Pohon (Buah) Industry

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 10 Juli 2020

Pohon (Buah) Industry

 

 

Sebelum pandemi Covid-19 pun data kelaparan dunia itu mencengangkan. Sekitar 11 % atau 820 juta orang di dunia masih undernourished yang konsumsi makanannya belum mencukupi untuk energi harian yang dibutuhkannya untuk aktifitas normal. Yang sudah makan dengan energy cukup-pun masih tidak sedikit yang bermasalah dengan keseimbangan nutrisi.

 

Sampai-sampai WHO hampir dua dasawarsa sudah mengkampanyekan gerakan yang disebut  5 A Day, yaitu lima porsi makanan dari buah dan sayur @ 80 gram setiap hari, atau total 400 gram nuah dan sayur setiap hari. Menurut WHO bila manusia di dunia mengikuti anjurannya untuk makan buah dan sayur ini, penduduk dunia akan terhindar dari berbagai penyakit serius seperti penyakit  jantung, stroke, cancer dlsb.

 

Bagi kita yang berada di Indonesia, anjuran ini seharusnya sangat mudah untuk diterapkan. Pertama buah dan sayur ada di sekitar kita sepanjang waktu dalam setahun - bayangkan negeri-negeri lain yang hanya bisa bercocok tanam seperempat sampai setengah waktu saja dalam setahun.

 

Sepanjang tahun kita selalu ada musim buah. Selain buah seperti pisang misalnya yang tidak mengenal musim, buah-buahan lain juga silih berganti hadir di jalan-jalan dan pasar-pasar tradisional kita - sebelum diserbu oleh buah-buahan impor. Sayur apalagi, relatif tidak mengenal musim - selalu ada sepanjang tahun.

 

Lebih dari itu, mayoritas penduduk negeri ini yang muslim juga belajar dari Al-Qur'an bahwa makanan kita itu satu porsi biji-bijian, empat porsi buah, sayur dan rempah dan satu porsi lagi adalah produk hewan (QS 80 :23-32).

 

Lantas apa masalahnya yang kita hadapi sekarang ? mengapa buah-buahan kita kini justru tidak menjadi tuan di negeri sendiri ? petani buah dan sayur kita bernasib sama dengan mayoritas petani lainnya yaitu tidak kunjung meningkat daya belinya. Generasi mudanya berketergantungan justru pada makanan yang berbahan baku impor dari tepung - yang sebenarnya hanya kita butuhkan satu porsi saja dari enam porsi menu makanan kita, itupun jumlahnya melimpah di sekitar kita.

 

Bahkan ketika kita makan buah-pun bisa jadi buah yang kita makan juga impor, karena pasar kita sudah kebanjiran buah impor ini sejak beberapa tahun lalu. Yang belum  banyak masuk tinggal sayur, karena sifat sayur yang lebih mudah rusak ketimbang buah - sehingga kurang menarik untuk dikirim ke tempat-tempat yang jauh.

 

Mengapa buah kita tidak menjadi tuan di negeri sendiri ? Nyaris tidak ada yang mengkampanyekan untuk makan pisang, mangga, sawo, jeruk lokal, nanas dan berbagai buah lainnya yang melimpah di negeri ini. Bandingkan ini dengan yang mengkampanyekan makanan dari tepung, setiap hari di televisi kita dicekoki dengan berbagai kampanye iklan mereka yang tidak kunjung berhenti selama setengah abad terakhir ini - maka jadilah kita bangsa pemakan tepung dengan berbagai bentuk produk turunannya.

 

Saya bukan anti makan tepung apalagi mengharamkannya - tidak sama sekali, tetapi hanya ingin mengajak agar kita makan sesuai tuntunanNya. Tepung atau produk biji-bijian itu hanya satu dari enam porsi makanan kita, jadi bukan yang utama. Demikian pula produk ternak hanya satu dari enam porsi, juga bukan yang utama.

 

Sebaliknya, buah - sayur dan rempah adalah empat porsi dari enam porsi makanan kita setiap hari. Jadi inilah yang mestinya menjadi fokus dari gerakan ketahanan pangan nasional kita - bertumpu pada buah, sayur dan rempah. Sedangan biji-bijian atau tepung dan produk ternak yang masing-masing hanya perlu satu porsi bisa diisi dari berbagai alternatif  sumber yang ada di sekitar kita.

 

Bila fokus kita untuk pangan berubah ke buah, sayur dan rempah yang sesuai anjuran Al-Qur'an,  beririsan pula dengan kampanye 5 A Day WHO tersebut di atas - maka insyaAllah ekonomi kita juga akan berputar sampai ke desa-desa. Sebagaian besar desa yang ada di Indonesia, pasti punya sumber buah tertentu.

 

Gerakan mengkonsumsi buah dan sayur ini juga akan menjadi peluang lahirnya berbagai industri kecil pengolahan buah dari rumah-ke rumah. Ini penting untuk meningkatkan kegunaan buah dan nilai jualnya, juga penting agar buah dari seluruh nusantara bisa mengisi celah-celah kebutuhan di dalam negeri dan syukur-syukur untuk ekspor.

 

Industri buah-pun juga bukan industri yang padat modal, bisa mulai dari manapun dengan modal berapapun. Bahkan industri buah ini ada dicontohkan langsung oleh uswatun hasanah kita Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam - sampai setidaknya ke tiga level produk turunan dari buah.

 

Ketika ada sagabat yang bertanya diapakan hendaknya anggur (segar) yang dimilikinya, pertama yang beliau anjurkan adalah kismis. Kismis adalah anggur kering yang hanya butuh matahari untuk memprosesnya, kismis bisa langsung dikonsumsi apa adanya ataupun menjadi produk turnan berikutnya.

 

Kismis bisa direndam pagi dan diminum sore menjadi minuman anggur bernutrisi tinggi tetapi bukan alkohol, atau direndam sore diminum pagi hari. Kalau anggur bisa dijadikan kismis dan minuman sehat bernutrisi ini, mengapa tidak dengan mangga, jambu, salak, juwet, nangka, cempedak, durian, pisang dan berbagai buah lainnya yang melimpah di negeri ini ?

 

Lebih jauh dari itu Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam juga mengajari umatnya langsung untuk membuat lauk terbaik dari buah-buahan, lauknya para Nabi sebelum beliau dan lauk yang didoakan khusus keberkahannya oleh beliau - yaitu cuka. Cuka buah adalah produk yang juklak cara membuatnya-pun diajarkan langsung oleh beliau.

 

Maka yang kita butuhkan tinggal, bagaimana kita bisa mengamalkan petunjuk-petunjuk tersebut, yang juga beririsan dengan ilmunya manusia modern tentang keseimbangan makanan kita yang seharusnya. Bersamaan dengan menyehatkan badan ini, insyaAllah kita juga akan menyehatkan ekonomi domestik hingga pelosok-pelosok negeri, asal kita mau makan buah dan sayur berlaukkan cuka - maka  tidak akan ada kemiskinan  dan kelaparan lagi di negeri ini.