Industry 0.0 : Beyond Technology, Beyond Time and Space

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 10 Juli 2020

Industry 0.0 : Beyond Technology, Beyond Time and Space

 

Banyak yang mengira ketika saya mulai memperkenalkan konsep Industry 0.0 ini adalah sekedar gerakan asal beda, yang lain mengira ini gerakan mengajak untuk mundur ke peradaban masa lampau. Maka pada kesempatan ini saya jelaskan perbedaan mendasar sekali antara Industry 0.0 yang saya gagas dengan berbagai tahapan industry di dunia mulai dari 1.0 sampai 4.0.

 

Untuk gampangnya memahami, ibarat kehidupan manusia - perkembangan Industry 1.0 sammpai 4.0 itu adalah perkembangan jasmani (physical), sedangkan Industry 0.0 itu perkembangan  jiwa (roh, soul atau spirit). Jadi tidak ada pertentangan antara Industry 0.0 dengan Industry 1.0 dst.

 

Keduanya perlu dihadirkan di masyarakat untuk mengatasi perbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di tempat keberadaannya pada zamannya masing-masing. Karena bersifat jasmani atau raga, maka Industry 1.0 sampai 4.0 berbatas ruang dan waktu. Sementara Industry 0.0 karena dia ruh atau jiwa dia tidak terkendala ruang dan waktu.

 

Contohnya begini, sebagian dunia sekarang sudah sampai Industry 4.0 dan bahkan sudah juga dimulai Industry 5.0 oleh jaringan pertemanan saya di Eropa Timur Michael Rada founder dan pencetus ide Industry 5.0; tetapi di bagian dunia lain- tidak usah jauh-jauh, di belasan ribu pulau-pulau kecil kita saja - industry 1.0-pun belum mulai.

 

Mengapa ini terjadi ? ya itu tadi, Industry 1.0 sampai 4.0 fokus ke fisik - tidak mudah memindahkan sesuatu yang fisik ke belahan dunia lain yang membutuhkannya. Sesuatu yang fisik juga memiliki umur  pakai, pada waktunya dia akan mati dan digantikan dengan yang baru.

 

Bahkan menurut teman saya tersebut di atas, Industry 4.0 yang belum mulai di negeri ini-pun sudah dianggap obsolete atau kuno karena sudah ada penggantinya yaitu Industry 5.0 yang digagasnya. Di dunia yang paling maju menerapkan Industry 4.0 umurnyapun  hanya 2 tahun menurutnya.

 

Walhasil kalau manusia mengejar yang fisik, dia akan kelelahan sendiri sementara tujuan utama dari kehidupan ini adalah untuk mencapai kebaikan kehidupan di dunia dan kebaikan di akhirat. Ketika yang dikejar fisik, maka tujuan ini akan semakin menjauh dari kita - dunia semakin timpang dan jurang kemiskinan semakin menganga.

 

Bagaimana ini terjadi ? sejak revolusi Industry 1.0 sumber daya dan modal tersedot ke pusat-pusat industry. semakin maju Industry fisik, semakin cepat penyedotan sumber daya dan capital global itu menuju suatu tempat yang paling efektif menyedotnya.

 

Ketika Industry masih di Jilid  1 dan2 misalnya, kita belum perlu atau masih sangat sedikit kok impor kita dari negara lain - semuanya nyaris tercukupi di dalam negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Tetapi ketika kita memasuki era Industry 3.0 dan bahkan 4.0 untuk sekedar menulis tulisan inipun saya harus membayar ke Apple untuk komputernya, telkom untuk komunikasi internetnya - dan sebuah perushaan nun jauh di sana untuk membayar servernya. Mungkin tidak masalah bagi saya karena spiritual benefit yang saya peroleh worth it untuk itu, tetapi bayangkan betapa banyak spending masyarakat kita untuk membayar aplikasi, content dan juga hardware yang kemudian tidak digunakannya untuk kegiatan produktif - inilah dampak industrialisasi yang memiskinkan sebagian manusia dan segelintir yang lain menjadi kaya raya.

 

Ketika industry fokus pada yang fisik, maka teknologi itu juga bisa justru digunakan kelompok tertentu untuk tujuan yang sebailknya - sengaja ataupun tidak disengaja. Contohnya adalah teknologi pertanian misalnya, bukankah tujuannya adalah untuk memberi makan manusia se dunia agar tidak terjadi kelaparan ?

 

Tapi tanyakan ini pada para petani India, yang profesinya menjadi salah satu profesi paling berbahaya di dunia - dengan tingkat bunuh diri yang sangat tinggi. mengapa para petani ini banyak yang bunuh diri ? Karena teknologi benih yang membuat benih dikuasai oleh segelintir orang.

 

Petani yang seharusnya bisa menanam dari sebagian hasil panen sebelumnya, harus membeli benih baru setiap kali mau menanam. Ketika dia gagal panen, dia akan berhutang, ketika dia gagal bayar hutangnya - dia bunuh diri karena menanggung malu.

 

Teknologi  mekanisasi pertanian-pun bisa berdampak sebaliknya bagi negeri lain yang tidak menguasainya. Di awal 2007 di Meksiko terjadi huru hara tortilla - masyarakat turun ke jalan karena harga tortilla - makanan dari jagung- di negeri itu naik 400 % harganya. Kok bisa harga melambung begitu cepat dan begitu tinggi ?

 

Karena dalam NAFTA (North American Free Trade Agreement) produksi jagung Meksiko kalah  bersaing dengan negeri tetangganya yaitu Amerika Serikat, akibatnya Meksiko tergantung Amerika Serikat dalam pemenuhan kebutuhan makanan pokoknya yaitu jagung. Ketika Amerika tiba-tiba menggunakan jagungnya untuk produksi bahan bakar, masyarakat Meksiko saat itu tidak siap - karena sudah terlanjur bertahun-tahun tergantung pada impor.

 

Ini juga bisa terjadi di kita kapan saja kalau kita lengah. Kita mengimpor gandum, daging, susu dan bahkan juga buah-buahan - karena negeri lain bisa memproduksinya lebih efisien dari kita - maka selain ini terus menggerus kekayaan kita untuk membayarnya, juga berbahaya bila karena satu dan lain hal impor tersebut tidak bisa lagi kita lakukan.

 

Fokus pada perkembangan teknologi fisik, kita juga justru bisa melupakan tujuan penggunaan dari teknologi itu sendiri. Ambil contohnya adalah teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan produk buah dan sayur misalnya. Teknologi apa yang kita tidak punya ? Apa saja kita punya teknologinya karena fakultas-fakultas teknologi pertanian sudah ada di Indonesia lebih dari setengah abad lampau. Tidak terhitung jumlah ahli yang  sangat menguasai subject ini.

 

Tetapi apa yang terjadi ketika petani tomat panen tomat, petani cabe panen cabi, peternak susu memerah susu - dan yang lebih mengerikan adalah pohon-pohon buah di sekitar rumah Anda ? Sekitar 25% sampai 75 % hasil pertanian terbuang sia-sia karena tidak terolah dan dibiarkan membusuk - di tengah hampir satu milyar orang di dunia yang masih lapar.

Teknologi ada, berbagai proses industry canggih terus dikembangkan - tetapi karena fokusnya ke fisik, dia tidak memiliki ruh atau spirit untuk memberi kemaslahan yang luas bagi umat manusia.

 

Maka inilah pentingnya kita hadirkan ruh itu, agar teknologi dan indsutry pada tingkat manapun dapat dimanfaatkan untuk mengatasi problem-problem yang dihadapi oleh umat manusia di tempat keberadaannya dan pada zamannya. Tidak penting lagi apakah teknologi itu kuno atau super mutakhir, yang paling penting adalah kesesuaian dan efektifitas pemanfaatannya untuk mengatasi masalah yang ada.

 

Ambil contoh konkritnya begini, saya tawarkan diri saya pribadi untuk membantu pulau atau daerah paling terpencil sekalipun di Indonesia untuk memajukan daerah tersebut. Apa yang saya bawa ? Yang jelas bukan Industry 1.0 ataupun bahkan 4.0 - karena akan sangat banyak kesulitan untuk sekedar memindahkan benda fisik ke tempat-tempat terpencil tersebut.

 

Yang saya bawa adalah ruh atau jiwa yaitu Industry 0.0 yang memang tidak berbatas ruang dan waktu. Maka saya temui di pulau terpencil tersebut ada kelapa - saya bisa olah menjadi  biodiesel bahkan tanpa perlu membawa satu teknologi tinggi-pun ke daerah tersebut, airnya bisa saya olah menjadi bahan serat berkualitas paling tinggi yaitu nano fiber yang diameternya hanya 100 nano, serat ini terpintal dari nanocellusoe yang diameternya hanya 1 sampai 2 nano saja. Unuk apa serat super kuat dan super kecil ini ? untuk membuat segala peralatan canggih di dunia baik di sektor otomotif , kesehatan, pangan, tekstil sampai antariksa.

 

Lalu di pulau tersebut juga saya temui segala macam buah-buahan, ada sawo, ada kesemek, ada mangga, ada juwet dlsb. Karena diajari Nabi untuk mengeringkan buah, maka buah-pun saya keringkan agar bisa untuk makan penduduk pulau tersebut ketika tidak lagi ada panenan buah, buah  kering bisa juga menjadi minuman lezat  hanya dengan merendamnya.

 

Dan lebih menarik lagi adalah buah bisa difermentasi menjadi cuka - yaitu lauk terbaik - lauknya para nabi sejak sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam - dan bahkan keberkahannya juga didoakan khusus oleh beliau. Beliaupun menjamin tidak ada rumah yang dikatakan miskin bila di rumah ini ada cuka.

 

Anda bisa lihat sekarang bagaimana pulau dan daerah terpencil bisa maju dengan konsep Industry 0.0 ini. Dan saya tentu juga tidak harus mengunjungi pulau -pulau terpencil tersebut satu persatu, karena Industry 0.0 ini ruh atau spirit - dia tidak berbatas ruang dan waktu, buah pikiran saya yang bisa saya pindahkan kapan saja dan kemana saja untuk dimanfaatkan mengatsi masalah yang dihadapi oleh masyarakat di tempat terpencil sekalipun.

 

Tentu pada perkembangannya saya butuh teknologi dari industry maju, pada waktunya bila memang sudah dibutuhkan juga tidak masalah - tetapi dia tidak menjadi keharusan. Berangkat dari pemikiran Industry 0.0 inilah Indolnesia 2045 - yaitu seabad setelah kemerdakaannya - insyaAllah bisa makmur merata sampai ke pelosok-pelosoknya.

 

Bahkan saya sudah buatkan visualisasinya dalam video dokumenter futuristik dengan judul ID45 - Indonesia 2045 dan dapat disaksikan di youtube channel saya iExpo Asia. Karena Industry 0.0 tidak berbatas ruang dan waktu, tidak harus ada pergerakan orang maupun barang - maka di era Pandemi Covid-19 inipun tidak menjadi penghalang untuk kita semua belajar menerapkannya di lingkungan kita masing-masing.

 

Bagi Anda yang pingin lebih detil tahu konsep ini untuk mengatasi masalah di bidang Anda, insyaAllah saya terbuka untuk share dan mendiskusikannya. Agar misi Industry 0.0 untuk menebarkan manfaat dan kesejahteraan bagi seluruh alam bisa tercapai. InsyaAllah.