Sedekah Yang Wangi

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 21 November 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 21 Nov 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,593 Beli Rp. 2,082,809

  • Harga Dinar Emas per Tue, 21 Nov 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,165,760 Beli Rp. 2,079,130

  • Harga Dinar Emas per Tue, 21 Nov 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,166,426 Beli Rp. 2,079,769

  • Harga Dinar Emas per Mon, 20 Nov 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,187,012 Beli Rp. 2,099,532

  • Harga Dinar Emas per Mon, 20 Nov 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,189,006 Beli Rp. 2,101,446

Sedekah Yang Wangi

Ada kebiasaan cerdas dan mulia dari Ummul Mukminin Aisyah Radlianllahu ‘Anha yang tidak terbayangkan oleh kita yang hidup di jaman ini. Yaitu bila ada pengemis mengetuk rumahnya, beliau mengusap uangnya dengan minyak wangi baru kemudian menyedekahkannya kepada si pengemis. Ketika ada yang bertanya mengapa beliau melakukan ini, dijelaskannya bahwa sedekah tersebut sampai di tangan Allah sebelum sampai di tangan pengemis – beliau ingin ketika sampai di tangan Allah sedekahnya dalam kondisi wangi !

 

Dalam kesempatan lain ada pengemis mengetuk rumah Siti Aisyah dan Barira pembantunya yang membukakan pintu. Pengemis tersebut berucap : “Wahai keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam, beri saya sesuatu”. Siti Aisyah mendengarnya dari dalam rumah dan bertanya ke pembantunya, “Siapa dia ?” , Barira menjawab : “Pengemis, dan kita hanya punya segenggam gandum untuk engkau berbuka puasa”.

 

Siti Aisyah kemudian memerintahkan ke pembantunya : “Berikan itu kepadanya, Allah akan memberi untukku”. Lalu Barira memberikan bahan makanan satu-satunya yang ada tersebut kepada si pengemis. Hari sudah sore dan sampai magrib tiba, Siti Aisyah tidak memperoleh sesuatu untuk berbuka puasa. Maka dia berbuka puasa dengan air putih.

 

Duduk di samping Siti Aisyah yang lagi berbuka dengan air putih, Barira menyindir : “Allah akan memberi, Allah akan memberi”. Lalu Siti Aisyah tinggal sholat magrib, saat beliau sholat ini ada yang mengetuk pintu rumahnya, seorang laki-laki datang membawa daging kambing.

 

Setelah menyelesaikan sholat-nya, Siti Aisyah bertanya kepada Barira : “Siapa dia ?”, Barira menjelaskan : “Laki-laki yang tinggal di daerah ini, dia tidak pernah memberi kita sesuatu, tetapi hari ini dia memberi kita hadiah”. Lalu Siti Aisyah berucap : “Wahai Barira, bukankah daging kambing lebih baik dari segenggam gandum ?”.

 

Lalu Siti Aisyah menyampaikan nasihat untuk menguatkan iman pembantunya ini : “Saya bersumpah demi Allah, seseorang tidak bisa sampai benar-benar beriman sampai dia lebih percaya kepada Allah dari apa yang ada di tangannya – sesuatu yang bisa dilihat digenggaman tangannya”.

 

Pentingnya sedekah ini juga tercermin dari panjang lebarnya Allah mengulas berbagai sisi sedekah ini  lebih dahulu dan lebih banyak ketimbang sisi-sisi ekonomi dari rangkaian ayat-ayat sedekah dan ekonomi di surat Al-Baqarah ayat 261-283. Sedekah dibahas dalam 14 ayat, sisi- sisi ekonomi di bahas di ayat selebihnya. Bahkan ketika membahas hutang sekalipun, Allah memberi salah satu solusinya juga kembali ke sedekah (QS 2:280).

 

Di antara janji Allah terkait sedekah ini adalah dilipat gandakan hingga 700 kali atau bahkan lebih (QS 2:261), mendapatkan pahala disisinya, tidak ada rasa takut dan sedih (QS 2:263 dan 274), ampunan dan karunia (QS 2:268), dihapuskannya kesalahan-kesalahan (QS 2:271), kebaikan untuk yang berinfaq dan tidak terdlolimi (QS 2:269).

 

Atas berbagai janji Allah dalam rangkaian ayat-ayat tersebut di atas, maka sedekah atau infaq juga menjadi solusi yang efektif bagi perbagai persoalan masyarakat modern sekarang yang sering dilanda berbagai hal yang menggalaukan , rasa sedih dan takut terhadap sesuatu yang tidak jelas ujung pangkalnya.

 

Tetapi Allah juga mengingatkan ketika kita berinfaq, hendaknya semata-mata hanya karena  mencari ridloNya – tidak ada agenda lain selain dari itu (QS 2:272). Lagi pula, apa ada hal yang lebih penting dan lebih besar artinya dari ridlo Allah ? Tidak ada !

 

Bagaimana kita akan bisa melakukan hal yang seperti ini ? jawabannya ada di nasihat Siti Aisyah kepada pembantunya Barira tersebut di atas – dari waktu ke waktu kita harus meningkatkan keimanan kita secara terus menerus sampai kita bisa lebih mempercayai Allah lebih dari yang ada di genggaman kita, lebih dari sesuatu yang terlihat oleh mata kita !

 

Untuk meniru tingkat keimanan Siti Aisyah ini, meniru rumah tangga seperti rumah tangga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kami merelease sebuah parfum yang diinspirasi oleh wewangian yang biasa dipakai Siti Aisyah ketika beliau mendekati Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam – yaitu wewangian yang beraroma Saffron atau Za’faron – salah satu jenis wewangian yang oleh Allah digunakan untuk menciptakan bidadari.

 

Parfum ini khusus untuk kalangan wanita ketika dia di rumah, dipakai untuk suaminya – bukan untuk di luar rumah karena akan tercium oleh orang lain ! Lebih detil karakter parfum ini dapat dilihat di link berikut : bit.ly/Aisha_Huurun