Article Categories

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 16 Juli 2018

Entrepreneurship

Dari Burgernomics Ke Dinarnomics…

Harga Big Mac

Awalnya adalah Pam Woodwall dari The Economist yang memperkenalkan The Big Mac Index di bulan September 1986. Maka sejak saat itulah  publikasi terkemuka tersebut secara rutin menerbitkan The Big Mac Index , suatu cara yang jenaka untuk mengukur Purchasing Power Parity (PPP) di negara-negara yang berbeda.

 

Secara harfiah cara pengukuran ‘indikator’ ekonomi yang satu ini menjadi benar-benar bisa dicerna di perut kita – karena yang diukur memang berupa harga makanan hamburger Big Mac dari jaringan restoran McDonald’s di seluruh dunia.

 

Teorinya sederhana saja, nilai tukar suatu mata uang sepadan dengan sekelompok barang-barang dalam suatu wilayah negara. Namun kali ini sekelompok barang-barang tersebut digantikan dengan satu barang saja yang konon dijual di seluruh dunia – yaitu ya hamburger Big Mac tadi.

 

Dalam publikasinya pekan lalu misalnya, kita bisa belajar dari angka-angka menarik berikut :

 

Di Amerika sendiri Big Mac tidak mengalami kenaikan dari tahun lalu, yaitu tetap pada harga US$ 3.57; tetapi di Singapore mengalami kenaikan 7 % dari Sin $ 3.95 (2008) menjadi Sin $ 4.22 (2009). Di Indonesia kenaikan ini mencapai 12% dari Rp 18,700 (2008) menjadi Rp 20,900 (2009). Perhatikan kenaikan harga ini, nampaknya mereka melakukan adjustment harga  yang kurang lebih sama dengan tingkat inflasi di negara ybs.

 

Read more...

Bermuamalah Dengan Timbangan Yang Adil …

Harga Sapi

"Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya.  Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

 

Hadits shahih tersebut diatas sangat bermanfaat untuk membuktikan kestabilan daya beli Dinar sepanjang masa. Memang ‘Urwah berhasil membeli kambing seharga setengah Dinar (satu Dinar mendapatkan 2 ekor kambing), tetapi ini dia peroleh karena saling ridho dalam berdagang – sehingga sampai di do’a kan secara khusus oleh Rasulullah SAW.

 

Dari sifat-sifat  Rasulullah SAW kita tahu bahwa ketika beliau memberi 1 Dinar untuk membeli kambing; berarti uang 1 Dinar tersebut tidaklah berlebihan dan tidaklah kurang untuk 1 ekor kambing. Hal ini juga dibuktikan ketika ‘Urwah menjual kembali salah satu kambing yang dibelinya dengan harga ½ Dinar tersebut – dia juga menjualnya dengan harga 1 Dinar.

 

Berdasarkna hadits ini dan realita di pasar sekarang, bahwa dengan uang 1 Dinar sekarang kita-pun bisa membeli kambing 1 ekor dimana saja – maka secara ilmiah bisa dibuktikan bahwa Dinar emas adalah uang dengan rata-rata inflasi Nol persen sepanjang sejarah. Penjelasan lebih detil masalah ini ada di tulisan saya tanggal  21 November 2008 dengan judul Saatnya Membeli Kambing.

 

Read more...

Solusi Berbasis Science Dan Guidance…

Science

Dewasa ini di tengah kebingungan masyarakat dalam mengatasai berbagai persoalan kehidupan, banyak sekali ditawarkan jalur alternatif yang tidak jarang justru menjerumuskan masyarakat dengan kesesatan yang lebih jauh seperti kemusrikan, permainan untung-untungan dan hal-hal lain yang bertentangan dengan syariah Islam.

 

Dalam hal problem kesehatan misalnya; solusi-solusi alternatif yang popular dan bahkan sering disiarkan atau diiklankan di televisi – banyak yang sarat dengan kemusrikan. Masyarakat yang mendapat musibah ataupun cobaan penyakit misalnya, tidak jarang karena ketidak sabaran dan mungkin juga karena ketidak tahuannya – terjebur pula dalam musibah yang lebih dalam lagi yaitu musibah keimanan.

 

Ada panduan sederhana yang saya belajar dari salah satu ustadz yang insyallah lurus keimanannya agar kita tidak mudah tersesat dalam kemusrikan yang terkait dengan pengobatan ini, yaitu pengobatan yang tidak mengandung kemusrikan cirinya adalah dua. Pertama dia secara ilmiah masuk akal, kedua kalau tidak (belum) masuk akal kita saat ini – pengobatan tersebut ada tuntunan atau contohnya langsung dari Rasulullah SAW. Bila pengobatan tersebut tidak masuk akal atau tidak pula ada tuntunannya, maka  kemungkinan pengobatan tersebut mengandung syirik.

 

Contoh yang masuk akal adalah kita berobat ke dokter sebagai ikhtiar untuk jalan kesembuhan kita; dokter mengobati kita secara ilmiah. Para dokter insyallah bisa menjelaskan ke kita secara masuk akal – hal-hal yang dia lakukan terkait dengan penyakit kita.

 

Contoh yang belum masuk akal, namun ada tuntunannya adalah pengobatan dengan Bekam, dengan Madu dan dengan Habatus Sauda. Belum semua hal yang terkait dengan Bekam, Madu dan Habatus Sauda bisa dijelaskan oleh para ahli sampai sekarang. Namun karena pengobatan dengan tiga hal ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, tentu juga boleh kita ikuti.

 

Dua contoh pengobatan tersebut diatas mememuhi kriteria masuk akal atau ada tuntunannya langsung dari Rasullulah SAW; insyallah keduanya tidak ada yang mengandung kemusrikan.

 

Read more...

Business Success = Love , Art & Support

The Equation

Judul tulisan ini saya ambil dari isi buku The Equation karya Omar Tyree (John Wiley & Son, 2009). Yang bersangkutan sebenarnya seorang pengarang novel terkenal, namun karena dia juga seorang pengusaha sukses – maka tulisannya tentang strategi business menjadi mudah diikuti oleh orang-orang yang tidak terbiasa membaca buku business sekalipun.

 

Inti dari isi buku ini adalah bahwa kesuksesan usaha Anda akan terjadi bila ada tiga komponen utamanya yaitu Cinta (Love), Seni (Art) dan Dukungan (Support).

 

Cinta (Love)

 

Ada lima elemen cinta yang dengan kelimanya Anda  akan dapat membangun fondasi business yang sangat kokoh.  Kelima elemen ini adalah Passion, Commitment, Dedication, Loyalty dan Consistency.

 

Passion adalah keterlibatan emosi yang mendalam yang akan membuat Anda antusias dan sangat menyukai apa yang Anda kerjakan dalam usaha Anda.

 

Commitment adalah apa yang mendorong Anda untuk berbuat yang tebaik untuk usaha Anda dikala susahnya maupun di kala senangnya.

 

Dedication adalah kesediaan Anda untuk focus pada usaha yang Anda bangun dan kesediaan bila perlu untuk mengorbankan hal –hal yang tidak sejalan dengan usaha Anda.

 

Loyalty adalah kesetiaan Anda terhadap usaha yang Anda bangun, tidak mudah tergoyah untuk mengalihkan focus usaha yang nampaknya lebih baik ditangan orang lain.

 

Consistency adalah kemampuan untuk menjaga standar-standar  yang Anda kembangkan dalam usaha Anda.

 

Read more...

Anda Bisa Bebas Dari Belenggu Inflasi, Kalau Mau…

Harga Beras

Seminggu menjelang pemilu legislative, Biro Pusat Statistik kemarin mengumumkan tingkat inflasi yang menggembirakan yaitu hanya 0.11 % untuk bulan Juni 2009. Inflasi year on year (Juni 08- Juni 09) menjadi hanya 3.65%, merupakan penurunan yang sangat significant dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berada pada angka 11.03%.

 

Namun apakah berarti harga-harga (akan) turun ?,  jangan dulu berharap harga akan turun. Data yang sama yang di release BPS kemarin juga menunjukkan Indek Harga Konsumen (IHK) yang berada pada angka 114.10 dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya 110.08  - angka ini adalah angka relatif terhadap tahun 2007 yang ditetapkan pada angka 100.

 

Yang menyedihkan adalah IHK untuk kelompok bahan makanan yang naik jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan umum tersebut. Bulan juni 2009 ini IHK kelompok makanan berada pada angka 122.28, naik dari bulan yang sama tahun sebelumnya yang berada pada angka 116.44.

 

Apa artinya angka-angka tersebut ?, kalau tahun 2007 kita bisa membeli beras standar seharga Rp 3,500/kg; tahun 2008 lalu kita  membeli beras yang sama pada harga Rp 4,060 /kg , maka tahun ini kita harus merogoh kantong lebih dalam lagi karena harga beras yang sama kini telah mencapai Rp 4,270/kg.

 

Kalau pendapatan kita naik 10% pertahun saja, pastilah harga beras ini naik lebih cepat dari kenaikan pendapatan kita – inilah yang membuat beban biaya hidup menjadi semakin berat bagi kita semua.

 

Read more...