Solusi yang Banyak dan Luas

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 13 Agustus 2020

Solusi yang Banyak dan Luas

Dampak Covid-19 sungguh diluar perhitungan dan antisipasi siapa pun di dunia modern ini, tidak ada negara yang nampaknya siap menghadapi pandemi global ini, baik untuk mengatasi pandemi nya sendiri, maupun dampak ekonominya. Negara-negara maju di Dunia Barat justru memimpin dalam pencatatan jumlah penderita dan korban meninggal, belum terhitung dampak ekonomi yang akan dialaminya selama dan sesudah pandemi ini berlalu.

 

Negeri kita yang luas dan subur pun tidak bisa terbebas dari pandemi ini, meskipun jumlah penderitanya relatif dibandingkan dengan jumlah penduduk kita yang masih belum tertalu besar, tetapi kita tidak bisa meng-underestimate-kan potensi meluasnya penyakit ini dan dampak ekonominya.

 

Ada dua hal yang kita sebagai masyarakat juga harus berfikir secara serius menghadapi masalah bersama ini. Pertama adalah bagaimana diri kita tidak menjadi korban dari serangan pandemi ini dan tidak menjadi perantara orang lain menjadi korbannya. Kedua adalah bagaimana kita mulai memikirkan alternatif Way of Life yang bisa jadi harus sangat berbeda dengan cara kita hidup selama ini.

 

Yang jelas, kita tidak bisa menganggapnya setelah ini dunia akan berjalan seperti business as usual, karena kalau kita tidak berhasil mengambil pelajaran dari musibah yang sangat besar ini, kita akan menjadi orang yang sangat rugi dan rentan untuk terkena musibah sejenis di kemudian hari.

 

Bahkan Allah mengisyaratkan bahwa ketika musibah seperti ini terjadi, akan datang sesudahnya Rahmat-NYA tetapi kita harus pandai-pandai mengambil pelajaran dari petunjuknya ini.

 

"Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan Kami. Katakanlah: "Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu)". Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu" (QS 10:21)

 

Dari ayat tersebut, kita bisa belajar bahwa hanya Rahmat Allah-lah yang akan bisa menyelamatkan kita dari musibah ini. Rahmat ini adalah prerogatif Allah, tetapi Allah juga memberikan petunjuk bahwa Rahmat ini akan diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa.

 

"Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat" (QS 3:132)

 

Jadi di Bulan Ramadhan ini, Bulan yang penuh RahmatNYA, bisa menjadi peluang bagi ummat ini untuk mendulang Rahmat Allah yang dengan itu antara lain kita semua bisa diselamatkan dari musibah ini.

 

Namun perubahan apa yang akan kita lakukan setelah ini? Karena kalau kita akan tetap bergaya hidup yang sama persis dengan sebelumnya, itulah yang diisyaratkan oleh Allah di Al-Qur'an Surat 10 ayat 21 tersebut, yaitu ketika kita diselamatkan oleh Allah, kita lupa lagi dengan kesalahan-kesalahan kita, yang dengan kesalahan itu musibah akan datang kepada kita.

 

"Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat)" (QS 42:48).

 

Dari sini kita belajar lagi satu hal bahwa musibah ini adalah dari tangan kita sendiri. Maka, untuk menghindari musibah ini, kita juga harus bisa mengupayakan untuk berbuat sesuatu yang berdampak pada hilangnya musibah ini atau tidak terulangnya musibah yang sejenis ini di kemudian hari.

 

Tetapi apa yang bisa kita lakukan? Kita makhluk yang sangat kecil yang tidak berdaya ini untuk melawan Covid-19 yang bahkan negara paling maju pun bertekuk lutut karenanya? Justru disinilah kesalahan kita yang begitu banyak tergantung pada ilmu dan teknologi semata dan melalaikan petunjuk-NYA.

 

Salah satu yang bisa kita baca dari musibah ini sepertinya Allah mengingatkan kita untuk menunjukan bahwa ini loh dampak dari kamu mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi semata. Negeri-negeri yang menjadi kiblatmu selama ini pun tidak bisa berdaya melawan makhluk Allah yang sangat kecil sekali pun.

 

Dan poin pelajarannya yang harus bisa kita peroleh adalah waktunya kita untuk benar-benar berusaha memahami petunjuk-NYA dan menjadikan petunjuk-NYA sebagai panglima, sedangkan segala macam ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan tetapi dia sebagai prajurit saja. Prajurit tidak boleh bertentangan dengan apa yang digariskan oleh sang panglima.

 

Jadi waktunya kita sekarang berhijrah dan mengandalkan petunjuk-NYa sebagai panglima dan mengerahkan seluruh daya dan upaya manusia termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pelaksananya yaitu prajurit yang megikuti arahan panglima. Saya beri contoh aplikasinya dalah dalam hal yang selama ini kita anggap remeh temeh, misalnya yang terkait makanan.

 

Sangat bisa jadi, merebaknya penyakit ini secara global karena manusia modern mengabaikan petunjuk-NYA dalam hal makanan ini. Baik cara-cara pengusahaannya maupun zat atau bahan makanan yang dipilihnya. Pengupayaan makanan dunia yang megarah pada segelintir kelompok kecil manusia yang mengendalikan makanan dunia, tentu ini bertentangan dengan kehendak Allah yaitu agar harta atau ekonomi itu tidak hanya berputar di golongan yang kaya saja (QS 59:7).

 

Dari sisi zat, Allah menghendaki kita makanan yang halal dan baik dan jenisnya sudah diuraikan sampai sedetail-detailnya di Al-Qur'an Surat 80 ayat 23 - 32. Tetapi manusia sekarang terlalu fokus pada biji-bijian dan daging.

 

Fokusnya manusia pada makanan yang berbasis pada komoditi biji-bijian dan daging ini juga terkait dengan kepentingan ekonomi. Karena biji-bijian dan daging sangat mudah diupayakan secara besar-besaran sehingga menjadi dominansi pada kapital yang besar. Maka pengupayaan yang sifatnya kecil-kecilan pada rakyat kebanyakan di dunia pasti tergiling oleh raksasa-raksasa yang menguasainya di dunia.

 

Mereka menguasai dari sejak produksi benih sampai distribusi dan sampai pada hilir makanan yang sampai ke masyarakat. Dampaknya apa yang kita makan bukanlah makanan yang terbaik untuk kita, tetapi makanan yang paling menguntungkan bagi para pemasar-pemasar global.  

 

Di negara Super Power seprti Amerika contohnya, pernah ada survey di negeri itu bahwa 80% penduduknya kurang makan makanan yang berwarna. Padahal makanan-makanan yang berwarna inilah yang kaya akan antioksidan dan yang dengan itu membuat daya tahan tubuh kita membaik. Makanan yang berwarna warni ini pun telah diisyaratkan oleh Allah di Al-Qur'an (QS 35:27).

 

Apa dampaknya ketika penduduk negeri Paman Syam sangat kurang makan makanan yang berwarna-warni? Daya tahan tubuh rata-rata penduduk negeri itu menjadi sangat lemah. Itulah dugaan saya yang menjadi penyebab mengapa Amerika saat ini menjadi 'memimpin perolehan mendali' dari sisi jumlah penderita Covid-19 dan korban yang meninggalnya.

 

Namun kita juga harus waspada karena makanan kita juga timpang sekali. Di Indonesia makanan kita condong ke karbohidrat atau sumber energi dan mengabaikan sumber zat-zat dari nutrisi lainnya yang justru sangat penting dalam membangun ketahanan tubuh seperti vitamin, mineral, dan  fitonutrien. Tiga hal yang terakhir ini pun adanya di makanan-makanan yang berwarna-warni dari kategori buah dan sayur.

 

Tanpa kita sadari, dalam situasi yang kita dilanda musibah seperti yang kita alami sekarang ini pun yang dikampanyekan melalui iklan-iklan di televisi tetap makanan yang berbasis karbohidrat. Karena yang mampu beriklan adalah perusahaan-perusahaan produsen mie instan. Ada seorang dokter cerdas yang mengingatkan masyarakat untuk membeli buah dan sayur, tetapi dia hanya muncul sekali di televisi karena tentu kampanye yang semacam ini tidak ada yang membiayai karena tidak menguntungkan untuk para pedagang-pedagang makanan besar.

 

Jadi intinya­ kita harus mulai berfikir untuk berhijrah mengenai makanan kita untuk tidak lagi bisa disetir oleh media mainstream, karena media mainstream pasti hanya mengiklankan produk makanan dari perusahaan yang mampu membayar iklannya. Sedangkan dokter-dokter yang mengkampanyekan makanan sehat dan makanan yang mengandalkan buah dan sayur, mereka hanya bisa tampil sekali kali saja karena tidak ada yang mensponsorinya.

 

Inilah salah satu contoh hijrah kita, kalau kita bisa memperbaiki makanan kita saja, akan banyak hal lain yang akan ikut terperbaiki, misanya distribusi pendapatan nasional yang lebih menyebar karena rakyat-rakyat kecil, petani-petani kecil, dan semuanya bisa ikut terlibat dalam produksi makanan yang sehat ini.

 

Bahkan secara global pun, kampanye untuk makanan yang beraneka ragam ini juga sudah pernah dikampanyekan oleh badan dunia PBB. Tahun 2016 misalnya, dicanangkan PBB sebagai tahun Pulses International. Yang dimaksud pulses adalah aneka macam biji-bijian dari tanaman legum yang bisa dimakan. PBB melalui FAO menganggap pulses ini sebagai salah satu bahan makanan yang akan meningkatkan Food Security bagi negara-negara yang mau mengadopsinya.

 

Lagi-lagi kita tidak pernah mengenal bukan apa yang disebut pulses dan tahun Pulses International yang dicanangkan PBB tersebut? Sederhana, karena tidak ada yang mensponsori kampanyenya. Karena kalau masyarakat Indonesia ramai-ramai menanam aneka biji-bijian yang bisa dimakan di tanah-tanah pekarangannya, maka akan berkuranglah porsi kebutuhan makanan yang berbasis tepung, seperti gandum yang harus kita import dan yang berbasis daging, susu dan lain sebagainya yang mayoritas kita import.

 

Biji-bijian ini kaya akan protein dan juga lemak yang baik yang bisa mengisi sebagian kebutuhan energi dan protein. Disamping itu, dia juga kaya akan mineral yang dibutuhkan tubuh kita untuk bisa membangun ketahanan tubuh yang lebih baik.

 

Di Indonesia, kita memang tidak mengenal pulses ini, tetapi kita memiliki sangat banyak jenis kacang-kacangan dan biji-bijian yang bisa dimakan dan bernutrisi tinggi. Sebut saja misalnya ada aneka jenis koro, ada kacang tolo yang dari kecil kita makan dahulu, ada kacang merah, dan berbagai bentuk kacang-kacangan lainnya yang kalau kita bisa ketemu bijinya saja saat ini insyaAllah bisa kita tanam ulang, karena biji-biji dari tanaman tersebut masih asli belum dihibridkan atau bahkan di-GMO-kan oleh kepentingan-kepentingan konglomerasi penguasa pangan dunia.

 

Dan masih sangat banyak lagi sumber makanan berwarna-warni dari kelompok buah dan sayur melengkapi biji-bijian ini yang bila kita biasakan makan makanan dengan mengikuti petunjuknya ini (QS 80:23-32), bukan hanya tubuh kita insyaAllah akan lebih sehat, tetapi ekonomi kita juga akan lebih merata.

 

Tanah-tanah terlantar akan teroptimalkan penggunaannya bahkan desa-desa terpencil dan tertinggsl sekali pun insyaAllah akan bisa ikut kontribusi membangkitkan ekonominya berbasis pasar yang ada di depan mata kita sendiri, yaitu konsumsi domestik kita sendiri. Jangan sampai pasar makan yang sangat besar ini kembali disabot oleh kepentingan segelintir orang yang mengambil keuntungan berlebihan dengan mendominasi pasar pangan dan mengabaikan kepentingan yang lebih luas, yaitu pemerataan ekonomi.

 

Bila kita serius berhijrah memperbaiki diri kita dan masyarakat kita dari sisi pangan dan kemandirian kita ini, insyaAllah selama dan pasca pandemi Covid-19 ini, kita akan terlahir kembali sebagai bangsa yang lebih kuat secara harfiah, yaitu fisik-fisik kita lebih sehat dan lebih kuat pula secara ekonomi karena tidak ada masyarakat yang tidak bisa berkontribusi dalam kegiatan ekonomi memproduksi makanan untuk kita semua.

 

Inilah yang dijanjikan Allah bahwa bila kita serius berhijrah, Allah janjikan tempat berhijrah yang banyak dan luas. Ketika kita mau berpindah dari makanan yang kurang baik, dari sisi nutrisi maupun proses pengadaannya, ke makanan yang lebih baik dari sisi nutrisi maupun proses pengadaannya, insyaAllah akan banyak alternatif yang bisa kita hadirkan bersama.

 

"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS 4:100).