No Poverty and Zero Hunger Dengan Satu Ketrampilan Dasar

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 10 Juli 2020

No Poverty and Zero Hunger Dengan Satu Ketrampilan Dasar

 

No Poverty dan Zero Hunger adalah target pertama dan kedua dari 17 goals yang disepakati oleh negara-negara di dunia di bawah PBB. Nampaknya sederhana upaya mengentaskan kemiskinan dan menihilkan kelaparan ini, namun sebelum pandemi global Covid-19 pun dunia baru berani mentargetkan pencapaian tersebut 10 tahun dari sekarang yaitu 2030. Setelah pandemi global Covid-19 ini, entah berapa lama lagi target pencapaian tersebut akan tertunda.

 

Bersyukur kita sebagai umat akhir zaman, kita-pun sesungguhnya dibekali segala macam petunjuk dan contoh untuk mengatasi segala persoalan yang akan kita temui di akhir zaman ini. Sejauh kita mengikuti petunjukNya dan contoh NabiNya - insyaAllah kita tidak akan pernah tersesat selama-lamanya.

 

Masalah kemiskinan dan kelaparan ini begitu pentingnya untuk kita perhatikan, karena bila kita diam saja dalam masalah ini - tidak berbuat apa-apa - sudah cukup bagi Allah untuk menstempel kita sebagai pendusta agama (QS 107:3). Jadi mutlak kita harus berbuat maksimal untuk bisa mengentaskan kemiskinan dan mengatasi kelaparan ini - lebih-lebih ketika dunia sedang dilanda paceklik global akibat pandemi Covid-19 tersebut di atas.

 

Indahnya petunjuk Allah dan contoh dari uswatun hasanah kita itu simple dan doable bagi siapapun yang mau melakukannya. Meskipun sederhana, semakin dinalar semakin masuk akal - dan bahkan Allah-pun menantang kita di sejumlah besar ayat agar kita menggunakan akal dan pikiran kita. Jadi mengikuti petunjukNya dan contoh-contoh NabiNya itu justru menunjukkan kita menggunakan akal dan pikiran kita yang terbuka, yang tidak disetir oleh kooptasi kepentingan global, atau menggunakan bahasa M. Natsir tokoh pemikir umat di awal kemerdekaan negeri ini adalah menggunakan 'Akal Merdeka'.

 

Hanya 'Akal Merdeka' lah yang bise benar-benar memberi solusi tanpa kepentingan kelompok atau golongan, maka 'Akal Merdeka' inilah yang harus kita gunakan untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan itu. Target pencapaian No Poverty dan Zero Hunger masih sepuluh tahun lagi menurut sunia, itu karena begitu banyak kepentingan di dalamnya. Kepentingan program, kepentingan produsen benih global, kepentingan pabrik pupuk, pabrik kimia pertanian, kepentingan perdagangan global, politik dlsb tumplek-bleg mendompleng kata-kata indah No Poverty and Zero Hunger.

 

Bila kita mau menanggalkan seluruh kepentingan tersebut, dan kita rogoh hati kita yang paling dalam - bahwa kita sungguh-sungguh ingin menghilangkan kemiskinan dan kelaparan ini - maka insyaAllah pekan depan-pun kelaparan dan kemiskinan itu akan mulai teratasi. Begitu cepatkah ? Iya memang bisa begitu cepat bila kita menggunakan akal kita dengan bimbingan wahyuNya dan suri tauladan dari NabiNya.

 

Dan untuk ini tidak butuh modal apapun - yang mau insyaAllah pasti bisa - karena hanya perlu belajar satu skills saja - dari itu kita sudah dijamin tidak miskin dan pastinya juga tidak lapar.  Mari kita awali dengan satu keahlian saja, tetapi begitu pentingnya keahlian ini - sampai Nabi sendiri yang mengajarkannya, yaitu membuat lauk para Nabi dan lauk yang keberkahannya didoakan oleh Nabi sendiri :

Dari Ibnu Al-dailami dari ayahnya berkata :" Kami bertanya kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, kami memiliki anggur - apa yang harus kami lakukan dengannya ? Beliau menjawab : 'Buat kismis", Kami bertanya :"Apa yang harus kami lakukan dengan kismis ?", Beliau menjawab : "Rendam (dengan air) pagi hari dan  minum di sore hari, rendam di sore hari dan minum di pagi hari ", Saya bertanya : "Bolehkan saya rendam lebih lama agar lebih kuat  ?" beliau menjawab :"Jangah ditaruh dalam wadah yang terbuat dari tanah (keramik) tetapi taruhlah dalam wadah dari kulit,dia akan bertahan lama, dan berubah menjadi cuka" (Sunan An-Nasai, dan Sunan Abu Dawud dengan narasi yang berbeda).

 

Dan juga hadits yang mengkaitkan cuka ini dengan hilangnya kemiskinan berikut :

 

Dari Ummu Sa'd berkata : " Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memasuki rumah Aisyah ketika saya sedang bersamanya, dan bertanya : " Adakah makanan ?", dia menjawab : " kami punya roti, kurma dan cuka", Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam berkata " Betapa berkahinya lauk dari cuka, Ya Allah berkahilah cuka karena dia adalah lauk-pauk para Nabi sebelumku, dan tidak akan pernah  ada rumah yang menjadi miskin yang di dalamnya ada cuka" (Sunan Ibnu Majah)

 

Sepintas rasanya akal kita akan berpikir tidak mungkin kemiskinan itu akan hilang dengan cuka. Tetapi sekali lagi gunakan akal dan pikiran kita sedalam-dalamnya sambil memohon petunjukNya (mengingatNya) - sampai kita ketemu '...Ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia..." (QS 3 :190-191), saat itulah kita insyaallah mencapai derajat ulul albab yang menguasai inti persoalan, dalam hal ini adalah inti persoalan kemiskinan dan kelaparan.

 

Nah bagaimana kita memahami petunjukNya dan contoh NabiNya bahwa dengan cuka kita bisa mengatasi kelaparan dan kemiskinan ? begini penalarannya.

 

Cuka yang merupakan lauk para Nabi dan cara pembuatannya diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada umatnya dalam hadits tersebut di atas - memang bisa dibuktikan efektifitasnya dalam membantu pencernaan makanan kita. Makanan apapun bisa dimakan bersama cuka ini, bila mengikuti kebiasaan orang modern sekarang makan salad misalnya dengan dressing Vinaigrette - intinya ini cuka campur minyak, inipun jadi menu Nabi sehari-hari terutana di sore hari. Begitu juga dengan Mayonnaise - intinya cuka dan minyak yang diberi emulsfier agar terjadi emulsi permanen.

 

Jadi makan berlauk cuka sejatinya ada sejak Nabi-nabi terdahulu hingga jaman paling modern ini sekalipun. Kalau lauk kita cuka, maka segala sayur dan buah-buahan yang ada di sekitar kita menjadi makanan yang lezat dan sehat bahkan tanpa dimasak sekalipun. Bila makanan bisa diproduksi di lingkungan kita sendiri - tanpa didatangkan dari negeri yang jauh - maka aktifitas produksi dan konsumsi di satu wilayah inilah yang memutar ekonomi.

 

Ingat formulasi ekonomi dasar GDP = C+I+G+(X-M) dimana C=Consumption, I= Investment, G=Government Expenditure, X = Export dan M = Impor. Anda bisa lihat dari formulasi dasar tersebut bahwa tanpa investasi dan belanja pemerintah-pun ekonomi suatu negara atau daerah akan tinggi bila tidak ada pengurangnya - atau minim pengurang yaitu M atau Impor.

 

Bila GDP tinggi maka rata-rata penduduk suatu negara atau daerah menjadi berpenghasilan tinggi atau makmur. Sebaliknya bila unsur M yang dominan, yaitu kita mengimpor begitu banyak bahan makanan kita, maka GDP kita tergerogoti oleh impor. Bila GDP rendah, rata-rata penduduk akan berpendapatan rendah alias miskin. Singkatnya setiap sen  konsumsi impor itu akan memiskinkan kita bila tidak dimbangi dengan produksi yang melebihinya untuk diekspor.

 

Agar kita tidak lagi mengkonsumsi bahan pangan impor tetapi mengkonsumsi produk kita sendiri, atau produk tetangga kita atau produk petani di daerah kita - maka kita butuh lauk serbaguna dan lauknya para Nabi tersebut di atas.

 

Dahulu ketika seorang sahabat mendengar tentang cuka dari Nabi, serta-merta sahabat tersebut mencintai cuka, begitu sahabat lain mendengar dari sahabatnya yang sudah mencintai cuka ini - maka serta-merta pula dia mencintai cuka. Begitu seterusnya segingga cuka digemari di seluruh generasi sahabat dan sesudahnya - bahkan bangsa barat ikut-ikutan mencintainya hingga kini mellui Spanyol (Andalusia) ke Perancis dst.

 

Nah saya ceritakan berulang-ulang cuka ini melalui serangkaian tulisan saya, agar Anda juga mencintai cuka dan dengan itulah kemiskinan dan kelaparan mulai kita angkat minggu depan. Mengapa minggu depan ?, karena begitu Anda membaca tulisan ini dan langsung membuat cuka Anda sendiri, insyaAllah Anda sudah menikmati cuka buatan sendiri minggu depan. Bila ini Anda tularkan ke siapapun yang Anda kenal - maka dari sanalah kita bisa mengangkat kemiskinan dan kelaparan itu.

 

Nah bagaimana membuat cukanya sendiri ? Anda bisa ikuti sesuai petunjuk Nabi dalam hadits tersebut di atas, namun kemungkinannya Anda tidak memiliki tempat dari kulit. Maka berukut adalah langkah sederhana membuat cuka dengan peralatan dapur zaman ini.

 

1) Potong kecil-kecil buah apapun yang Anda sukai,  yang enak rasa dan aromanya umumnya akan Anda sukai ketika menjadi cuka.

2) Sterilkan botol jar (bekas jam) atau bahan dari kaca apapun yang bermulut lebar. Sterilisasi ini sederhananya direbus pakai air panas.

3) Masukkan irisan buah tersebut sampai setengah jar kurang lebih dan masukkan air sampai menutupi seluruh irisan buah, bila perlu diberi pemberat di atasnya agar seluruh buah terendam.

4) Bila Anda punya starter tambahkan starter  secukupnya - yaitu cuka yang alami tanpa dipasteurisasi dan tanpa disaring- atau kalau beli di marketplace cuka yang ada Mother-nya, atau bisa langsung beli Acetobacter aceti - yaitu bakteri utama yang akan memproduksi asam asetat.

5) Bila Anda tidak memiliki starter-pun juga tidak apa - karena Acetobacter aceti ini melimpah di alam, hanya proses awalnya akan sedikit lambat saja.

6) Yang krusial dan mutlak harus benar adalah penutup botol atau jar yang Anda gunakan, harus dari kain atau kertas sehingga udara tetap bisa bersirkulasi dengan bebas sampai menyentuh permukaan larutan yang ada di dalam botol jar Anda. Ini yang membedakan agar fermentasi Anda menghasilkan cuka, dan bukan Alkohol.

7) Simpan botol fermentasi Anda di ruang gelap dan hangat - tidak perlu pemanas ruangan karena rata-rata ruangan rumah kita sudah hangat bila tanpa AC.

8) Setelah beberapa hari akan muncul lapisan putih di atas larutan buah Anda, aroma asem cuka mulai muncul, Anda bisa peras potongan-potongan buah bersama airnya - dan saring. Kemudian tutup dan simpan kembali dengan penutup kain atau kertas seperti semula.

9) Beberapa hari kemudian setelah aroma segar cuka seperti yang Anda kehendaki, Anda bisa saring sekali lagi bila mau, atau tanpa disaring juga tidak apa - sekarang tutup rapat dengan tutup botol atau jar aslinya tetapi simpan di lemari pendingin. Agar proses fermentasi cuka tidak terus berlanjut.

10) Dengan proses tersebut insyaAllah cuka Anda halal dan menjadu lauk yang keberkahannya didoakan oleh Nabi. Namun bila Anda ragu, bisa juga dilakukan serangkaian tes untuk mengetahui bahwa yang Anda hasilkan adalah cuka dan bukan alkohol. Yang sederhana tes pH dengan kertas pH, cuka akan menunjukkan pH di kisaran 2.5 sampau 4. Sedangkan alkohol memiliki pH di atas 7. Cara lain yang lebih ilmiah dan njlimet bisa menggunakan titrasi untuk mengetahui kalau -kalau ada kadar alkohol yang tersisa. Tanpa tes inipun sejauh prosesnya benar insyaAllah yang Anda hasilkan adalah cuka, karena keberadaan Acetobacter aceti tersebut akan menghabiskan alkohol yang timbul dalam proses fermentasi buah menjadi cuka.

 

Setelah cuka Anda jadi, Anda bisa langsung gunakan sebagai lauk atau dicampur minyak kelapa, minyak zaitun dlsb menjadi Vinaigrette misalnya, setelah itu cintailah cuka Anda dan ceritakan ke orang lain. Orang-orang yang mencintai cuka setelah mendengar riwayatnya sampai Nabi ini, insyaAllah akan bebas dari kemiskinan dan juga kelaparan sesuai jaminan Nabi pada hadits tersebut di atas. InsyaAllah.