The Next G

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 18 Juli 2018

The Next G

Belum pernah saya menghadiri wisuda yang mengharu biru seperti yang saya saksikan pekan lalu di Madrasah Al-Fatih – Hambalang, Bogor. Wisuda yang dihiasi isak tangis guru-guru yang merasa malu terhadap anak-anak didiknya yang mestinya mendapat guru yang lebih baik, isak tangis orang tua yang ketakutan anaknya menjadi sombong karena tingginya ilmu mereka jauh melebihi rata-rata orang tua dan bahkan juga guru-guru mereka. Siapa yang diwisuda ini ? Inilah The Next G – generasi berikutnya yang insyaAllah akan memimpin peradaban.

 

Mereka adalah anak-anak yang sangat belia di kisaran usia 13-15 tahun, tetapi mereka sudah hafal 30 juz Al-Qur’an dengan sangat baik. Dan tidak berhenti disini diantara mereka sudah ada yang mulai menghafal dengan sangat baik pula hadits-hadits hukum, lebih dari 1000 hadits dalam kitab Bulughul Maram.

 

Bukan sekedar hafal isi haditsnya, mereka hafal lengkap dengan  nama perawi, sanad dan matan dari hadits-hadits tersebut. Inilah yang membuat para guru dan orang tua yang hadir menangis, kita tidak sebaik mereka dan mereka mestinya mendapatkan guru yang lebih baik. Berapa banyak guru yang hafal 30 juz plus 1000 lebih hadits ? dan orang tua – berapa banyak yang bisa mencapai ini ?

 

Maka harapan untuk lahirnya generasi yang jauh lebih baik dari kita itu kini nampaknya mulai beralasan, di usia awal remaja mereka – ketika anak-anak seusianya disibukkan dengan aneka game dan gadget, mereka para santri ini hanya menyentuh HP-nya ketika bener-bener perlu saja. Dan mereka melakukan ini bukan karena paksaan, mereka memiliki self-drive untuk mencapai target belajarnya masing-masing.

 

Ini nampak dari upaya heroic salah satu remaja yang tertinggal oleh temannya. Ketika puluhan anak-anak lain sudah dinyatakan lulus hafalan 30 juz oleh team gurunya, si anak ini belum lulus – masih kurang 8 halaman. Sang guru tidak ingin memaksa karena memang teman-temannya yang lain sudah harus pulang dari camp di mana mereka menyelesaikan ujiannya. Satu anak ini tidak mau pulang sebelum bisa mengejar teman-temannya hafal 30 juz. Maka team guru-pun menungguinnya menyelesaikan hafalannya yang 8 halaman sampai jam 2 dini hari esuknya.

 

Lantas bagaimana kehidupan mereka nanti setelah hafal 30 juz dan lebih dari 1000 hadits-hadits hukum ? Karena mereka dididik bukan hanya untuk menghafalkan, tetapi juga mengamalkannya – maka para orang tua dan guru-guru tidak pernah kawatir sedikit-pun tentang masa depan mereka.

 

Dan optimism ini sangat beralasan, mengapa ? Bila di situs ini sering saya ulas betapa sepenggal ayat di Surat Al-Hajj ayat 5 saja sudah akan bisa membuat Anda petani yang bahkan lebih baik dari yang belajar pertanian dari S1 sampai S3 skalipun, kemudian 9 ayat di Surat Al-Baqarah 275-283 dapat menyelesaikan segala kekacauan ekonomi ribawi – bisa dibayangkan apa yang akan bisa diselesaikan oleh anak-anak belia yang sudah hafal 30 juz dan lebih dari 1000 hadits tersebut ?

 

Mereka masih punya waktu sekitar 3-4 tahun lagi di Madrasah untuk belajar life skills dan mengamalkan ilmunya sebelum dikembalikan ke masyarakat, saat mereka usia 17-18 tahun nanti insyaAllah mereka sudah bukan sekedar hafal tetapi juga terampil meng-aplikasikan ilmunya dalam berbagai urusan kehidupan.

 

Tidak terbayang bukan kalau kita nanti memangggil anak kita yang baru menginjak 17 tahun dan bertanya begini misalnya, “Nak, harga barang-barang mahal, pemerintah dan segenap team ekonomi, teknokrat dan birokratnya Nampak tidak berdaya mengatasi, bagaimana menurutmu ?” Kemudian si anak mampu menguraikan dengan sangat gamblang step by stepnya menurut Al-Qur’an.

 

Atau Anda bertanya begini : “Nak, Ayah mau transaksi dagang dengan mitra Ayah dengan kondisi begini dan begitu…, bagaimana menurutmu ?” Lalu si anak menguraikan panjang lebar : “Tidak boleh ayah kalau yang seperti itu,  yang dibolehkan dan dicontohkan di jaman nabi adalah begini…dst.” Kemudian si anak mengutip di luar kepala hadits-hatis yang terkait dengan transaksi perdagangan.

 

Bayangkan ketika para orang tua yang memiliki anak seusia pada umumnya baru bertanya “…hendak melanjutkan kuliah kemana kamu ?...”, para orang tua dari santri-santri kita telah bertanya tentang berbagai solusi dari masalah-masalah kehidupan pada anaknya.

 

Masalahnya adalah bagaimana agar kegembiraan atas lahirnya the Next G yang insyaAllah akan memimpin peradaban dunia ini bukan hanya milik puluhan orang tua yang bersyukur tersebut ? Bagaimana agar jutaan orang tua di negeri ini dan bahkan juga negeri lain bisa melihat dan terlibat dalam kelahiran generasi yang sama ?

 

Inilah yang juga kami persiapkan, para orang tua lain di seluruh penjuru dunia dapat mengikut-sertakan program pendidikan yang sama melalui teknologi yang kini siap dicoba di www.ikuttab.com. Baru satu modul yang siap tetapi justru ini yang amat sangat penting, yaitu modul untuk orang tua-nya Parenting Nabawiyah – pendidikan orang tua mengikuti cara Nabi.

 

 

Mengapa kita mulai dari para orang tua ? pencapaian anak-anak tersebut di atas tidak lepas dari pencapian orang tua-nya. Betapa banyak orang tua yang menyerah di tengah jalan – tidak tega – melihat anaknya ‘menderita’ di pesantren kami yang ala kadarnya, jauh dari kemewahan rumah-rumah mereka.

 

Betapa banyak orang tua yang tidak mantab dengan pendidikan mulai dari keimanan dan Al-Qur’an yang kami bangun, orang tua yang ingin sedari dini membekali anaknya dengan Bahasa Inggris, matematika dlsb, membekali anaknya untuk siap masuk perguruan tinggi terbaik dlsb. ?

 

Berapa banyak dari kita para orang tua jaman ini yang memiliki hafalan cukup, minimal cukup PD apabila tiba-tiba kita didaulat untuk menjadi Imam sholat berjamaah ? Berapa banyak dari kita yang hafal hadits-hadits hukum, jangankan 1000 hadits – 1 atau 2 hadits yang sangat penting-pun bisa jadi kita hanya tahu garis besar isinya.

 

Maka melalui solusi teknologi seperti www.ikuttab.com tersebutlah kita ingin menyebarkan wabah semangat ke para orang tua untuk belajar kembali, bagaimana seharusnya mendidik anak-anak mereka. Agar anak-anak mereka tidak justru menjadi korban dari cita-cita orang tuanya.

 

Lagi pula, Parenting Nabawiyah atau mendidik anak mengikuti cara Nabi – siapa yang tidak mau ? dan itu kini dapat mulai Anda ikuti dari rumah Anda dimanapun Anda berada. Ayo kita hantarkan bersama generasi yang lebih baik, The Next G yang insyaallah akan memimpin peradaban dunia yang akan datang. InsyaAllah.