Akhir Currency War: Antara Resi Bisma dan Dewi Srikandi...?

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 18 Juli 2018

Akhir Currency War: Antara Resi Bisma dan Dewi Srikandi...?

Membaca berita-berita financial dunia akhir-akhir ini mengingatkan saya pada cerita tentang perang Baratayudha tersebut diatas yang dahulu suka saya baca sewaktu sekolah. Banyak sekali kemiripannya, bahkan suasana malam di Kurusetra menjelang peperangan tersebut seolah kini hadir dengan ‘Kurusetra’-nya berupa seluruh wilayah bumi.

 

Pidato gubernur bank sentral Inggris dihadapan para pengusaha menjelang keberangkatannya ke pertemuan para menteri keuangan G 20 akhir pekan ini misalnya mirip dengan kegundahan hati prajurit yang hadir di Kurusetra. Kepada para pebisnis yang berkumpul dia menyampaikan dampak dari currency war  setiap negara akan menderita kehancuran sebagai konsekwensinya...”.

 

Lantas siapa yang menjadi Resi Bisma ?, saya melihat Dollar paling pas dengan lakon Resi Bisma ini. Dia dihormati (baca : digunakan) oleh seluruh negara, tetapi ketika perang Baratayudha pecah dia menjadi panglima perang Kurawa. Meskipun sudah tua, dia sempat membuat prajurit Pendawa kucar-kacir. Ini mirip dengan kondisi negara-negara di dunia yang saat ini diombang-ambingkan oleh permainan nilai Dollar.

 

Siapa yang akan menghadapi Resi Bisma ?. Alkisah akhirnya pihak Pendawa mengirimkan Dewi Srikandi untuk melawan eyang Resi Bisma – lawan yang tidak diduganya akan muncul. Melihat Dewi Srikandi, mata Resi Bisma seolah melihat pesona Dewi Amba – yang dahulu pernah disakitinya dan kini menuntut balas.

 

Melihat kelengahan tersebut, Prabu Kresna segera memerintahkan Dewi Srikandi untuk segera memanah Resi Bisma. Panah Srikandi melesat, namun panah ini nampak tidak akan sampai menyentuh Resi Bisma. Perjalanan anak panah inipun terlihat oleh suami  Srikandi yaitu Arjuna, maka Arjuna memanah pangkal anak panah Srikandi tersebut untuk memberi dorongan dari belakang agar anak panah Srikandi sampai ke dada sang Resi Bisma.

 

Lantas siapa pula yang akan memerankan Dewi Srikandi ini dalam currency war ?.  Saya menjagokan emas atau Dinar. Emas atau Dinar adalah lawan yang tidak diantisipasi oleh Dollar – tetapi Dollar tahu takdirnya akan mati di tangan emas – seperti Resi Bisma yang konon tahu takdirnya akan mati ditangan wanita. Emas atau Dinar sekarang juga ibarat jelmaan Dewi Amba – yang dahulu disakiti Resi Bisma (US$) – karena Dollar sering mempermainkan emas sejak ditinggalkannya Bretton Wood tahun 1971.

 

Tetapi ‘panah’ emas atau Dinar saat ini masih terlalu lemah untuk sampai dapat memanah dada ‘Bisma’ Dollar sampai roboh. Lantas siapa yang akan memanah emas atau Dinar ini dari belakang, untuk mendorongnya agar sampai di dada ‘Bisma’ Dollar ?.

 

Beruntunglah kita, karena yang kita yakini kebenarannya bukan cerita pewayangan diatas, yang kita yakini adalah kebenaran janji Allah. Ketika Allah menjanjikan “...Wa Maa Romaita Idz Romaita Walaakinna Allaha Roma... ,”... dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.... (QS 8 :17) , maka tugas kita hanyalah mulai ‘melempar’...selanjutnya biarlah Allah yang meneruskan lemparan tersebut.

 

Bila currency war ini tidak bisa dicegah, maka di akhir currency war dunia akan butuh uang baru yang dipercayai oleh semua pihak. Bisa jadi ini scenario Allah untuk menggantikan uang yang tidak adil dengan uang yang adil, bisa jadi ini juga scenario Allah untuk ‘meneruskan’ lemparan-lemparan kecil yang kita semua sudah mulai lakukan.

 

Bebarengan dengan currency war ini, dikawatirkan dunia juga mengarah ke proteksionisme yang membawa pada kehancuran  seperti yang dicemaskan oleh gubernur bank sentral Inggris tersebut diatas. Maka inipun bisa jadi adalah scenario Allah agar kita bisa mensyukuri nikmat yang ada  - dengan mengolah potensi alam yang melimpah di sekitar kita. Agar kita tidak menggantungkan diri pada impor kapas 99.5% dari yang kita butuhkan, impor terigu 100% dari kebutuhan kita dan berbagai ketergantungan pada impor-impor lainnya.

 

Kita tidak ikut hadir di padang Kurusetra, bahkan kita juga tidak yakini akan keberadaannya – tetapi kita bisa mengambil pelajaran dari kesombongan, keserakahan dan berbagai kecurangan yang selalu terjadi dalam sejarah peradaban manusia. Di jaman modern ini, bentuk-bentuk kesombongan, keserakahan dan berbagai kecurangan tersebut terwakili oleh seluruh mata uang kertas yang kini sedang berkumpul di ‘padang Kurusetra’ – pada malam menjelang ‘perang Baratayudha’.  Wa Allahu A’lam.