Article Categories

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Sabtu, 20 Oktober 2018

Entrepreneurship

Biyadi Ka Al Khair : Cara Terbaik Dalam Mesikapi Masalah…

BiyadiKa Al Khair

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (QS 3 :26-27)

 

 

Saya ada saudara yang memiliki penyakit langka sejak usia SMA.  Konon penyakit ini timbul karena sewaktu SMP tahun 60-an, sebagai seorang muslim anak kyai dia sering dihajar dan kepalanya dibentur-benturkan ke tembok oleh anak-anak PKI yang waktu itu lebih kuat di daerahnya.

 

Penyakit ini menyebabkan dia sering tidak sadar diri secara mendadak, dimana saja dan kapan saja. Berpuluh tahun dia berobat dengan seluruh ahli terbaik yang ada di negeri ini (dia sendiri seorang dokter spesialis) tidak satupun yang bisa menjelaskan dengan pasti penyakit dia ini, dan tentu juga tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter terbaik lha wong diketahui saja penyakitnya tidak.

 

Read more...

Tidak Ada Balasan Untuk Kebaikan Selain Kebaikan Pula…

Ihsan

Kalau saja iman seseorang bisa diukur dengan suatu alat ukur yang singkatnya sebut saja Imanmeter, maka mungkin ayat disamping yang artinya “tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula” (QS Ar-Rahman 60) bisa menjadi salah satu indicator-nya. Ada salah satu guru saya dulu mengajarkan iman itu seperti angin, tidak bisa dilihat tetapi keberadaannya bisa kita rasakan. Mumpung ini bulan puasa - bulan kebaikan – saya ingin mengajak pembaca untuk merasakan atau bahkan ‘mengukur’ keberadaan iman kita masing-masing.

 

Salah satu rukun iman, kita sudah belajar sejak kecil dahulu adalah percaya kepada kitab-kitabNya. Kita juga belajar bahwa iman itu diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati dan diamalkan sebagai perbuatan. Nah yang terakhir ini yang akan kita gunakan sebagai indicator untuk imanmeter kita kali ini.

 

Keimanan kita kepada Al-Quran seharusnya membuat hati kita yakin bahwa janji-janji Allah yang kita baca (ucapkan) dari Al-Qur’an tersebut pasti benarnya. Selain sudah terbukti dalam berbagai bidang keilmuan, ada setidaknya 13 tempat dalam Al-Qur’an yang memang menyebutkan “…sungguh janji Allah itu benar…”.

 

Kalau kita sudah baca/ucapkan dan kita yakini kebenarannya, sekarang tinggal membuktikannya dengan perbuatan. Logikanya, kalau kita hanya ucapkan dan yakini tetapi tidak kita amalkan dalam perbuatan, maka kemungkinan besarnya iman itu tidak sempurna di diri kita atau jangan-jangan memang tidak ada…naudzubillahi min dzalik.

 

Dalam ayat yang saya sebutkan  diatas Allah menjanjikan bahwa “tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula”, kalau keimanan itu ada di diri kita  - setelah kita baca bahwa ada ayat tersebut di Al-Qur’an, kemudian juga kita yakini bahwa janji tersebut pasti benar , maka  kemudian pasti kitapun akan mengamalkannya dengan banyak-banyak berbuat kebaikan.

 

Read more...

Wirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah …

Wasilah WirausahaHadits yang sangat popular selama bulan puasa ini adalah sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :

Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun". (Hadits Riwayat Ahmad 4/144,115,116, 5/192 Tirmidzi 804, Ibnu Majah 1746, Ibnu Hiban 895, dishahihkan oleh Tirmidzi).

 

Sayangnya kebanyakan kita memahami dan mengamalkan hadits ini secara tekstual semata, ‘ memberi makan orang berbuka puasa’  tanpa berusaha memahami pesan mulia yang terkandung didalamnya. Tentu saja sangat baik kita berame-rame memberi makanan berbuka puasa di masjid-masjid, di panti-panti dan di masyarakat sekitar kita. Namun ini saja tidak cukup, perintah ‘memberi makan’ ini berlaku sepanjang waktu baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

 

Dalam tulisan saya tanggal 21 Juni 2009 tentang Dialog Penghuni Surga Dengan Penghuni Neraka misalnya, disitu saya jelaskan salah satu penyebab seorang berada di neraka saqar adalah dahulunya tidak memberi makan orang miskin !.(QS 74 : 39 -44).

Read more...

‘Pesantren Wirausaha’ : Training, Coaching & Mentoring Untuk Menghasilkan Qowiyyun Amin…

CoachingTulisan ini untuk menjawab banyaknya minat dan pertanyaan dari tulisan dua hari lalu 27/08/09 tentang Wirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah.   Berrikut adalah jawaban-jawaban kami atas beberapa pertanyaan yang umum :

 

Seperti apa program ini sesungguhnya ?.

 

Program ini idenya adalah untuk melahirkan para wirausahawan yang memenuhi criteria Qowiyyun Amin -  professional dibidangnya dan sangat bisa dipercaya. Karena orang yang bisa dipercaya menurut hemat kami akan lahir dari orang-orang yang beriman kepada Allah (dia akan merasa diawasi terus sepanjang waktu oleh Allah) dan hari akhir (dia harus pertanggung jawabkan setiap perbuatannya sampai akhirat), maka program yang tepat salah satunya mesti menanamkan keimanan ini juga.

 

Oleh karenanya program ini kita buat semacam ‘Pesantren Wirausaha’ yang inti di dalamnya adalah kombinasi antara program Training, Coaching dan Mentoring pada dua bidang sekaligus yaitu menguatkan aqidah dan membangun kompetensi muamalah. Program Training adalah untuk membekali para peserta dengan pengetahuan dan ketrampilan yang cukup mengenai jenis usaha yang akan digelutinya.

 

Read more...

Demi Masa, Sesungguhnya Manusia Itu Benar-Benar Berada Dalam Kerugian…

Demi Masa

Dua puluh empat tahun setelah saya di wisuda, hari ini saya mengantarkan putri sulung saya wisuda. Waktu terasa berjalan begitu cepat sehingga dua puluh empat tahun berlalu begitu saja.

 

Di tengah hiruk pikuk suasana wisuda Universitas Gajah Mada yang hari ini berhasil mewisuda lebih dari 1500 orang, di tengah suasana gembira orang tua-orang tua yang terharu melihat buah hatinya berhasil memperoleh gelar sarjana, tidak tahu mengapa keharuan saya membuat saya merenungkan peringatan dalam surat Al-Ashr.

 

Sama dengan para sarjana baru yang diwisuda tadi pagi; dahulu saya bersama ribuan wisudawan yang lain – di tempat dan waktu yang lain – juga telah  berjanji untuk berbakti pada negeri ini; kini setelah dua puluh empat tahun berlalu, sudahkah janji-janji tersebut kita tepati….?

 

Kalau sebagian saja dari ratusan ribu atau bahkan jutaan sarjana yang lahir di negeri ini berbakti secara sungguh-sungguh pada negerinya, mestinya kita sudah hidup dalam serba kecukupan dan kemakmuran.

Read more...