Target Puasa

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 25 September 2018

Target Puasa

Tinggal dua hari lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat dan ampunanNya. Tetapi seperti pertanyaan dalam lagunya Bimbo yang sering kita lupakan adalah “…untuk apa kita berlapar-lapar puasa  ?”. Jawabannya sebenarnya tegas dan lugas di Al-Qur’an “...agar kamu bertakwa”. Maka hasil dari puasa kita seharusnya menjadikan kita orang yang lebih bertakwa. Tetapi bagaimana kita bisa mengukur pencapaian target puasa kita ini tercapai atau tidak ?

 

Takwa itu qualitative intangible, tidak kelihatan dan tidak bisa diukur/dihitung dengan parameter yang tangible. Seperti angin yang tidak kelihatan tetapi kita tahu keberadaannya ketika rumput-rumput pada bergoyang. Maka kurang lebih demikian, kita sudah juga terbiasa mengukur peningkatan ketakwaan di bulan Ramadhan dengan sesuatu yang tangible.

 

Masjid-masjid yang biasa kosong sampai harus memasang tenda karena membludaknya jamaah yang ingin sholat tarawih – minimal di hari-hari pertama Ramadhan. Toko-toko buku kelarisan jualan Al-Qur’an karena tiba-tiba orang berburu Al-Qur’an untuk persiapan Ramadhan.

 

Yang jarang sholat malam, menjadi rajin sholat malam. Yang jarang bersedekah, menjadi rajin bersedekah. Yang tidak biasa mendengarkan tausyiah keagamaan, tiba-tiba rajin mengikuti kuliah dhuhur yang disediakan di kantor-kantor.

 

Pendek kata banyak sekali aktivitas-aktivitas quantitative tangible – yang nampak dan bisa diukur (dengan penuhnya Masjid dlsb) – yang menghiasi Ramadhan kita. Bahkan secara harfiah kompleks perumahan dan Masjid tempat saya tinggal-pun berhias menyambut datangnya bulan Ramadhan.

 

Semua aktivitas yang quantitative tangible tersebut tentu saja baik karena itu semua bisa menjadi jalan untuk meningkatkan ketakwaan kita – yaitu target utama puasa kita. Membaca Al-Qur’an, menghadiri kajian-kajian, tidak terputus mengikuti salat tarawih bahkan juga qiyamul lail-nya, juga bahkan puasa-nya sendiri adalah jalan untuk meningkatnya takwa kita.

 

Tetapi apa inti dari takwa itu sendiri ? saya ambilkan salah satu saja contoh definisi yang ada di Al-Qur’an berikut : (Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 3:138).

 

Rame-rame membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan tentu sangat baik, karena setiap huruf yang dibacanya dibalas dengan sepuluh kebaikan. Mengaji sampai paham apa yang dibaca dari isi Al-Qur’an itu tentu lebih baik lagi, tetapi ini semua baru mengantar kita pada linnas – manusia kebanyakan, belum menjadikannya kita bertakwa.

 

Yang menjadikan kita bertakwa adalah penggalan kedua dari ayat tersebut di atas – yaitu ketika kita menjadikan Al-Qur’an adalah Hudha wa Mau’idhoh – petunjuk serta pelajaran. Ketika Al-Qur’an menjadi petunjuk serta pelajaran dari apa-apa yang kita lakukan dalam keseharian kita, dalam berbisnis, dalam berpolitik, dalam mendidik generasi dlsb – maka itulah takwa.

 

Maka kalau puasa kita berhasil mencapai targetnya – yaitu menjadikan kita orang bertakwa, sehabis Ramadhan kita bukan hanya tetap rajin ke Masjid, menghadiri kajian-kajian, qiyamul lail dlsb, tetapi kita juga berubah dari mampu membaca atau bahkan memahami Al-Qur’an dengan baik bertambah menjadi mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk serta pelajaran.

 

Kalau kita belum mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pelajaran, kita baru sampai membaca dan paham saja – maka kategorinya masih linnas belum lil-Muttaqiin, masih orang kebanyakan – belum menjadi orang-orang yang bertaqwa.

 

Tentu ini semua harus dilakuan secara bertahap, misalnya bulan ramadhan ini target kita mengamalkan beberapa ayat yang menjadikan perhatian utama kita saat ini. Bulan Ramadhan berikutnya demikian pula, dan seterusnya. Maka bersamaan dengan silih bergantinya Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya akan makin banyak ayat-ayat yang kita amalkan.

 

Di antara ayat-ayat yang kita amalkan tersebut juga ada yang sifatnya kewajiban individu – Fardhu ‘Ain, seperti perintah puasanya sendiri, zakat, meninggalkan riba dlsb. Ada pula yang sifatnya Fardhu Kifayah, kewajiban kelompok – dan ini sangat luas, bukan hanya sekedar memandikan jenazah dan mensholatinya.

 

Segala hal yang menjadi kebutuhan umat ini, baik bersifat makanan, kesehatan, keamanan, kehormatan, kemerdekaan dlsb – yang belum terpenuhi, menjadi kewajiban kita semua untuk bisa memenuhinya – dan ini termasuk Fardhu Kifayah. Bila salah satu bagian dari umat ini bisa memenuhi, gugur kewajiban yang lain.

 

Bagaimana kalau tidak ada atau tidak cukup yang memikirkan kecukupan pangan dari umat ini, tidak ada jaminan kesehatan yang tidak melanggar syariah – yang ada masih bersifat ribawi , wanita-wanita tkw kita masih banyak yang dilecehkan di luar negeri, saudara-saudara kita di Palestina masih terus terdzholimi dan belum memperoleh kemerdekaannya – masih begitu banyak Fardhu Kifayah yang membutuhkan sebagian kita untuk melaksanakannya, agar yang lain juga gugur kewajibannya.

 

Maka mengamalkan Al-Qur’an juga tidak cukup berhenti pada yang menjadikannya kewajiban individu, tetapi juga yang menjadikan kewajiban kelompok. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS 3:104)

 

Waduh, ternyata berat ya untuk mencapai target orang-orang yang bertakwa itu ? Memang berat, makanya kita rela berlapar-lapar berpuasa sebulan penuh setiap tahun untuk mencapainya. Dan takwa bukanlah snap shot atau potret kondisi sesaat, takwa adalah suatu on-going process – suatu upaya untuk bisa meningkat secara terus menerus.

 

Semoga puasa kali ini benar-benar bisa meningkatkan ketakwaan kita, dan kami atas nama keluarga besar GeraiDinar Group yang mengelola situs ini dan seluruh aktivitas lainnya yang terkait,  mohon maaf yang sebesarnya bila dari tulisan, ucapan atau tindakan kami ada yang belum berkenan – semoga Ramdhan ini kesempatan untuk memperbaikinya. InsyaAllah.