau di Indonesia yang sebenarnya sangat membutuhkan kemampuan untuk bisa memproduksi pangan dan energinya sendiri.

Pendekatan yang kami ambil adalah berjenjang mulai segera setelah masalah ini terjadi, rencana untuk beberapa bulan kedepan, rencana menengah untuk 2 sampai 4 tahun kedepan, dan rencana jangka panjang lebih dari 4 tahun kedepan. Tentu sebelum rencana ini diterapkan perlu kesadaran pemerintah dan rakyat setempat agar persiapan dan scales yang memadai tersedia pada waktu dibutuhkan.

Untuk kebutuhan pangan dalam jangka pendek sangat mungkin terpenuhi dari area yang terisolasi ini sendiri. Bisa berasal dari stock makanan yang tersedia, maupun dari tanaman-tanaman yang hidup ketika proses isolasi terjadi. Demikian pula dengan energi, kemungkinan bisa masih tersedia sampai beberapa pekan dan bahkan juga beberapa bulan.

Namun setelah beberapa bulan, masyarakat harus mulai bisa hidup dengan sumber internal yang dihasilkan oleh daerah itu sendiri. Yang saya anjurkan adalah dua jenis tanaman yang mudah ditanam dan besar manfaatnya yang bisa dipanen dalam kisaran waktu 3 sampai 4 bulan.

Tanaman kacang tanah misalnya, bisa ditanam untuk diambil lemak atau minyaknya yang kemudian dengan mudah bisa diubah menjadi biodiesel. Kalau ada biodiesel maka mesin-mesin besar seperti genset, truck, bis atau kapal dan lain sebagainya bisa tetap berjalan.

Tanaman lain adalah jagung karena jagung tidak membutuhkan banyak air dan jalan untuk menjadi makanannya pendek. Dalam kondisi serba terbatas, jagung bisa dipetik dan langsung dimasak untuk menjadi makanan.

Untuk hewan yang paling ideal dalam keadaan darurat adalah domba atau kambing. Pertama karena memelihara domba atau kambing dengan pakan yang ada di alam sekitar kita sudah cukup, domba atau kambing juga menjadi sumber protein yang efektif baik susu maupun dagingnya.

Artinya dengan kombinasi tanaman-tanaman tersebut dalam waktu dekat kita sudah bisa memperoleh bahan pangan maupun energi yang dibutuhkan, bagaimana kalau situasi isolasi ini harus berlangsung lama? itulah perlunya menanam tanaman-tanaman jangka panjang juga disekitar kita yang bisa atau mudah hidup dengan sumber hara setempat. Ini pula perlunya pelihara domba atau kambing tadi untuk digunakan sebagai pupuk dari tanaman-tanaman yang kita adakan.

Untuk tanaman jangka panjang ini yang saya anjurkan adalah alpukat dan tamanu atau nyamplung. Alpukat bisa jadi sumber karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral, sedangkan tanaman nyamplung sebagai sumber energi jangka panjang. Produktivitas nyamplung sebagai tanaman penghasil minyak tidak kalah dengan sawit, dan minyaknya pun ketika dibuat biodiesel memenuhi standar tertinggi di dunia seperti yang ditetapkan oleh ASTM dari Amerika dan EN dari Eropa.

Idealnya pula akan lebih baik lagi bila masyarakat setempat juga bisa bertaman microalgae. Karena microalgae ini adalah tanaman multi purpose, bisa untuk diarahkan sebagai sumber protein dan bisa pula diarahkan sebagai sumber energi. Perhitungan saya kalau masyarakat mulai belajar sekarang dalam waktu tidak lebih dari 2 tahun, masyarakat sudah akan terbiasa dan mulai bisa mengambil manfaatnya secara optimal dari tanaman microalgae ini.

Walhasil, dengan kombinasi tanaman-tanaman dan ternak tersebut, bila kota sebesar Jakarta harus diisolasi insyaAllah kebutuhan dasar pangan dan energi masih bisa dicukupi. Bagaimana kalau isolasi ini berlangsung lebih lama lagi? Apakah ini memungkinkan? Bisa saja terjadi karena di dunia ini pun pernah terjadi.

Kuba yang diisolasi lebih dari setengah abad atas dasar politik Amerika misalnya, mereka justru berhasil menjadi negara dengan kemampuan bercocok tanam organik yang terbaik di dunia. Demikian pula dengan Afrika Selatan yang pernah diisolasi oleh dunia karena politik apartheid nya banyak menghasilkan solusi-solusi inovatif di bidang teknologi dan ekonomi.

Intinya adalah isolasi dalam jangka panjang juga bisa terjadi karena satu dan lain hal. Maka berangkat dari kasus Wuhan pun kita harus juga berifkir apa yang akan kita lakukan dalam jangka panjang (lebih dari 4 tahun) bila situasi isolasi tersebut harus kita hadapi.

Dari solusi solusi jangka pendek dan menengah yang telah kita uraikan tersebut, tinggal dilanjutkan lagi yaitu kita harus mampu menghadirkan industri berbasis sumber daya setempat khususunya industri yang menghasilkan pangan dan energi beserta produk-produk turunannya.

Apakah ini memungkinkan untuk membangun industri hanya dalam waktu 4 tahun? Kita juga harus belajar lagi dengan apa yang terjadi di Wuhan. Pemerintah setempat berani mentargetkan membangun rumah sakit khusus untuk korban virus Corona hanya dalam tempo 6 hari.

Kalau pemerintah Wuhan bisa membangun rumah sakit dalam waktu hanya 6 hari saja, masa kita tidak bisa membangun industri untuk swasembada pangan dan energi dalam waktu 4 tahun ? Kuncinya adalah keseriusan dan kerja keras. Kalau sudah kepepet semua menjadi bisa.

Lantas bagaimana kita menjadikan pemikiran-pemikiran semacam ini tidak berhenti sebatas wacana ? Caranya adalah dengan memulai semaksimal yang kita bisa. Setelah berjalan dengan modul tanaman microalgae, rencana kami di ALHAYA School of Life, modul berikutnya adalah tentang technology for survival ini.

Saat ini kami sudah mencoba dan mempersiapkan sejumlah benih seperti jagung khusus yang lezat dan galur murni sehingga hasil panennya selalu bisa ditanam ulang. Kami juga mulai menyediakan bibit tanaman nyamplung atau tamanu untuk siapa saja yang ingin membangun swasembada energi di masa depan, dan berbagai persiapan lain untuk modul technology for survival ini.

Yang kami masih butuhkan adalah tim yang memahami dan terampil di bidang mekanik. Bayangan saya seperti MacGyver yang terampil mengotak-ngatik segala sesuatu yang ada di sekitar kita menjadi solusi yang berguna bagi keberlangsungan hidup kita. Isolasai tidak harus berarti buruk atau darurat, bisa juga isolasi itu direncakan yang tujuannya untuk kebaikan.

Misalnya ribuan pulau di Indonesia hingga kini sulit sekali untuk swasembada pangan dan energi karena masih bisa mengandalkan pulau-pulau besar yang ada. Dampak buruknya adalah setelah 75 tahun merdeka, mayoritas pulau-pulau kecil terus bergantung pada pulau-pulau besar dan pulau-pulau besar pun bergantung pada barang-barang yang kita import. Jangan lupa bahwa bahan pangan dan energi kita pun amat sangat banyak yang kita import.

Bayangkan sekarang kalau kita bersiap-siap dan melatih diri untuk bisa hidup di era isolasi tersebut diatas, maka life skills yang kita bangun bisa kita gunakan untuk membuat daerah kita masing-masing menjadi daerah yang swasembada pangan dan energi. Jadi, survival life skills semacam ini akan terus bermanfaat dengan ada atau tidak adanya situasi khusus yang memaksa kita untuk hidup terisolasi.