Food Security Challenge

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Sabtu, 25 Januari 2020

Food Security Challenge

Sudah lebih dari 50 tahun rakyat kita tergantung dengan bahan makanan pokok berupa beras, sebelum ini masyarakat di berbagai daerah punya bahan makanan pokoknya sendiri, seperti jagung, sagu, dan lain sebagainya. Bahkan bukan hanya tergantung pada beras, kita kini juga tergantung pada bahan makanan dari gandum.

 

Masalahnya adalah baik beras maupun gandum, supply jangka panjangnya belum tentu bisa berkesinambungan atau sustainable bagi kita. Untuk pertumbuhannya, tanaman padi yang nantinya menghasilkan beras membutuhkan begitu banyak air, sedangkan daerah - daerah produsen utama padi di Indonesia, seperti Jawa, Bali, dan Lombok, supply air tawarnya hanya sekitar 4% dari air tawar di Indonesia.

 

Bahkan pada tahun 2025, beberapa daerah di Jawa, Bali dan Lombok dikhawatirkan mengalami krisis air permanen sehingga tanaman padi bisa menjadi semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok kita.

 

Gandum apalagi, belum terbukti tumbuh di kita, sehingga kita masih harus mengimport 100% kebutuhan gandum kita. Karena ketergantungan pada import ini, maka rawan sekali terganggu oleh berbagai gejolak geopolitik maupun gejolak moneter dunia. Kita masih ingat tahun 1998, bahan - bahan makanan berbasis gandum nyaris menjadi langka karena tiba - tiba menjadi sangat mahal untuk dibeli dengan nilai rupiah kita yang lagi terpuruk saat itu.

 

Walhasil, untuk food security yang lebih stabil, kita membutuhkan adanya gerakan besar untuk tanaman penghasil makanan pokok yang tidak terlalu banyak membutuhkan air, karena kelangkaan air kemungkinan akan terjadi, dia juga harus bisa ditanam di sebanyak mungkin wilayah negeri ini sehingga setiap daerah bisa menanamnya.

 

Pilihan saya jatuh pada jagung sebenarnya, namun jagung yang kita kenal kebanyakan ditanam oleh petani sekarang adalah jagung untuk pakan ternak, sehingga kurang enak untuk menjadi makanan manusia.

 

Untuk mengatasi masalah rasa ini, kami sudah berburu berbagai jenis varietas jagung asli nusantara ini yang rasanya enak, dan Alhamdulillah kami menemukannya. Dari khazanah kekayaan nusantara kita, ternyata ada jagung yang begitu enaknya, baik dia direbus sebagai jagung rebus, maupun untuk diolah menjadi berbagai jenis makanan turunannya.

 

Hanya saja, namanya jagung tentu dia mempunyai karakter yang pasti berbeda, misalnya dengan gandum dan beras sehingga reaksi pertama orang - orang yang memakan jagung pasti akan membandingkan dengan yang telah mereka biasa makan, yaitu beras dan gandum. Selain itu juga ada masalah kandungan proteinnya yang tidak terlalu tinggi.

 

Maka untuk tantangan ketahanan pangan kedepan, yang kami konsepkan adalah berbasis jagung  yang dikombinasikan dengan bahan makanan bernutrisi tinggi, seperti dari beberapa jenis spesies microalgae, yang kandungan proteinnya bisa lebih 50% dari berat keringnya, juga dipadukan dengan teknologi pangan yang mumpuni sehingga paduan keduanya menghasilkan bahan baku pangan yang dengan mudah bisa diolah menjadi makanan yang lezat dan bernutrisi tinggi.

 

Maka diantara inisiatif yang kami gagas di Indonesia Startup Center adalah menghadirkan bahan pangan baru berbasis jagung khusus nan sangat lezat ini plus protein dari tanaman microalgae. Namun, karena untuk menjadikan makanan yang siap konsumsi diperlukan keahlian para artisan kuliner untuk merancang makanan yang lezat dan bergizi, kami juga masih membutuhkan dukungan para ahli masak, ahli membuat kue, dan lain sebagainya.

 

Pada kesempatan ini, kami menawarkan kepada Anda yang tertarik untuk bergabung bersama kami untuk berbuat sesuatu yang bisa jadi sangat dibutuhkan negeri ini di masa - masa yang akan datang .

 

Pertama yang kami butuhkan adalah para calon sarjana S1, S2, dan S3 yang tertarik untuk mendalami riset dan mewujudkan konsep bahan pangan baru dari dua kombinasi bahan tersebut diatas. Untuk para peneliti ini kami bersedia membayar biaya penelitiannya yang wajar untuk ini.

 

Kedua yang kami butuhkan adalah konsep makanan atau jajanan yang lezat dan bergizi, juga berbasis dua bahan baku tersebut diatas. Bagi para praktisi kuliner ini, kami bersedia menjadi mitra untuk realisasi ide - idenya menjadi usaha yang relevan untuk ini. Dengan kombinasi mitra - mitra tersebut, insyaAllah secara bersama - sama kita bisa ikut memperbaiki tingkat food security Indonesia yang kini berada di urutan nomor 62 dari 113 negara dalam food security index.  Dengan makanan baru ini pula, kita bisa ikut memperbaiki angka stunting di Indonesia yang kini terburuk ketiga untuk wilayah Asia, yaitu setelah Timur Leste dan India.

 

Bila Anda tertarik bisa mengajukan proposalnya ke email kami di kontak website ini atau ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. .