Ketahanan Pangan A La Nabi Yusuf

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 17 Februari 2020

Ketahanan Pangan A La Nabi Yusuf

Di zaman Nabi Yusuf 'alaihissalam, krisis itu diantisipasi dari mimpi raja yang kemudian ditafsirkan oleh Nabi Yusuf 'alaihissalam kemudian ditindaklanjuti dengan gerakan kerja keras rakyat Mesir menanam tujuh tahun secara sungguh-sungguh, sedikit mengkonsumsi hasilnya, dan menyimpan selebihnya dalam teknik penyimpanan yang paling efektif hingga kini, yaitu menyimpan biji-bijian dalam tangkainya.

 

Di zaman modern ini, kita memiliki cara berbeda untuk mengantisipasi datangnya krisis. Barangkali mimpi kita sudah tidak lagi akurat, tetapi kita diberi sumber informasi yang sangat banyak mulai dari trend penurunan cadangan minyak, penurunan sumber air bersih, penurunan kualitas udara dan kesehatan, dan bahkan juga berbagai sumber big data yang bisa dipakai untuk memprediksi trend besar (mega trend) ke arah mana situasi ekonomi kita akan menuju.

 

Fakta yang jelas adalah jumlah penduduk kita terus meningkat, yang seiring dengan ini kebutuhan makanan dan energi juga semakin meningkat, sementara sumber bahan baku utama yang kita andalkan selama ini seperti beras untuk bahan makanan pokok dan minyak atau sumber energi fosil yang kita andalkan selama ini, produksi keduanya terus mengalami penurunan.

 

Maka sesungguhnya, para pemimpin kita bisa meniru cara yang dilakukan oleh raja nya Nabi Yusuf 'alaihissalam yaitu bertanya kepada ahli nya tentang trend yang akan dihadapi oleh negeri ini, demikian pula rakyatnya seperti kita-kita bisa belajar dari rakyat Mesir waktu itu yaitu mendengar dan melaksanakan apa yang diperitahkan raja dan ahlinya untuk sungguh-sungguh bercocok tanam selama tujuh tahun agar ketika krisis melanda selama tujuh tahun berikutnya masyarakat memiliki solusi sumberdaya yang cukup untuk mengatasinya.

 

Zaman bisa berbeda, tetapi solusi-solusinya bisa persis sama. Saya melihat setidaknya ada dua persamaan yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam tersebut diatas. Pertama pemimpin memang harus mempunyai visi jauh kedepan agar dia bisa mengarahkan rakyatnya secara proper. Kedua rakyat harus mendengar dan mengikuti arahan-arahan yang diberikan oleh para pemimpin dan para pembantunya yang ahli di bidangnya masing-masing.

 

Selama ini kita secara berkala menghadapi krisis demi krisis dan nyaris tidak melakukan persiapan yang memadai karena memang juga tidak mendapatkan arahan yang memadai. Krisis itu bisa berupa banjir besar, musibah gunung berapi, maupun yang lebih meluas adalah krisis ekonomi.

 

Nah, karena rakyat tidak mendapatkan arahan yang proper untuk mengatasi krisis energi misalnya, maka rakyat seperti kita-kita nyaris tidak ada yang bisa kita perbuat untuk menghadapinya. Kalau toh PLN dan Pertamina secara terus menerus dan berkala menaikan harga energi misalnya, kita-kita sebagai rakyat sama sekali tidak punya pilihan lain kecuali tetap terus membelinya.

 

Pertanyaannya adalah sampai berapa lama dan berapa tinggi harga energi tersebut tetap harus kita beli ? Kita tidak bisa menjawabnya karena kita memang tidak punya pilihan lain. Jadi harga energi ini akan tetap kita beli selagi kita punya uang, berapa pun harganya. Demikian pula dengan bahan makanan utama seperti beras. Inflasi demi inflasi akan terus mendorong harga beras naik, disamping kenaikan yang ditimbulkan oleh keterbatasan supply, ditengah terus meningkatnya demand.

 

Lagi-lagi kita akan terus bayar selagi masih mempunyai daya beli, karena kita tidak punya pilihan lain. Pertanyaannya adalah apakah benar kita tidak punya pilihan lain?  Sekarang mungkin tidak. Tetapi kalau kita berubah mulai sekarang dan sungguh-sungguh berbuat selama tujuh tahun kedepan, maka InsyaAllah kita bisa seperti rakyat Mesir di zaman Nabi Yusuf 'alaihissalam tersebut diatas. InsyaAllah kita siap menghadapi krisis.

 

Lantas apa yang harus kita persiapkan dari sekarang? sama persis dengan rakyat Mesir tersebut diatas. Petunjuk menghadapi krisis ini diabadikan di Al-Qur'an yang penggalan ayatnya sebagai berikut ;

 

"Maka berkata yusuf, hendaklah kalian menanam secara sungguh-sungguh selama 7 tahun ... " (QS 12:47)

 

Jadi, sepenggal ayat ini saja insyaAllah cukup bagi penduduk negeri ini untuk menghadapi krisis pangan dan energi yang sangat mungkin dari waktu ke waktu akan muncul di tahun-tahun mendatang. Lantas apa yang akan kita tanam selama tujuh tahun kedepan ? Karena 50 tahun terakhir penduduk negeri ini telah begitu tergantungnya pada beras dan gandum, maka kita harus mampu menanam tanaman lain diluar beras dan gandum sebagai bahan makanan pokok.

 

Beras terancam tidak sustainable, karena untuk menanamnya membutuhkan air tawar yang sangat banyak. Sedangkan air akan semakin langka kedepan. Gandum juga supply-nya tidak sustainable karena harus diimport 100%. Maka untuk pangan, salah satu yang saya pilih adalah jagung khusus yang di beberapa pulau di Indonesia dikenal sebagai jagung pulut atau jagung ketan.

 

Pertama karena jagung ini sudah sangat lezat, meskipun cuman direbus. Kedua bibitnya masih bibit galur murni yang siapa saja bisa menanam kemudian memakan sebagiannya dan menyimpan yang lain untuk ditanam kembali. Persis seperti di zaman nabi Yusuf 'alaihissalam.

 

Anda hidup di pulau terpencil sekali pun, bila memiliki tanaman jagung pulut ini, Anda akan bisa makan makanan lezat ala restoran mewah di jakarta. Anda tinggal merebus sedikit jagung, kemudian dimakan bareng daging kambing atau daging lembu peliharaan Anda, maka dia sudah menjadi menu steak dengan side dish jagung yang lezat.

 

Untuk energi, ini masalah salah informasi dan edukasi selama 74 tahun terakhir. Selama ini, kita diedukasi bahwa energi itu adalah urusan berat yang tidak terjangkau oleh rakyat kebanyakan. Energi harus dihandle oleh pemerintah melalui BUMN-BUMN nya. Akibatnya dalam urusan energi, rakyat begitu bergantungnya kepada solusi dari pemerintah.

 

Ini juga tidak baik untuk pemerintah itu sendiri. Karena ketergantungan energi ini membuat defisit neraca perdagangan membengkak demikian pula dengan subsidi bahan bakar. Andai saja sejak 70 tahun lalu sudah diedukasi bahwa rakyat bisa mengatasi energinya sendiri, pasti rakyat kita kini sudah cerdas-cerdas mengatasi kebutuhan energinya dan tidak lagi tergantung pada energi yang disediakan oleh pemerintah.

 

Dan apakah memang bisa rakyat mengatasi kebutuhan energi ini? Kalau energi disupply dari fosil seperti sekrang, maka memang hanya pemerintah atau perusahaan besar yang bisa melakukannya. Tetapi energi tidak harus dari fosil dan bahkan kedepannya, energi dari sumber-sumber yang terbarukan akan semakin dibutuhkan. Maka di era energi baru terbarukan tersebutlah rakyat kecil seperti kita-kita bisa mempersiapkan energinya sendiri. Dalam Al-Qur'an juga diberi isyarat bahwa salah satu sumber energi terbaik itu adalah dari tanaman (zaitun).

 

Kita bisa menanam zaitun, tetapi belum berbuah. Namun tanaman-tanaman lain sangat banyak yang bersifat mirip zaitun, yaitu yang menghasilkan minyak yang sangat baik. Selain minyak sawit, minyak kacang tanah, dan lain sebagainya yang sudah biasa dijadikan minyak oleh masyarakat industri, saya juga menemukan tanaman-tanaman lain seperti nyamplung (tamanu) dan biji bunga telang yang juga menghasilkan minyak yang sangat baik mendekati minyak zaitun.

 

Dari minyak-minyak ini, kita hanya butuh satu langkah lagi untuk merubahnya menjadi bahan bakar cair yaitu diesel. Prosesnya pun kalau diajarkan ke masyarakat akan dengan mudah sekali masyarakat bisa membuat dieselnya sendiri, yaitu dengan mencampurkan minyak nabati dengan etanol atau alkohol dengan menggunakan katalis yang bersifat basa. Etanolnya pun rakyat sudah biasa membuat karena rakyat terbiasa membuat peuyeum atau tape.

 

Pertanyaan berikutnya adalah apakah bahan bakar diesel yang diperoleh dengan cara ini ekonomis? Ekonomis tidaknya tergantung situasi dimana kita berada dan kapan. Kalau saat ini kita di Jawa atau pulau-pulau besar lainnya di Indonesia, tentu minyak diesel demikian belum ekonomis. Tetapi tanyakan kepada penduduk-penduduk yang menjadi nelayan di pulau-pulau kecil yang bahan bakarnya sering langka, maka solusi ini kini pun sudah menjadi ekonomis.

 

Bayangkan pula bila di era G Zero yang bisa ditrigger oleh berbagai geopolitik global tiba-tiba kita tidak bisa lagi import minyak mentah dan minyak yang ada dijual sangat mahal, maka solusi membuat diesel tersendiri tersebut juga bisa menjadi ekonomis di Jawa maupun pulau-pulau besar lainnya.

 

Walhasil, kalau rakyat dibekali dengan keterampilan yang baik untuk mampu membuat energinya sendiri, keterampilan ini tidak akan merugikan siapa pun. Selama bahan bakar yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan pemerintah tersedia dengan harga yang terjangkau, maka rakyat tetap bisa terus membelinya. Hanya saja rakyat juga punya pilihan lain ketika sumber-sumber energi tersebut menjadi terlalu mahal atau tidak tersedia.

 

Cara berfikir demikian juga bisa mendorong lebih lanjut agar tumbuh pemikiran-pemikiran kreatif dari para inovator di bidang energi itu sendiri karena akan ada pasar yang menggunakannya. Tidak terbatas pada inovasi dalam produksi bahan bakar itu sendiri, tetapi juga inovasi inovasi dalam mesin-mesin energi yang hemat bahan bakar.

 

Saya bayangkan kalau ada teman-teman yang mempunyai keahlian machining yang baik, sekarang waktunya membuat generator-generator yang hemat bahan bakar baik itu generator berbasis internal combustion engine atau yang secara umum kita kenal sebagai gen-set sekarang, maupun apa yang disebut microturbine generator (MTG).

 

MTG ini seperti generator penghasil listrik di power plant yang besar hanya ukurannya yang jauh lebih kecil. Di pasaran dunia, MTG ini available mulai dari 12 kVA . Selain dia jauh lebih hemat bahan bakar, juga tidak berisik, dan jauh lebih reliable karena sangat jarang rusak berkat sistemnya yang minim part yang bergerak.

 

Jadi kalau kita bisa buat MTG sendiri, pulau-pulau terkecil pun bisa menghasilkan listriknya sendiri dengan bahan bakar diesel yang diproses dari pohon-pohon kelapa atau tamanu yang sekarang pun sudah rata-rata menyebar luas di pulau-pulau terkecil sekalipun.

 

Pendek kata, asal rakyat dilibatkan dalam memahami trend kedepan yang akan kita hadapi khususnya dalam bidang ekonomi dan lebih khusus lagi dalam bidang penyediaan pangan dan energi ini, maka insyaAllah rakyat kita akan bisa seperti rakyat Mesir di era Nabi Yusuf 'alaihissalam, yaitu ketika negeri-negeri lain krisis (paceklik) mereka datang ke Mesir untuk memperoleh bahan pangannya.

 

Kita bisa menyiapkan diri kita menghadapi krisis dan bahkan lebih jauh dari itu, kita bisa juga menolong orang lain yang mengalaminya. Kuncinya adalah rakyat diberi arahan seperti arahan Nabi Yusuf 'alaihissalam tersebut diatas, dan seperti ucapan-ucapan pembantu raja yang disuruh menghadap Nabi Yusuf 'alaihissalam ketika dia minta Nabi Yusuf 'alaihissalam  mentafsirkan mimpi sang raja.

 

Ucapannya ini diabadikan dalam penggalan ayat berikut ;

 

" ... Agar aku kembali kepada manusia, agar mereka mengetahui ... " (QS 12:46)

 

Jadi kuncinya asal para pemimpin transparan dan terbuka terhadap seluruh rakyat, maka kesulitan apapun bisa diantisipasi dan dihadapi secara bersama-sama. InsyaAllah .